Pages

Kamis, 25 Oktober 2012

Cerita Sepeda Tua


Mataku menatap semburat keemasan yang tersirat dari cahaya lampu jalanan. Bias keemasannya menentramkan hati sedangkan hujan yang berubah menjadi gerimis meninggalkan basah di aspal yang pekat. Aku berdiri di bawah temaram lampu dan menatapi kilau cahayanya yang anggun. Desah pelan meluncur lewat bibirku.

“Aaah, temaram lampu jalanan setelah hujan memang yang terindah.”

“Apa?”

Ada sebuah suara yang mencoba memperjelas ucapanku. Tapi aku tidak peduli, kilau cahaya tengah malam ini benar – benar menghipnotisku. Alasan inilah yang membuatku jatuh cinta pada hujan.

Perasaanku yang luluh dengan rinainya.
Temaram cahaya lampu jalanan setelah hujan.
Aspal – aspal hitam yang terlihat mengkilat karena hujan.
Dan jika aku pun menangis dalam hujan, tak ada seorang pun yang tahu.
Serta gerimis yang selalu romantis.

Lirik – lirik Hujan –nya Utopia mengalun dari hand phone lelaki yang bersamaku saat itu. Aku memejamkan mata dan meresapinya. Lagu dan aku seakan menyatu dan hatiku mengembang dan terasa ringan. Aku melambung dalam pekatnya malam Surabaya.

“Aku tahu kamu suka hujan.”
Mataku langsung terbuka.

“Tahu dari mana? Bukannya kamu baru kenal aku?”
“Tahu lah. Dari bahasa tubuhmu juga kelihatan.”
Aku melongo. Menatapnya curiga.

“Jangan lihat aku kaya gitu. Kan kamu dari tadi aku suruh duduk di sebelahku agar tidak kena tempias hujan. Eh, malah kamu main – main air.”
“Oh, kirain...”
“Kirain apa?”
“Kirain kamu sok tahu padahal baru kenal aku.”
“Kamu aja yang terlalu polos kaya anak kecil.”
“Oh iya, kamu punya utang satu janji ama aku. Sapa tahu abis ini aku tidak ketemu kamu lagi.”
“Hahahaha, jadi kita mulai saja ceritanya. Pernah dengan lagu Iwan Fals yang judulnya Nyanyian Jiwa? Kalau belum dengar,  aku puterin ya?”

Dan aku segera bergeser ke bangku panjang di warung kopi itu. Duduk di sebelahnya.

Aku sering ditikam cinta
Pernah dilemparkan badai
Tapi aku tetap berdiri ohoh

Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hari haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hari haruslah diasah

Lagu itu mengalun mengiringi celoteh – celoteh yang keluar dari bibir. Aku kembali terhanyut pada ceritanya. Perjalanannya dan semua tentang dia. Ku lirik sudut matanya mulai berkaca – kaca. Batinku bertanya apa dia meyimpan luka yang begitu dalam tentang dia.

“Kamu nangis?”
“Enggak lah. Kenapa harus nangis?”
“Kok balik tanya c? Aku kan yang tanya kamu. Gadis itu hebat ya sampe dia bikin kamu ngelakuin hal gila.”
“Enggak hebat, buktinya dia ngelakuin itu. Hal yang bikin sakit hati orang.”
“Tapi itu bukan alasan. Kamu juga hebat. Dari awal aku sudah penasaran kenapa kamu ngelakuin ini. Makanya aku pingin ketemu kamu buat mastiin kalau kamu itu ada. Dan ngelakuin itu.”
“Yuk, ikut ngontel adventure ke Bali.”
“Enggak ah, aku tunggu di Bali aja. Kan ada pesawat yang cepet nyampenya.”

Dia mencibir. Aku tak peduli. Ku seruput teh hangat di depanku sambil sesekali ku pandangi lelaki kurus di depanku. Bulu matanya yang lentik tampak indah sekali dan membuat manis matanya. Berbeda dengan mataku yang bulu matanya pendek – pendek. Matanya tampak lelah tapi tetap bening.

