Pages

Sabtu, 09 Februari 2013

Kedua Mata Garuda


Deru knalpot motor mengguncangkan Surabaya. Jalanan penuh lautan manusia berwarna hijau. Kemacetan jalan sudah bisa diprediksi. Persebaya dan boneknya. Keduanya adalah ikon Surabaya selain patung suro dan boyo.
Seperti tahun – tahun yang lalu, jika musuh lapangan mereka tampil di kota pahlawan maka dipastikan ruas – ruas jalan penuh dengan supporter fanatic klub sepak bola milik kota itu. Bising, penuh polusi dan terkesan ugal – ugalan.

“Kon budal disik ae. Engkok aku tak nyusul nang Gelora Bung Tomo.”
“Nangdi kon?”
“Sik jemput ibuku.”
“Yon gene iki, Bonek sing anak mami.”
“Jancok, Kon!”

Pemuda berusia 20 tahun itu meninggalkan kerumunan temannya. Dengan motor pretelan dan knalpot blong – blongannya dia membelah jalan macet Surabaya. Tak lama kemudian, handphone berdering. Sebuah nama muncul. Ibu.

“Iya, Bu. Bentar lagi sampai kok. Macet ni.”

Cuma satu kalimat itu yang keluar dari bibirnya kemudian melanjutkan perjalanannya. Di depannya sebuah truk besar berplat N. Plat dari kota musuh bebuyutan Bonek. Tiba – tiba truk besar itu mendadak berhenti di tengah jembatan yang agak sepi. Melihat truk yang tiba – tiba berhenti di depannya, otomatis dia langsung berhenti. Dan turun dari motornya.

Dari dalam truk muncul seorang pemuda kurus. Lebih kurus dari pemuda yang menaiki motor. Matanya penuh dendam.

“Bonek anjing!! Mati kamu!”

Perkelahian tak dapat dihindari. Jembatan itu menjadi medan laga dari dua supporter dua klub sepak bola besar di Indonesia. Baku hantam membuat keduanya tak peduli dengan suasana jembatan yang makin ramai. Pemuda bermotor itu kalah lihai dan kalah teknik. Dia ambruk. Dengan sekali lemparan, pemuda bermotor itu melayang terjun ke dalam sungai. Dan truk itu kembali melaju kencang.

***

Tubuh itu hanyut. Dan terus hanyut. Mengalir mengikuti arus.

***
“Ibu! Ibu!”
Ada apa Rif?”
“Mayat, Bu! Ada mayat hanyut!”

Perempuan tua itu berlari ke sungai. Sesosok mayat tersangkut di antara kaki – kaki WC yang mengapung di atas sungai. Tangan renta mencoba menjangkau dan diseretnya tubuh pucat itu ke pinggir sungai. Tangan itu kembali sibuk mencari sisa kehidupan di tubuh mayat itu. Ada senyut nadi walau pun teramat lemah dan nyaris tak terasa.

“Hidup, Le. Dia bukan mayat.”
“Syukurlah, Bu. Ayo dibawa pulang. Kasihan, Bu.”

Dengan susah payah, ibu dan anak itu mengangkat tubuh pemuda itu ke dalam gubuk mereka. Memang tak layak dibilang rumah karena luasnya hanya sepetak dengan ukuran 4 x 5 m yang dibagi menjadi 3 ruangan. Dua kamar tidur dan sebuah ruang tamu sekaligus dapur.

“Biar dia berbaring di kamar Arif aja, Bu. Sekalian biar Arif yang gantikan bajunya. Tadi Arif dikasih baju orang tapi kegedean banget.”

“Ya udah, nanti ibu bikinkah teh anget. Siapa tahu dia sebentar lagi sadar.”

Setelah sampai di kamar Arif, pemuda itu langsung digantikan bajunya. Sebuah kaos panjang hitam dengan bawahan sarung sudah melekat di tubuh pemuda itu.

“Ibu, Mas itu kok bisa hanyut ya?”
“G tahu, Le. Mungkin dia mancing terus kepleset.”
“Kasihan ya, Bu. Untung masih hidup.”
“Kamu jagain dia, Le. Siapa tahu dia sadar. Ibu udah masak sama buat teh angetnya. Nanti kalau sadar kamu urusin dia ya. Ibu mau ke pasar jual sayur.”

