Pages

Jumat, 27 Juli 2012

Matamu dan Kebodohanku


Kediri, 26 Juli 2012

Ah, sapa sangka perjalanan ke Trenggalek hari ini harus berakhir dengan tragedi kecil ketika seekor belalang menghantam mata kirimu.

Merah. Bengkak. Lebam. Berair.

Benar-benar tidak tega melihat matamu seperti itu. Andai bisa ku ganti, mungkin lebih baik aku yang terluka. Melihatmu tergeletak di POM Bensin Pogalan saat itu benar – benar menguras batinku. Sedih. Sangat sedih.
POM Bensin Trenggalek


Keputusan yang diambil untuk balik ke kota Kediri, siang itu juga. Menelusuri jalanan di pinggiran kota dengan sebuah tangan menutup matamu. Entahlah, aku jadi bisu. Tak tahu harus ngomong apa.

Sesampai di Kediri (base camp Trimbel (Argonic’s)).
Kamu langsung tergeletak dengan emosi yang lebih di ambang batas sabarmu. Marah – marah kepadaku dan sering marah – marah.
Jujur, saat itu aku sedih. Aku nangis dan aku kecewa pada diriku sendiri yang tak pecus membantu mengurangi beban sakitmu.
Air mataku meluncur dan membentuk aliran di pipiku. Ah, seandainya kamu tahu. Aku benar – benar merasa tidak berguna, sedikit egoku berkata bahwa aku tidak mau marah – marahi terus. Kau masih ingatkan ceritaku tentang Yohanes yang selalu memarahiku terus – terusan, sebenarnya aku masih trauma saat orang – orang marah padaku. Tapi ku tekan egoku, kulihat kondisimu. 
Aku tak pantas sakit hati saat itu.

Perjalanan berlanjut menuju Surabaya pukul 21.30 WIB dari Kelurahan Tamanan, Kediri. Kau tidak mampu memboncengku. Ya sudahlah aku yang di depan.
G tahu kenapa aku kurang begitu konsentrasi, kepikiran kamu dan rasa kantuk yang menyerangku serta kedinginan.

Ma’af...
Atas semuanya. 

Selasa, 24 Juli 2012

Kota Kecilku

Pagi, 23 Juli 2012

Gowes gowes ria dengan tujuan kantor pos. Bersama saya...

rista wulandari


dan
phoenix biru


Menelusuri jalan kecamatan Panggul

TK Pertiwi Gayam sekarang jadi TK N Pembina (TK gue dulu)

SMP Gue nih...
 



jalan setapak belakang SMP N 1 Panggul

Belakang SMP, dulu sering dipakai untuk pelantikan penggalang
 (pas kelas VII D, kelasku yang paling pojokan tuh)

Jembatan tempat nongkrong pas bolos ekskul tari
(sayang banget penuh sampah, ikan-ikannya apa masih ada ya....)

Sebelah barat SMP N 1 Panggul

jembatan barat SMP


Kantor Polisi

Kolam Renang
(sekarang Panggul ada kolam renangnya loh...)

Tujuan Utama neh
KANTOR POS

Arah pulang (ke kiri)


Pertigaan Ngloji

Puskesmas Panggul

Kantor Kecamatan


Pendopo
(bahasa kerennya : alun - alun)


Konservasi Penyu di Taman Kili - Kili
(amazing... wow)

padahal aku dulu suerrrriiing nongkrong di situ,
enggak tahunya sekarang jadi kawasan konsenvasi

Semakin ke utara dari kantor kecamatan
gedung serba guna

kalau wage, jadi pasar kelapa
(dulu di jamanku dipake lesehan buat Latihan Gabungan Ambalan)

asrinya Lapangan Bola
(pinggir sawah, bawah gunung)
Ke Utara Dikit
































Rabu, 18 Juli 2012

SANDAL JEPIT


HUHHHHHHH!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

BETEEEEE....................

SANDAL JEPIT, AKU KANGEEEEEN KAMU

^_^

Selasa, 17 Juli 2012

Nostal GiLaaaaaaaaa!!!!!!!!!!



Sumpah, hari ini aku cuma pingin nulis. Ga tahu harus nulis apa aja. Tiba - tiba kebayang adek n bapak di desa, kebayang jaman huru - hara pas SMA, kebayang mantan juga, tapi yang jelas kebayang pacar yang seharian ga ada kabarnya. Ah, jika udah kaya gini, semua serba uring-uringan.