Mataku terus ku biarkan mengembara. Di luar warung kopi, hujan benar – benar berhenti. Sepeda kebo lelaki kurus itu mengkilat karena air hujan dan sadel kulitnya tampak teresapi air. Genangan – genangan sisa hujan tampak betebaran di jalanan. Dan tetesan air dari atap seng warung kopi ku tadahi dengan tanganku.

“Nyoba pacaran, yuk!”
“Ngomong ke sapa?”
“Emang dari tadi aku ngomong ke sapa?”
“Aku? Nyoba pacaran? Kita baru ketemu tiga kali ini?”
“Nyoba itu kaya kuis, kalau cocok ya lanjut kalau enggak cocok ya udah. Jangan terlalu maksa.”
“Mana ada pacaran coba – coba. Ga mau ah!”
“Ya udah kalau enggak mau. Yang penting aku sudah mengucapkan kata paling indah.”
“Kata paling indah apa?”
“Nyoba pacaran.”

Aku terdiam, sedangkan lelaki kurus itu menyambung kata – katanya dengan Kembang Petenya Iwan Fals.


Senin, 01 Oktober 2012

Semangat hidup ini, dari Engkau kah???


Sejak dulu, aku pingin punya kakak. Walau pun aku punya kakak tiri, tapi...

Kakak tiriku cukup baik, hanya saja dia jarang ada waktu untuk bercerita denganku.

Sedangkan aku, adikku berbeda dengan aku.

Walau pun kami selalu bersama, tapi tak bisa menyatu.

Di Surabaya, 2 tahun lalu...

Aku sendirian, terlebih saat penyakit itu mencoba mengambil hidupku

Mungkin benar aku mau kabur, pernah mencoba mengakhiri hidupku

Berhari – hari hanya bisa menangis di pojokan kamar


Tapi sekarang...

Aku tidak peduli sakit itu menyerangku kembali

Mencoba melumpuhkan kakiku lagi

Aku cukup bahagia sekarang

Kakiku yang dulu sakit dan lemah

Sekarang mampu berjalan jauh sekali, ke tempat – tempah orang pemberani

Nafasku sudah teratur kembali, bukan sesak – sesak nafas karena jeratan asam lambung yang mencekik kesadaranku

Semenjak ku coba untuk mengalahkan sakitku, ternyata kekuatan hidup itu muncul


Tuhan, kekuatan ini...
Semangat hidup ini, dari Engkau kah???

Terima kasih

Efek Lima Kota ^^


Udah lebih dari 2 bulan kepingin naik ke penanggungan. Janjian sama beberapa orang tetap saja belum terealisasi. Maklum jadwalnya g bisa digabungin. Akunya bisa, eh dianya g bisa. Udah ngefixin waktu, eh ada yang urgent enggak bisa ditinggal. Belum rejeki mungkin.
Huft...

Sebenarnya sudah beberapa kali naik penanggungan via tamiajeng. Gunung yang cukup mungil ini tak bisa diremehkan. Tanjakan – tanjakan yang minim bonus, beda banget dengan Semeru yang notabene Gunung Tertinggi di Pulau Jawa masih punya banyak lahan “playon”. Tapi aku sendiri pingin nanjak di penanggungan pake jalur Jolotundo, Ngoro, Sumber Suko dan jalur - jalur lainnya. Apalagi situs - situs sejarah Majapahit dan kekerabatannya dengan Mahameru, cukup membuat liur ini menetes. Mupeeeeeng

Kamar Kost, 29 September 2012
Sebenarnya cukup “mangkel” sama si sandal jepit yang udah janjiin ngajak ngumpul – ngumpul dengan temannya tiba – tiba dibatalkan. Dan sudah kerasa kalau dia agak ngambek sama aku. Maklum, ngambeknya pacar. Sudah ngebayangin malam minggu bisa jalan sama pacar, akhirnya kembali lagi tertunda. Pacaran sama dia hampir setengah tahun, sampai sekarang belum pernah ngerasain panjangnya malam minggu.
Tak apalah.