***
Suara batuk - batuk muncul dari kamar Arif. Tak lama kemudian, terdengar seperti orang  muntah. Arif segera berlari ke kamarnya. Pemuda itu sudah sadar. Dari mulutnya keluar air sungai yang tertelan saat hanyut. Mata pemuda kurus itu mengawasi Arif. Ingatannya belum kembali sepenuhnya. Dia kebingungan.

"Mas bingung ya? Ini rumah Arif. Saya menemukan Mas saat hanyut di sungai."

Terakhir yang diingatnya adalah perkelahiannya dengan penumpang truk. Dan kemudian dia tak ingat sama sekali.

"Diminum dulu tehnya, Mas. Perut Mas kayanya perlu diisi."
"Terima kasih, tapi ini di mana?"
"Di rumah saya. Masih Surabaya kok. Mas ini orang Surabaya kan?"
"Iya, hari ini hari apa?"
"Jum'at, Mas."

Kamis siang dia mau menjemput ibunya sebelum ikut mendukung Persebaya. Berarti dia sudah satu hari menghilang. Pasti ibunya sangat kawatir.

"Aku mau pulang."
"Mas, boleh pulang kok, asal Mas sudah kuat buat pulang. Oh, saya Arif. Masnya namanya siapa?"
"Deka. Aku Deka. Kamu masih sekolah?"
"Ya, masih lah, Mas. Aku masih kelas 2 SMP."
"Sekolah dimana?"

Arif menyebutkan salah satu sekolah RSBI di Surabaya. Mata Deka terbelalak kaget. Bagaimana bocah pinggir sungai yang dekil ini bisa menembus SMP yang menjadi incaran banyak orang. Arif kemudian menceritakan bagaimana perjuangannya melanjutkan SMP dan mendapatkan beasiswa di SMP itu. Deka semakin tak percaya, bocah SMP di depannya ini jauh lebih berprestasi dari pada dia yang kuliahnya masih sering ditinggal - tinggal.

"Kamu tinggal sama siapa, Rif?"
"Ibu, Mas. Kami berkebun sayur di pinggir sungai."
"Bapak kamu?"
"Bapak udah wafat, Mas. Dia wafat saat mendukung salah satu klub sepak bola."
"Sori, Rif!"
"G papa. La wong itu kenyataan kok."

Arif tersenyum. Tak terlintas kesedihan di matanya. Perut Deka berbunyi nyaring. Genderang protes dari penghuni perut sudah muncul. Dia meringis menahan lapar. Mau makan dimana dan makan apa dia bingung.

"Makan dulu, ya. Saya ambilkan."

Bocah itu berlalu meninggalkannya. Terdengar suara piring dan sendok beradu di depan kamar. Tak lama, dia muncul dengan sepiring nasi putih, oseng kangkung dan tempe goreng.

"Kami hanya punya ini. Mungkin beda dengan masakan di rumah Mas."

Deka menerima piring itu dengan senang. Dia makan begitu lahap. Makanan sederhana itu terasa sangat mewah dan enak di mulutnya. Selang beberapa menit, piring itu sudah kosong. Tak ada satu pun nasi yang tersisa.

"Mau nambah?"

Deka menggeleng pelan. Diteguknya sisa teh yang sudah mendingin. Arif begitu tulus. Dia sudah menyelamatkan nyawanya dan sekarang pun dia masih merepotkan Arif dan ibunya.

"Mas, istirahat dulu. Saya mau mancing. Siapa tahu kita bisa makan enak malam ini."
"Boleh ikut, Rif?"
"Mas, istirahat saja. Kayanya tubuhnya masih lemas."
"G papa, saya kuat kok!"

Deka mengikat sarungnya. Dan menuruni dipan reot tempatnya terbaring. Kemudian pelan - pelan dia mencoba berdiri. Kepalanya memang agak pusing. Tapi dia berusaha berdiri. Arif tampaknya sudah menunggunya di depan rumah. Deka berjalan keluar dengan menatap setiap detik rumah itu. Hatinya miris. Rumah itu dari tripek. Jika ada angin kencang dipastikan rumah itu bakal ambruk.