Kenangan - kenangan berjalan satu persatu. Flashback dan bahasa kerennya "GALAU". Manusia - manusia yang pernah nongol di kehidupanku bernostalgia dalam kepala. Manis, asem, asin. Nano - nano sampai pingin mewek. Hehehehe.
Sialnya lagi, kenapa harus keinget jaman SD yang masih suka nyolong mangga di kantor desa. Jaman waktu muda dulu. Terus waktu lari - lari di pematang sawah, suka adu jangkrik, berlarian di hutan belakang rumah, sok - sokan berpetualang kaya Sherina, mengejar layangan putus di tengah siang, bakar - bakar biji jambu mede sampe bikin orang - orang satu RT g bisa tidur gara - gara batuk. Apalagi saat nangis di tinggal di hutan bambu bawah kuburan sama 2 orang cecunguk, Tofa & Deny.


Kalau keingat si Henika Umi Alfiah (Hen (english) = ayam betina, Ika (jawa) = satu, Umi (arab) = Ibu, Alfiah (hehehe, lupa bahasa mana) = yang baik), jadi Henika Umi Alfiah = ayam betina satu ibu yang baik.Tapi bener - bener g baik saat tahun baru ngasih kado kulit duren, hahahaha dan sangat tidak baik saat memaksa badanku yang mungil ini manjat jendela kamarnya yang sempit untuk bermain detektif conan. Sialnya, dia jadi sohibku sampe sekarang. Benar - benar sahabat dari masih jaman ingusan (baca : kelas 1 SD) sampai sekarang. 
Awet bener. Dan selalu beride gila dengan pernak pernik ala majalah bobo. Kawan paling asik saat bolos les tambahan jaman SMP, menjelajahi semak - semak di hamparan kali tengah sawah, bersepeda ria berkilo - kilo, bolos ekskul tari demi ngasih makan ikan - ikan di kali belakang sekolah dan berkabur ria saat di kejar - kejar petugas perpustakaan SMP N 1 Panggul. Ah, persahabatanku dengan ayam betina ini akhirnya teputus jarak karena dia harus pergi ke Surabaya. Tapi, no problem, sekarang aku dan dia sama - sama di kota ini.



Tiba - tiba, keingat si Ucil alias Deny. Teman kecilku yang ninggalin aku di hutan bambu bawah kuburan. Pasangan kecilku yang membuatku sampai sekarang di panggil PRETY, itu loh pacarnya Ucil di TUYUL dan MBAK YUL. Tapi sayangnya, ini cuma berlaku saat SD. Selulus SD, enggak tahu kenapa aku jadi super jutek ama dia. Mungkin ababil kaleee, ABG labil.


Cinta pertamaku, alias cinta monyetku dulu akibat sesuatu terjadi di rumah. Benar- benar bak pangeran berkuda putih di tengah porak porandanya rumah. Yang begitu telaten momong bocah ngambekan kek aku n adekku. Yang ngenalin dunia sihir "Harry Potter". Tapi benar - benar teman yang asik buat berantem (baca : rebutan remote tipi). Tapi sayang banget, semenjak dia masuk SMA dia berubah kek power ranger. Sombong dan kereeeeen. Seniorku waktu SMP - SMA. Dewan Ambalan yang ngajak persami. Hebatnya lagi, perasaanku pada kakak senior ini  bisa bertahan pada dia sampai 7 tahun. Semenjak dia pacaran n pacarnya itu teteh aku, teteh - tetehan dari Bandung. Sorry, aku udah g mau cinta lagi ama dia. Sakiiiiiit dan mending dilupain.
Aseeek kan ^^. Meweeeekkk  (T.T)