Iseng – iseng, balasen update status Facebook. Ingat Kak Rookie, ada deathline tulisan. Sambil ngetik finishing “novelet pendakian Lontong Galau Adventura” dan iseng – iseng sms kak Aris. Jiah, si dianya udah ada di puncak bayangannya penanggungan. Pingin naik juga, tapi mikir – mikir kalau harus jalan sendirian. Nanti kalau dikintilin Mas Poci n Mbak Kunti, terus ada Om Gendro, ada Tante Wewe. Ampuuunn, jadi geleng – geleng sendiri. Takut, pak!!!!

Sejenak, baru keinget Temben. Katanya dia mau latihan panjat di Watu Pecah. Wuiihh, keinget badan gue yang cukup kerempeng dan pantas sebagai atlet RC jadi kepingin ikut. Apalagi keingat mau ngajarin CA yang kaya jadi kaya enggak, mending aku ikut latihan panjat di tebing langsung. Siiiippp.

Gayung tersambut dan akhirnya mandi madu (pepatah ala Rista, buatan sendiri pake telur duaaaaa). Ahahahaha. Si Tembem belum berangkat dan nanti berangkat jam 12.30 malam. Horrrreeee!!!! Katanya Cuma cangkrukan plus bakar – bakar bandeng di Sumber Suko. Sambil terus nyelesein novelet yang sudah nyampe 10 lembar (busyyyeeettt, emang bakat jadi penulis novel), Petualangan di Semeru yang kutulis detail sebenarnya sudah finish, berhubung menjelang posting modem yang diketemukan. Ahhhhh, masih tetap nongkrong di laptop, dan bisa terposting hari Senin (udah janji ama seseorang). Sebelum mosting akhir dari perjalanan superku dan menata kembali tatanan novelet, aku kembali nego – nego si sandal jepit. Pertama, dia kembali dengan ke – Mbulet – annya. Kedua, dianya terayu dan mau mboncengin ke Sumber Suko. Mancaaaappp!!! Keknya si dianya sudah mulai enggak marah lagi.

Jam 11 malam akhirnya aku jemput sandal jepit ke rumahnya. Dia cuma sms posisinya lagi di Karah, suruh tunggu sebentar. Dari sebentar ditambah sebentar dan sebentar akhirnya jadi lama. Apalagi nunggunya di bawah tiang listrik penuh nyamuk. Jahaaatnya. Akhirnya ku telpon dia. Jiah, masih juga belum jalan, bilangnya masih lama. Ya udahlah, akhirnya dia aku tinggal, kalau benaran mau ikut aku suruh nyusulin ke rumah Tembem di tambak rejo. Tapi dianya enggak mau. Sudah enggak enak sama Mas Pur yang sudah nungguin di POM Bensin Aloha, akhirnya aku tinggalin si sandal jepit. Mangkel, pak!!!!
Dan sempet – sempetnya si sandal jepit minta jemput di Pakis Wetan lagi sekalian ambil tenda. Sudahlah, kadung sakit ati. Bye – bye, sayangku J


Singkat ceritanya, setelah bertemu Tembem dan mampir ke ATM di Indomaret yang Mas – masnya cukup jengkelin, ATM sudah rusak tetep saja g dibilangin. Malah terakhir dengan polosnya bilang “Saldonya kepotong ya, Mas. Uangnya enggak keluar ya? Iya, tadi juga kayak gitu.”

Sumber Suko, 30 September 2012
Perjalanan 3 motor. Mas Pur, Mas Oes Man dan Tembem yang bonceng aku berduet maut dengan jalan aspalan. Finish. Sumber Suko dini hari berbeda dengan trawas atau pun tretes. Hawanya cukup hangat, karena tidak sedingin Tretes mau pun puncak bayangan penanggungan. Cukup pakai sweater tanpa jaket, apa lagi Mas Pur & Tembem hanya memakai kaos. Cuma kang Oes Man yang pakai jaket.