Halaman rumah tripek itu bersih. Sepetak tanah kecil itu dipagari dengan bunga - bunga warna - warni. Rumputnya yang hijau seperti permadani. Sebuah tiang bambu berdiri tegap dengan selembar kain bendera yang berkibar gagah. Merah putih.

Bagaimana mungkin rumah reot pinggiran sungai itu begitu nasionalisme. Deka termenung. Bahkan dalam setahun, dia hanya akan mengibarkan bendera saat ada perintah dari ibunya untuk mengibarkan sang saka. Dan itu pun terjadi saat 17 Agustus.

"Yuk! Turun, Mas!"
"Kita mancing di bawah pohon itu saja."

Deka beranjak turun ke pinggir sungai. Arif sudah duduk dengan sebuah buku. Kelihatannya perpaduan membaca dan memancing itu asyik bagi Arif. Deka membawa sebuah kresek hitam sebagai alas duduknya.

"Kenapa kamu hari ini g sekolah, Rif?"
"Jagain Mas. Ibu kan harus ke pasar."
"Maaf, ya..."
"G apa, Mas. Mas kok bisa hanyut sih?"
"Aku berkelahi, rif. Terus jatuh ke sungai."
"Wah!! Untung Mas selamat."
"Rif, boleh minta ijin g?"
"Kaya sekolah saja minta ijin segala."
"Saya boleh g tinggal di sini beberapa hari lagi."
"Boleh, Mas. Saya senang punya teman. Eh, salah, punya kakak kaya Mas Deka."

bersambung...

Kamis, 07 Februari 2013

11 Tahun



Jeruji besinya masih kokoh. Tak ada tanda tergeser sesenti pun. Di depan jeruji itu berdiri seorang anak laki – laki kurus dengan tanah penuh luka lecet – lecet. Dengan tenaga kecilnya, dia mati – matian mendorong teralis besi.

Dari balkon rumah muncul seorang perempuan kecil. Mungkin dia berusia dua tahun lebih muda dari anak laki – laki yang berada di depan teralis. Mata kedua anak itu bertatapan. Ada rasa iba dari anak perempuan itu kepada anak laki – laki di depan teralis. Kemudian dengan cepat dia lari turun menghampiri anak laki – laki kurus itu.

“Kakak... Kakak kenapa ke sini?”
“Nita, Kak Angga kangen kamu. Tadi aku lihat Nyonya dan Tuan itu meninggalkan rumah ini. Kakak Cuma ingin bertemu kamu.”
“Nanti kalau Kak Angga dipukulin lagi gimana?”
“Kak Angga memang gembel, Dek. Tapi Kakak Cuma mau tahu keadaan kamu. Kamu baik – baik saja?”
“Nita baik kok. Kak Angga udah makan?”

Angga menggeleng. Dua hari ini dia hanya makan nasi sisa – sisa yang terbuang di tempat sampah. Uang hasil jualan korannya selalu dipalak preman lampu merah tempat dia jualan koran. Untuk pindah ke lampu merah yang lain berarti dia harus siap adu pukul dengan anak yang merasa punya lampu merah itu. Jalanan memang keras. Dan dia harus siap mati di jalanan.

Nita memandang kakaknya. Air matanya mengalir deras. Dia dan Angga memang tak bernasib sama. Dia dipungut di jalanan oleh pengusaha muda kaya. Dan hanya dia yang dipungut sehingga harus meninggalkan Angga di jalanan. Awalnya Nita selalu menolak untuk diangkat anak Bapak Hardian dan Ibu Natasya, tetapi karena desakan Angga akhirnya dia mau. Nita ingin selalu bersama dengan kakaknya walau hidup di jalanan.

“Tunggu bentar, Kak. Nita punya makanan banyak. Tapi Kakak jangan tunggu di depan sini. Tunggu di depan sana ya, Kak. Soalnya jika papa mama pulang, nanti Kakak dipukuli lagi.”

Setelah berkata seperti ini, Nita menghilang di balik pintu.

“Papa.... Mama....” gumam Angga pelan.