Selain, punya sahabat kecil (alias si ayam betina). Aku juga punya sahabat mulai akrab di semester akhir kelas X D SMA N 1 Panggul. Tereeeetetett. Namanya adalah Binti Asfiah & Binti Kurniatin n sampe sekarang kami punya akun facebook sendiri yang dikasih nama ”TABIBI” (rista, binti, binti). Sebenarnya dulu kita selalu berempat. Tambah 1 bocah labil lagi bernama Sulistiani. Dan gara - gara something. Akhirnya  tinggal 3 kurcaci itu yang nguasi sekolah. Gue n friends. Idiiiihh. Dulu, aku juga pernah berantem ria ama BF - ku ini gara - gara tingkat keegoisanku yang masih di atas rata - rata. Soalnya si Bias abis ujian sekolah maksa buat pulang ke Depok, yang nota bene pengunungan yang punya puncak tertinggi di kota ku. Gunung Wijil. Kan sebagai anak manusia yang baik hati, masa aku tega ngebiarin temanku jalan sendirian di tengah hutan, hujan - hujan lagi. Jadi karena udah janjian ama 2 orang temanku buat nemenin Bias pulang. Eh, secara dadakan, pendakian gradakan itu cancel. Alhasil, aku marah - marah seharian dan langsung ke pantai buat nangis. Alasannya, takut aku ntar sakit lah, hujan deras lah, apa lah. Kalian g kasian apa si Bias jalan sendirian.
Saking marahnya, aku g mau ngangkat telpon, bales sms. Sampai dibela-belain ama si Sulis & Binti K hujan-hujanan ke rumah. Nangis - nangis minta maaf, tapi karena aku kurang aja ya enggak aku maafin. weeekk.
hohohohoho. Dengan kepala yang panas, aku usir 2 orang kurcaca itu pergi. Pake gaya gini.
"Ngapain lo ke sini, udah lo keluar aja dari rumah gue. Gue benci ama orang yang g konsisten. Ngomong tok."
keren kan bahasa gue, campuran jawa medhok lagi. Hahahaha.
Tapi sumpah, setelah mereka pergi, aku ngerasa nyesel banget. Apalagi waktu adekku ngomong, 2 orang cecunguk tadi jatuh dari motor gara - gara kebanyakan nangis.
Jadi deh, aku susulin ke rumah Binti K pake sepeda pancal. Waktu itu hujan lebaaaaaaat banget. Payungan juga bakalan basah. Sampe di sana kita pelukan deh. Maaf - maafan n sohiban sampe sekarang.


Cerita jaman masih mudaaaaa......

Jumat, 13 Juli 2012

Hati - hati ya :)


Ku baca sms itu lagi.

“Anterin ea, eank.”

Walau pun cape tubuh ini, rasanya sudah melayang ke udara. Hahaha. Aku bisa ketemu dia.
Walau pun hampir setiap minggu bertemu tapi rasa kangen ini tak pernah bisa hilang. Menatap lentik bulu matanya selalu membuatku melupakan bahwa kaum adam di bumi ini masih banyak.
Benar-benar membuatku selalu sayang dan semoga tak kan pernah berhenti.

Ku sandarkan kepalaku di bahunya sambil mengaduk-aduk segelas caffucino panas di warung kopi lesehan di depan POM Bensin Ngagel. Aku selalu suka saat-saat seperti ini.

Mendengarkan celotehnya.
Menatap matanya.
Menyandarkan kepala di bahunya.
Bermain di sela-sela jemari tangannya.
Walau kadang omongannya tergolong kasar, aku benar-benar menikmati saat dia tertawa di sampingku.

Setidaknya dia benar-benar berbeda dengan omongan mulut di luar sana.
Sebuah kecupan manis di keningku membuatku merasakan aliran hangat sampai ke hati. Rasa ini ku berharap selamanya.

Ku teguk caffucinoku. Hahahaha. Tidak ku sangka, dia sekarang sudah hafal dengan kesukaanku tanpa harus aku beri tahu. Ku pakai carrier miliknya yang akan dipakai ke Semeru, sedangkan dia memboncengku.
Mataku terpejam. Perasaan tenang itu menghampiri dan mebiusku.


Carrier merah itu, Matic Beat hitam, aspal jalanan, angin jalanan, deretan pohon, dan lalu lalang manusia di atas karpet hitam aspalan menjadi saksi do’aku.
Laju motor berhenti di depan Unair. Dia menelpon temannya yang sama-sama berangkat ke Semeru. Tak lama kemudian, sebuah motor dengan 2 orang pengendara datang menghampiri. Singkat ceritanya, dua orang ini mau berangkat ke Semeru, hanya saja tidak ada dana tapi harus berangkat. Rapat jalanan yang terdiri dari 6 orang itu akhirnya berakhir. Hehehe. Kemudian ke rumah Mas Tony untuk prepare.


Ku sendok bulir-bulir nasi goreng sepiring berdua dengannya. Sesuap demi sesuap nasi mulai masuk ke mulutku. Hehehe. Aku berharap moment ini berhenti. Waktu berlalu begitu cepatnya, sampai sebuah tangan terulur untuk ku cium. Tangannya.

“Hati-hati, ya.”
Sebuah senyum sebagai jawabannya.