Acara masak air. Masak air biar mateng. Masak air bikin kopi disaingi dengan ikan bawal n bandeng bakar. Tenaaaang, ikan bawal n bandengmu, kami saingi dengan Bronis Amanda. Mantap to!
Dan alamak, malam ini cukup tidur telentang di bawah pohon dan beralas ponco serta hamuk, tak ada yang bawa tenda. Tetapi agaknya belaian mimpi mampu melayangkan kesadaran kami.

Bukan dingin yang membangunkan kami, tetapi panas mentari langsung ke muka. Mirip seperti tamparan. Panas. Packing dan mencari air, lalu dilanjutkan acara khas anak Navigasi (berhubung Mas Pur, juragan Navigasi), kami di “brasak-brasakno.” Lama sekali rasanya tidak berjalan di luar jalur dengan bunyi krasak – krasak khas buka jalur. Ya, Navigasi Darat. G Cuma pendakian biasa, tapi harus paham peta kompas. Dan berani berada di jalur yang g semua orang pernah melewati. Aku suka hal seperti ini. Selalu memacu andrenalin dan rasa ingin tahuku karena bagiku puncak bukan segalanya.

Kembali ke nesting. Ting Ting. Setelah “brasak” sekitar 10 menit. Hahahahaa. Cuma mbrasaknya kecantol – cantol terus sih. Pura – pura Navigasian. Ponco dan hamuk digelar kembali di bawah tebing yang atasnya dipakai untuk raplingan sispala. Yups, ayo kawan melanjutkan aksi tidurannya. Karena keasikan tiduran, akhirnya enggak jadi belajar manjat. Cuma jadi pemantau saja lah. Maklum umur sudah cukup tua.

Sampai akhirnya, cukup siang. Kita mutusin untuk pamit pulang dulu dan menuju ke Sendang buat mandi. Dan sampailah di Sendang. Tapi g jadi mandi gara – gara malu. Aku g bisa tampil buka – bukaan seperti masyarakat situ walau pun sendang itu terbagi menjadi 2 tempat. Kubu cowok dan kubu cewek tapi tetap saja Maluuuuu ^^
Begitu juga Mas Pur, Kang Oes Man, dan Tembem.

Tretes, 30 September 2012
Keputusan terakhirnya, mampir ke rumah Mas Gundul di Tretes. Niat kita sih baik, Cuma minta Badek sekaligus minta makan (rujak) sekalian di silaturahmi. Setelah disambut dengan tim sorak satu peleton (maaf, ternyata yang ada Cuma anaknya Mas Gundul seorang yang masih berumur 2 tahun kurang 2 bulan). Berhaha hihi dengan bocah cilik ternyata cukup mengembalikan rasa ingin tidur setelah satu gelas es blewah tandas di kerongkongan di susul rujak pedes. Ajiiiibbb!!!

Ambil posisi dan kita tidur lagi. Posisiku cukup aman dari injakan penghuni rumah karena melungker di bawah kursi dengan bantal 2 jaket tebelnya kang Tembem n kang Oes Man. Sorry, agak keileran dikit, ya
J

Mas Pur sudah nyampe Surabaya, Kang Oes Man baru sampe Kejapanan, aku nyampe Sidoarjo, sedangkan si Tembem kocar – kacir di ketinggal di Tretes. Tapi wajib digaris bawahi itu hanya perumpamaan perjalanan tidur kami, saudara – saudara.
Setelah, terbangun paling awal dan ternyata eh ternyata si Tembem belum tidur sama sekali. Iseng ah, biar dia enggak tidur.
Jahat banget c, Ta!
Biariiiiiin :p

Jam 16.00 tet. Akhirnya kita balik ke Surabaya, walau pun tanpa Badek (sama mas Gundul suruh ambil di perijinan Arjuno – Welirang tapi kitanya yang males). Sayang banget, beaty ku yang imut ikut ngambek. Starternya enggak bisa dan minta diengkol. Matic kan susah ngengkolnya (manja).