Sudah tiga tahun ini dia tak pernah lagi memanggil kata papa dan mama. Ya, papa mama kandung mereka berdua meninggal saat kecelakaan pesawat dan meninggalkan kedua bocah itu hidup sendirian. Karena papa mamanya meninggal, perusahaan keluarga miliknya itu kolaps. Rumah mewah dan segala aset keluarganya disita bank dan membuat kedua bocah itu terusir ke jalanan.

Saat di jalanan, ternyata ada pasangan muda yang jatuh hati pada Nita dan berencana mengadopsinya. Hanya mengadopsi Nita tanpa Angga. Karena Angga tak mau Nita hidup di jalanan, maka dengan susah payah dia mendesak agar ikut tawaran itu. Dan sejak itu, keduanya terpisah. Nita menjadi putri keluarga terhormat meninggalkan gembel jalanan bernama Angga. Dan sejak itu pula, keluarga baru Nita melarang keras dia untuk tidak bertemu Angga. Jika Angga berusaha menemui Nita dan ketahuan papa mama baru Nita, Angga akan dipukuli.

Dari atas balkon, Nita melempar sebuah tas ransel. Angga segera mengambilnya. Kemudia setelah itu, Nita berlari turun.

“Kak Angga segera pergi ya. Sebentar lagi mama pulang. Itu sedikit makanan untuk Kakak. Ma’afin Nita, ya Kak!”
“Nita jaga diri baik – baik, ya. Ini buat Nita.”

Angga mengulurkan gelang dari tali – tali warna – warni. Barang itu tak pernah ada di toko karena memang gelang itu buatan tangan Angga. Nita menerimanya. Tiba – tiba dia mengeluarkan kalung berwarna perak. Kalung dari monel dengan ukiran nama Nita yang indah.

“Kak Angga g mau nrima. Nanti kamu dimarahi.”
“Percaya sama Nita. Pasti Nita g dimarahi.”

Angga menerima kalung itu. Dan memasukan ke dalam saku celananya.

“Kak Angga, Nita sayang Kak Angga.”

Kalimat itu dibalas dengan air mata yang mengalir di pipi Angga. Kemudian bocah laki – laki itu meninggalkan rumah megah itu.

***
“Nit, elu g makan?”
“Males, Nda.”
“Tumben?”
“Gue kangen ama Kak Angga. Hari ini ulang tahunnya yang ke 23. Dan sudah 11 tahun, gue g pernah ketemu dia.”
“Yah, ngawur ni bocah. Elu kan anak tunggal.”

Nita meninggalkan Nanda yang kebingungan. Sejak dia diangkat anak oleh keluarga Hardian, tak ada satu pun orang yang tahu kalau dia Cuma anak jalanan yang beruntung. Nita mengelus gelang di tangan kirinya. Gelang itu saksi bisu pertemuan terakhirnya dengan Angga.

“Kakak, kamu masih hidup tidak ya?”

Air matanya meleleh. Nanda semakin bingung. Akhirnya cerita hidup Nita mengalir dari mulutnya. Nanda hanya terdiam dan memahami perasaan sahabatnya.

***
Pemuda itu mengelap keringat. Tubuhnya mengkilat di terpa mentari. Pandangannya lurus menatap kereta yang sebentar lag berhenti. Pandangan matanya tegas dan tegar menandakan perjuangan hidupnya penuh dengan gemblengan jalanan.

“Ngga, Lu kenapa lu kek gini?”
“Kenapa emang?”
“Elu kurang apa seh, Ngga? G pantes lu kek gini.”
“Jangan karena gue biasa ngasong di bis makanya lu bilang kek gitu.”
“Yah, bukan itu maksud gue. Tapi gue kenal lu.”

Peluit panjang statiun memecah pembicaran mereka. Kedua pemuda itu berdesak – desakan naik kereta ekonomi. Asongan Angga penuh lumpia, sedangkan pemuda sebelahnya mengangkut berbagai jenis minuman botol. Kereta melaju meninggalkan ibu kota.

***

Nita menyalakan sebuah lilin di atas cup cake coklat. Nanda hanya memandangi ulah gila sahabatnya tapi Nita tidak peduli.

“Happy B’day Kak Angga. Di mana pun Kak Angga sekarang berdiri, Nita Cuma pingin kita ketemu. Amin.”