I Love U, my sweety jangkriex

Rabu, 11 Juli 2012

Senyum Semangat


Tidak ku sangka, obrolan terakhir denganmu via telepon akan menjadi semangatku.
“Mau jemput ta?”
“Iya, tapi ngecamp di kokopan ya?”
“Bener?”
“Bener kok, asal ngecamp ya?”
“Hahahaha, udah dulu ya?”
“Hati-hati ya, Assalamu ‘alaikum.”
“Wangalaikum salam.”

 Tut tut tut. Telepon terputus

3.156 Mdpl


Perjalanan turun dari pondokan yang disertai hujan dan kabut memaksaku dan teman-teman harus berhenti di gubuk kecil atas kokopan. 1 jam lebih, kami berteduh dan ditemani kawan-kawan baru dari Sengkaling yang berbaik hati membuatkan energen.
Kantuk perlahan mulai menyergapku, ku geletakkan kepalaku di atas carier. Dan mulai mengarungi samudra mimpi di bawah kepungan kabut dan guyuran hujan.

Pukul 15.50 WIB
Aku terbangun dan dengan jumlah teman-teman yang lengkap. Hujan pun telah berubah jadi gerimis. Kami bersiap-siap turun kembali.
Terseok-seok langkah kakiku menuju Pet Bocor di bawah jas hujan. Dingin sudah tak berasa lagi. Entah kenapa, sampai Pet Bocor 2, kakiku sudah enggan melangkah.

Viper dan Kak Badak sudah berjalan duluan karena viper sudah tidak kuat menahan pipis. Sedangkan aku di belakang bersama Kak Orong-orong yang kondisinya sudah drop karena kakinya seakan sudah tidak kuat menopang tubuhnya.

Pikiranku berlari. Percakapan telepon dengan Mas Gundul bermain dalam memory.
“Ayo Ta! Ayo Kak! Kita harus sampai bawah” ucapku menyemangati. Tak sadar jalanan aspalan itu membuatku jatuh terpeleset. Aduh sakitnya, aku meringis menahan tangis tapi air mataku merembes keluar. Ku coba berdiri. Duhai, sakitnya. Aku harus kuat berdiri lagi.

Perlahan, ku seret kakiku yang hanya menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Yang kupikirkan, aku harus bisa jalan tanpa menyusahkan Kak Orong-orong yang sudah kepayahan. Saat itu yang muncul di kepalaku hanya :

Sebuah senyum yang menyambutku di pos perijinan dengan menawarkan teh anget manis. Senyum milik Mas Gundul atau Mas Wisnu atau Mas Zaenal Arifin.

Dia pasti nunggu di bawah. Padahal aku tahu, dia tak akan ada di bawah tapi aku memaksa otakku agar yakin dia ada di bawah.

Semangatku memuncak.
“Kak Orong-orong, bagaimana kalau kita balapan lari sampai bawah, hahaha..”
“Kamu ngawur, Dek. Kakiku udah g kuat menopang tubuh malah diajak lari, nanti kalau malah jatuh gimana?”
“hahahaha...”
Aku tertawa.
“Kak Orong, bayangin aja kita ini sebagai pejuang terakhir yang masih ada di dalam hutan. Sedangkan orang-orang sudah mengira kita ini mati di medan perang. Kemudian kita datang di titik akhir dengan keadaan gak karu-karuan, compang camping, basah kuyup dan setengah hidup. Lihatlah Kak, orang-orang pasti akan menyambut kita dengan genderang. Kereeeeen kan, Kak!”

Kak Orong-orong tersenyum, aku tertawa. Pos Perijinan sudah di depan mata.
Dan dia, tidak menungguku di Pos Perijinan tapi dia selalu aku bawa di hatiku.

Terima kasih untuk senyummu yang menyemangatiku.
Love u, Wisnu

Selasa, 10 Juli 2012

Pernahkah Kau Menoleh ?


Hari ini aku terisolasi
Terbunuh lewat rangkaian kata sadis menghujam dari manisnya mulutmu, sayang
Menelanjangi tubuhku lewat tusukan kejam matamu

Pernahkan kau menoleh, sayang...
Aku terluka, tercabik oleh hempasan badai
Yang menyeret langkah kakiku
Yang tertusuk tajamnya makadam batu kali

Pedulikah sayangku...
Saat aku berlari mencari sepi di rimbunnya belantara
Dan kabur dari “belantaramu yang lain”
Yang berisik oleh rongsokan mengkilatnya cat
Memadati dan membumbungkan asap pekat
Duhai sesaknya, cintaku...

Biarlah malam ini ku meringkuk dalam belaian kabut
Tanpa kau yang berdiri dalam congkaknya dunia