Mas Pur  duluan. Sedang kami bertiga ke Gresik dulu, sebelumnya mampir ke kost ku jemput adikku karena adikku minta kost di Gresik. Nganter ke tempat temennya adik dilanjutkan ketemuan di pendopo Gresik dengan Miliko untuk nganter titipan kaosnya yang 1 bulan sudah di aku. Kurang ajarnya, sudah tahu kita muter – muter di tugu tengah pendopo, tanpa babibu, eh, si Miliko ngikutin kita muter – muter tanpa bilang – bilang. Sungguh Terlalu!!!! Kaya obat nyamuk tahu.

Ngobrol ngalor ngidul. Tertawa. Klesetan. Lomba Makan. Sampe kutumpahan kopi panas. Hahaha. Benar – benar ngilangin segala capek.

Tak jarang, walau pun tanpa pacar, aku bisa tertawa. Malah bersama mereka, saya jauh lebih gila, lebih kuat, lebih berwarna.

Terima kasih, kakak dunia mayaku.
Terima kasih, Mas Purwanto
Terima kasih, Tembem a.k.a Lurah Parkiran
Terima kasih, Kang Oes Man (ternyata dia rumahnya deket rumah Pak De)
Terima kasih, Adikku
Terima kasih, Miliko

Jarene kang Oes Man, efek perjalanan 5 kota, dan akhirnya si maticku terkapar di bengkel. Maaf ya, sayang ^^

Oh, iya...
Mas Pur, Tembem, Kang Oes man...
Nanti kita harus ketemu lagi buat belajar aplikasi Navigasi Darat.
Kangen bunyi “krasak – krasak” di tempat yang jarang orang tahu.


Rista ^^

Mahameru. Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (VI)



“Sakit, kakiku sakit! Kakiku kram!”

Mendengar jeritan Oncom, seluruh penghuni 3 tenda terbangun. Dia berteriak kesakitan, sementara Bang Ateng mengambil insiatif menekuk – nekuk kaki Oncom, aku dan suci mengolesi kaki, tangan, leher dan tubuhnya yang mulai dingin dengan minyak kayu putih. Sarung tanganku kupakaikan pada dia. SB milik Suci segera digelar di bawah tubuh Oncom sementara para cowok mengangkat Oncom.
Jeritan dan tangisan Oncom membelah sepinya Kalimati. Perasaanku mulai kawatir dengan keadaan Oncom.

“Mas, bikino teh anget yang manis,” teriakku pada para cowok yang di luar tenda.
“Mbak, tehnya mana? Adanya jahe wangi.”
“Ya udah, jahe wangi gak papa. Kasih gula yang manis”

Perlahan keadaan Oncom mulai membaik. Kakinya sudah dapat digerakan. Kaos tangan yang kupakaikan juga sudah dilepas. Jahe wangi segera disodorkan ke Oncom untuk menghangatkan perutnya. Tim dapur umum sekarang sudah bisa asik – asikan bikin nutrijell untuk bekal ke puncak. Segelas besar jahe wangi + potongan rumput kering (yang godok air kayanya merem, masa air dicampur rumput) dihabiskan Atika yang rajin membuang potongan – potongan rumput dari seduhan jahe wangi. Akhirnya moment istirahat tidak dilanjutkan kembali karena jam menunjukkan pukul 23.00 tepat ditandai dengan alarm jam tanganku yang ngikik.

Kulangkahkan kakiku menuju 2 bilik peristirahatan pendaki. Aku sudah janji untuk membangunkan temen dari Sidoarjo. Ternyata dia sudah bangun dan berangkat dengan kawan – kawan dari Jember. Ya sudah, kita tetap satu tujuan kawan. Dan aku segera kembali ke tendaku.