Nita menyanyikan lagu ulang tahun. Isakan dan air mata mengiringi setiap lantunan lagunya. Wajahnya tampak menahan luka. Luka dan ucapan terima kasih. Nita sudah tidak kuat menahan rasa sakit yang membuncah di dadanya. Tubuhnya ambruk memeluk Nanda.

“Gue hidup enak semua itu karena Kak Angga. Sedangkan Kak Angga, Kak Angga...”

Nita sesenggukan dalam pelukan Nanda. Kedua sahabat itu larut dalam air mata. Nita yang dikenal Nanda adalah gadis tegar yang selalu ceria ternyata menyimpan luka bertahun – tahun. Dan kali ini semua gundahnya meluap.

***

Matahari mulai membenamkan sinarnya. Semburat jingga menyelimuti bumi. Roda besi dan rell bercumbu mesra. Di pintu kereta berdiri dua orang pemuda. Mereka tampak asyik menatap senja yang menawan.

Angga menatap hamparan sawah yang mulai menguning. Sahabatnya mulai asyik menghitung hasil penjualannya. Lembaran uang ribuan kumal kini berpindah ke dalam saku celana Parman. Sesekali Parman melirik Angga yang tak bergeming dari tempat berdirinya.

“Gue nanti turun Jogja, Man.”
“Loh, ada apa?”
“Biasa urusan kerjaan. Gue dapat job di sana. Mungkin bisa semingguan gue di sana.”
“Kerjaan apa? Ngerampok apa ngebunuh orang?”
“Tukang gali sumur, Man. Hahaha...”
“Lu mah big boss, Ngga. Semakin banyak aja proyekan lu. Kaga kaya gue nih dari jaman masih ingusan sampai sekarang masih aja jadi tukang asongan di kereta.”
“Ye... Elu mah asisten gue. Dodol! Gue g bakal lupa ama lu.”
“Iya, Ngga. Ntar kalau lu butuh gue buat bantu lu. Call me, ya. Sapa tahu duitnya bisa buat beli BMW baru.”
“Kupret lu. Buat makan aja.”
“Gue heran ama lu. Kok mau sih lu jualan kek gini. Duit lu banyak, Bro. Mau beli seratus rumah gedong aja lu mampu.”
“Duit gambar kebo. Ngaco lu.”
“Ngga, Angga. Kalau gue punya adik cewek neh, udah gue suruh nikah ama lu.”
“Adik cewe...”

Kata – kata terputus. Angga teringat Nita, adik perempuannya. Sejauh yang dia ingat, Nita masih berumur 10 tahun. Sekarang kabarnya pun, Angga tak ingat. Tapi keyakinan Angga mengatakan adiknya akan selalu bahagia jika tak bersama dia.

“Ngga, keperluan lu selama di Jogja gimana?”
“Gampang. Gue bisa tidur di emperan.”
“Kaga, maksudnya gue yang berhubungan dengan kerjaan lu?”
“Ada Pak Giman yang ngurus. Gue Cuma perlu datang dan ngeksekusi. Jika final, gue akan balik ke Jakarta secepat mungkin. Dan kembali jadi tukang asong.”
“Hati – hati, Ngga!”
“Sejam lagi nyampe Jogja. Gue turun di sana. Kalau butuh apa – apa lu pasti tahu dimana nyari gue.”

Kereta melaju pasti. Tak lama lagi, kaleng berjalan itu akan memasuki kota Jogjakarta.

***
Nita sedang mengendarai mobil rentalannya. Rencananya hari ini akan dihabiskan untuk keliling – keliling kota. Sedangkan Nanda memilih acara lagi, dia ingin seharian muter – muter untuk belanja. Lagu – lagu kenangan mengalun pelan dari tape mobil. Mulut Nita sibuk mengikuti lirik – lirik yang dia hapal.

Hand phone gadis itu berbungi. Tercetak jelas nama Nanda sedang memanggil. Segera dipencetnya tombol gagang telpon berwarna hijau.

