Surabaya, 04 Mei 2011
Ku pasrahkan barang permintaan pabrik kepada bosku. Sambil mencari alasan beliau berangkat ke pabrik, ku ambil lap di lemari dan tak sengaja mataku menyapu kalender di depan buffet tempat kerjaku. 04 Mei 2011. Tepat hari ini sahabatku, Binti Kurniatin, mengulang saat dia terlahir di dunia 21 tahun lalu. Umur yang semakin matang. Ya, tanpa terasa kita bertambah usia setiap senja dan fajar berganti dengan sabarnya. Tak juga itu, April sudah berlalu. Satu tahun menyapa ku lagi di ibu kota Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Teman kerjaku di kantor interior ini mengenang masa aku baru sampai di kota ini.
"Kecil, item, dan pakai kerudung saat pagi hari sampai", ucapnya.
Ku lemparkan senyumku. Memang aku begitu kurus saat itu. Berbeda dengan saat ini.
Teringat saat keberangkatku ke kota ini. 20 April 2010, Setelah ku tuntaskan semua ujian akhirku di SMAN 1 Panggul tanpa ku tunggu berita kelulusannya. Ah, ada setumpuk keinginan dalam kota tujuanku nanti. Malam makin larut, beberapa anak tetangga ngumpul di rumahku. Aku tak tahu maksudnya. Mungkin sekedar untuk perpisahanku ke kota. Travel datang. Kendaraanku menuju kota yang sekarang tempatku berjuang. Malam yang penuh haru. Kepergian gadis kecil yang selalu bikin onar mencoba mempertaruhkan hidupnya di kerasnya ibu kota. Tak ku sangka, tetanggaku hampir semuanya mengantarkan aku. Ada yang membawakan tasku, karena tanganku sibuk menyalami orang sana-sini. Di pintu mobil, terakhir ku salami adik-adikku dan bapak. Sosok tua itu tegar di depanku. Walau aku tak tahu dalam hatinya. Bapak.
Travel itu masih menjemput penumpang yang mempunyai tujuan sama. Surabaya, pertama dan terakhir aku ke sana ketika kelas 3 SD., 9 tahun lalu. Seperti apa rupanya kota tujuanku. Sepanjang malam kucoba ku buka mataku untuk menatapi jalanan yang semakin padat tapi kantuk menjatuhkanku pada pelukan mimpi. Tepat jam 2 pagi, sampai Jombang. Sopir travel mengistirahatkan mobilnya di salah satu rumah makan di Jombang. Aku memang tak terbiasa makan di perjalanan jadi ku tahan perutku yang memanggil para cacing.
Biarlah, asal kondisiku masih kuat. Perjalanan berlanjut lagi. Dan pelukan mimpi makin menjeratku. Aku terbangun ketika adzan subuh memanggilku. Alhamdulillah, aku tidak shalat.
Pagi menyapaku dalam kota ini,mobil- mobil berlalu lalang dalam likuan sang ular aspal. Gedung-gedung kota yang megah. Berbanding 180 derajat dengan desaku.Mobil berhenti di depan SDPS V. Tujuanku. Tapi portal gerbang masih ditutup. Aku tak tahu alamat tujuanku karena baru tahu surabaya.
Saat itu aku masih mulai memakai jilbab setelah lulus SMA dan saat itu juga aku harus melepaskanya karena kantorku tidak memperbolehkan aku berkerudung. Ah,kalutnya saat itu. Aku sudah memutuskan untuk tidak bekerja disitu. Tapi Bunda menangis menyuruhku melepas jilbabku. Ah, itu yang terberat dalam hidupku. Air matanya yang jarang kulihat menetes, memohon padaku. Tapi egoku untuk mempertahankan sama kerasnya.
Aku membuat Bunda menangis.
Tersulit saat aku baru memulai