Setelah prepare sebentar. Aku tetap nekat memakai sandal walau pun sepatu sudah siap di dalam kerilku. Ku pasang gaiter agar kakiku aman dari hawa dingin. Sambil menunggu teman – teman yang sedang prepare, aku mendekatkan diri ke perapian sambil ngemil kacang tanah. Lumayan buat cadangan lemak secara aku kan masuk katagori kurus dan kerempeng.

Kalimati, 24 Agustus 2012, 23.30 WIB
Kita membentuk formasi melingkar. Lingkaran 15 nyawa yang terkurung dalam raga berdiri merapat. Kami berhitung dan tetap angka 11 berhenti di nyawaku. Ya, aku angka 11 dalam pendakian malam ini. Berdoa dan selesai berdo’a tangan kami menyatu.

LONTOOONGGGG!!!!!!!!!!!!YES!!!!!!!!!!!

Seiring dengan tangan kami terangkat ke atas, Ateng kembali dengan aktivitasnya, domprok di tanah dan mengorek – orek tanah. Kami tertawa dengan ulah gilanya Ateng Ting Ting.

“Nemu opo, bang?”
 Tangan Bang Ateng saling menutup rapat. Dan kemudian dibuka cepat.
“Lah, ucul!”

Puluhan pendaki dari berbagai kota menyatu di setapak kalimati. Rombongan kami pun juga cukup banyak. Berpencar sedikit saja, sudah resiko untuk rombongan.
“Awake dewe kudu duwe kode kanggo rombongan iki. Kodene enake opo?”
“Kita punya no urut, pake itu ta?”
“Terlalu ribet.”
“Ya apa kalau pake LONTONG ? ”
“Iyo, LONTONG ae. LONTONG GALAU.”
“Hahahahahaha.”

Debu membumbung seiring dengan langkah – langKah yang tercetak. Membuat batuk dan perih di mata. Scraffku kugunakan sebagai masker. Simbolitas dari diklat kemarin ternyata berguna untuk nafasku (maaf ya, bukannya sengaja scrafnya buat masker, tapi karena bang Fajar g bawa slayer akhirnya kuberikan padanya slayerku, sedangkan aku pakai scraf ini).

Melewati kali yang sudah mati (tak ada airnya). Mungkin karena inilah dinamakan dengan kali mati, kali yang berguna sebagai jalur lahar. Selangkah demi selangkah, jalanan mulai nanjak. Puluhan, mungkin sampai ratusan orang berjejer di setapak menuju Arcapada.

LONTONG, BREAK!! Ayo, merapat!
LONTONG!!!!
LONTONG, woyyy!!!

Kata – kata itu sering bersahut – sahut untuk menghindari ada yang tersesat dan tertinggal.

“Awas, kiri blank! Merapat ke kanan!”

Jurang – jurang menganga di sepanjang jalur Kali Mati – Arcapada. Nafas juga sudah mulai terengah – engah.

Tiba – tiba kembali ada yang teriak “Hoyyy, P3K nya mana? Ada antagin g?”

Ku rogoh saku celanaku, P3K ku memang sudah kuberikan ke Dedy untuk dibawa. Tapi di saku celanaku ada beberapa sachet obat masuk angin dan P3K ringan lainnya.

“Aku ada, sapa yang masuk angin?”
“Yang bawa P3K, bisa turun g?”

Rony yang membawa daypack berisi P3K segera turun. Ika kakinya kram di bawah
Seingatku, seorang lontong cowok berkata padaku “kalau memang fisik kuat jalan agak cepat, jalan duluan aja gpp. Nanti agak jauh tunggu anak – anak, kalau berhenti ngikutin anak – anak yang masih di bawah, kamu bakalan kedinginan. Biar para cowok saja yang ada di belakang.”

“LONTONG BREAK!! Faris kakinya terluka!”

Satu orang lagi kakinya bermasalah setelah Ika. Aku hanya terdiam dalam do’a.