“Nit, ntar malam kita jalan – jalan keliling Jogja, yuk!”
“Nah lo, gue lagi jalan – jalan nih sekarang. Lu lagi di mana?”
“Gue abis belanja. Ni lagi makan di Malioboro. Ntar malam ke alun – alun kidul ya. Temenin gue, please!”
“Oke, sekalian gue juga mau hunting foto di sana.”
“Gue siap jadi model lu. Oke!”
“Kaga, gue udah banyak koleksi foto – foto lu. Males gue!”
“Ah, lu. Ya udahlah. Kita ketemu ntar malam.”

Tut!!
Telpon terputus.
***

“Man! Final! Order gede nih! Sekali gasak, duitnya gede. Keknya gue bakal di sini beberapa minggu. Sampai ini kelar semua.”
“Lu butuh gue apa g?”
“Lu siapin keperluan gue kaya biasanya. Nanti kalau lu ngasong ke Jogja, jangan lupa lu bawa. Kalau bisa dalam beberapa hari ini.”
“Oke, Sob! Gue besok ke Jogja.”

Percakapan dari dua lelaki itu terputus. Angga yang berada di halte bus tanpa sadar melangkah turun ke aspal. Dan bersamaan sebuah mobil putih menyambarnya.

Bruk!!
Tubuh pemuda itu terpental.

***
Tubuh Angga diselimuti kain putih. Matanya terpejam rapat. Ruangan tempat dia begitu hening. Hanya sesekali terdengar bunyi suara derit roda kursi di sebelahnya. Sudah 12 jam, Angga pingsan. Belum ada tanda – tanda dia siuman.

“Nda, dia belum bangun. Mana kita tidak tahu siapa keluarganya. Alamatnya juga di Jakarta lagi.”
“Namanya siapa Nit?”
“Raditya Angga Wicaksana. Dia kelihatanya anak orang kaya, Nda. Alamatnya di perumahan mewah. Tapi waktu gue nyoba telpon ke no rumahnya yang ada di hapenya, g ada yang jawab.”
“Sumpah, Nit. Kalau dia mati gimana?”
“Mati deh gue. Apa kata nyokab, Nda. Gue di penjara nih.”

Kedua gadis itu kalut. Tiba – tiba hand phone laki – laki itu berbunyi.
“Hallo...”
“Hallo, lu siapa? Ceweknya Angga? Tapi sejak kapan Angga punya cewek?”
“Gue Nita, Angganya lagi di rumah sakit. G sengaja tadi malam gue nabrak dia.”
“Bener lu? Keadaannya gimana?”
“Kritis.”
“Lu sekarang di mana?”

Nita menyebutkan salah satu nama rumah sakit di Jogjakarta. Kemudian telpon itu terputus. Tampaknya lelaki di seberang telpon itu segera ke rumah sakit itu. Kedua sahabat itu saling menatap. Seandainya mereka berdua tidak bercanca dalam mobil mungkin kejadian ini dapat dihindari.

Selang setengah jam, muncul laki – laki seumuran dengan Angga. Dia Parman, sahabat Angga. Tak ada sisa – sisa kehidupan jalanan yang menempel di tubuh Parman. Lelaki itu datang dengan setelah kemeja dan jeans. Ransel laptop di punggungnya.

“Gue Parman, sahabatnya Angga. Lu sapa? Kenapa sampe kek gini?”
“Gue g sengaja nabrak dia.”
“Orang juga tahu, nabrak itu g sengaja, kecuali lu memang sengaja nabrak.”
“Gue minta ma’af. Gue pasti tanggung jawab.”
“Lu mau nanggung pake apa? Pake nyawa lu? Kalau Cuma nanggung biaya rumah sakitnya gue aja masih bisa nanggung tapi kalau dia kenapa – kenapa gue pastiin lu bakal sengsara.”

Nita terdiam. Nanda maju.

“Mas Parman yang terhormat, gue rasa yang penting sohib lu ini cepet sembuh, bukannya malah ngata – ngatain sohib gue.”
“Terserah lu. Gue males ngomong sama lu.”

Angga... Angga... Angga...
Nita teringat Kak Angganya. Seadainya yang dia tabrak itu kakaknya. Tapi tak mungkin. Lelaki yang terbaring di ranjang besi itu berpenampilan elit. Tak ada secuil pun debu jalanan yang menempel di tubuhnya. Sedangkan Kak Angganya yang 11 tahun dia temui adalah Kak Angga yang kumal. Berbeda jauh.
Parman mengecek hand phone Angga. Satu persatu panggilan dan pesan dilihatnya. Klien – klien Angga banyak yang mencoba menghubunginya sejak semalam. Parman beranjak ke soffa yang ada di sebelah Nanda. Di saat seperti ini, sebagai sahabat sekaligus kawan kerjanya Parman harus menyelesaikan urusan Angga.

Pesan – pesan mulai dibalas. Kemudian dia membuka ransel laptopnya. Tanpa sengaja, sebuah kalung monel yang terjepit di sela – sela laptop jatuh. Pandangan ketiga manusia itu beralih ke benda perak itu. Jantung Nita berdegup kencang. Dengan cepat diambilnya kalung itu. Ada nama Nita terukir indah di liontin kalung itu. Nanda dan Parman mulai menangkap ketidak beresan pada Nita. Tapi keduanya memilih bungkam.

Pandangan Nita berganti – ganti menatap kalung itu, gelang di tangannya dan sosok yang terbaring kritis. Tubuh gadis itu lemas dan dia ambruk. Nanda berlari ke arah Nita. Parman berdiri dari tempat duduknya. Keduanya memandang Nita yang menangis pilu.

“Kak Angga, kenapa Nita mau bunuh Kak Angga? Nita selalu bikin Kak Angga susah. Bahkan cara kita bertemu malah membuat kritis Kak Angga,” ucapnya pilu.

Nanda memeluk sahabatnya. Nita menangis histeris dalam pelukan Nanda. Parman membeku. Jadi, Nita yang diceritakan Angga itu. Jadi gadis itu adik kandungnya Angga.

Dengan susah payah, Nita mencoba berdiri dan berjalan ke arah ranjang besi. Tak ada perubahan. Tubuh itu masih terbujur kaku. Matanya rapat. Angga yang dulu hidup di jalanan sekarang seorang pengusaha muda. Jalanan yang keras mendidiknya menjadi sosok yang hebat.

Nita mencium tangan kakaknya. Kakak yang dirindukannya. Perlahan tangan itu bergerak. Dan mata itu membuka. Sebuah senyum lemah tersungging manis. Senyum Angga untuk Nita.



JX dan Waroeng Petualang


Surabaya, 06 Januari 2013

Faris tampak bercuap – cuap di depan kamera di depan puluhan orang yang menatapnya. JX Internasional semakin rame. Di sebelahku tampak Aditya Wisnu yang sibuk membaca sms dari hape Mas Yudi sedangkan Mas Ageng juga sibuk membalas satu per satu pesan yang masuk di inboxnya. Pesan – pesan dukungan untuk Waroeng Petualang. Tak jarang kami bertiga tertawa bersamaan saat Enterpreneur Club! Yang dibawakan Faris sedang iklan.

Di depan kami, tiga orang sedang berdiri dengan sebuah LCD TV di belakang mereka. Mereka adalah Faris sang pembawa acara, Mas Yuzar pemilih Cost Indonesia dan Mas Yudi pemilik Waroeng Petualang. Mas Yuzar tampak menikmati acara live itu, berbeda dengan Mas Yudi yang agak tegang. Dan di situlah fungsi kami, mendukung dan menyemangati Mas Yudi.

Tiga gelas capucino late terhidang di depan kami. Wisnu sesekali menyantap kentang asap yang terhidang di meja. Mas Ageng sibuk menikmati capucinonya sedangkan aku hanya sibuk mengudek cangkirku. Ah, sial! Pasti efek sakit setelah minum kopi akan berlanjut sampai besok.

Enterpreneur Club! Itu berlangsung satu jam dan live di JTV. Dan ini adalah pertama kalinya saya masuk ke caffe setelah hampir dua tahun Cuma duduk lesehan di warung kopi pinggir jalanan. Kalau memang dulu sering keluar masuk caffe, itu dulu banget. Sekarang jauh lebih suka duduk merakyat di pinggir jalanan atau rell kereta.

Dan akhirnya acara itu selesai. Kami meninggalkan soffa empuk yang kami duduki selama satu jam lebih. Wisnu berjalan di depanku. Aku menggendong ransel produk Waroeng Petualang. Kami berempat meninggalkan JX Internasional