“Lindungi kami, Lindungi teman – teman kami. Lindungi siapa pun yang ada di tanah Semeru ini.”

Oncom yang selalu berjalan di depan terus berjalan. Aku mngejarnya. Setidaknya bisa menemaninya di belakang. Bagaimana pun kita harus saling mengawasi. Aku berjalan terus menerus di belakang Oncom (Isti) yang melesat cepat. Gila, tu cewek, jalannya g ada putusnya. Tepat pukul 00.25, aku dan Oncom berhenti di Arcapada. Sementara di belakang rombongan sudah sangat jauh. Ku putuskan dengan Oncom untuk menunggu mereka di Arcopodo. Dingin kembali merasuki tubuhku. Kaos polar, flanel biru, jaket rasanya tak mampu menahan hawa dingin.

Aku dan Oncom, sama – sama tidak ada yang membawa air minum karena kami terpisah duluan dari rombongan. Seorang cowok menawarkan kami minum. Hanya ucapan terima kasih yang dapat kami berikan. Saat seperti inilah, kami sadar jika persaudaraan terkuat saat uang tidak bisa bicara.

 Arcopodo serasa bukan lagi hutan yang sepi. Di pinggir jalur berjejer – jejer tenda dengan penghuni yang bersiap – siap melanjutkan ke puncak. Tepat pukul 01.00, seluruh anggota Tim LONTONG GALAU sudah berada di Arcopodo.

“Faris dan Ika mana ?”
“Faris turun sama Dedi, kalau Ika tetap jalan.”

Dari 15 orang sekarang tinggal 13 orang. Di atas shelter kecil yang ada di Arcopodo, 13 orang ini merapatkan dalam formasi dan mengecek jumlah personilnya. Lengkap. Istirahat sejenak sambil melihat hamparan lampu – lampu kota.

“Lapindo mana, ya?” celetuk Ateng.
“Umahku sing endi, rek?” tanyaku.
“Umahmu Nggalek ngunu masa ketok!”
“Hehehehe.”
“Umahku iku paling.” Kata Atika.
“Endi?”
“Iku loh sing onok lampune.”

Aku tertawa mendengar kekonyolan mereka.

Kelik. Track mulai berpasir. Seperti melewati jembatan berpasir dengan kanan kiri jurang. Pembatas – pembatas jalur kebanyakan sudah ambruk terseret pasirnya yang labil. Antrian memanjang saat berjalan di Tanjakan Kelik ini mengingatkanku pada macet di Surabaya. Ternyata di gunung juga ada macetnya. Hehehehe

Satu dua tiga. Sreeett. Merosot lagi. Kembali di titik satu. Tanjakan 3-1 (3 langkah dan kembali ke 1) begitu aku menyebutnya. Scrafku berfungsi lagi sebagai masker, tapi saat ku pakai aku susah bernafas. Lebih susah dari pada saat aku bernafas tanpa scraf. Ku putuskan untuk bernafas tanpa scraf.

Kembali merosot dan terus merosot. 1 jam, 2 jam dan waktu berlalu. Sementara kerikil mulai bersembunyi di bawah telapak kakiku. Saat seperti ini aku baru menyesal, kenapa sepatuku harus ku tinggalkan di kali mati. Kerikil – kerikil juga mulai menyusup ke dalam gaiterku. Kakiku mulai kesakitan. Ku lihat seorang anak laki - laki berjalan nyeker. Gila, kakinya kuat bener.

Sementara aku, nafasku sudah berhembus satu satu. Ngos – ngosan. Ku lihat ke atas, deretan headlamp itu masih saja membentuk garis panjang pada dini hari itu. Puncak masih jauh. Tapi untuk turun juga jauh. Imbang antara naik dan turun. Oncom sudah ada di atas. Sedangkan kondisi Atika, Suci, dan Ika sama sepertiku. Beberapa kali aku disalip bule – bule.
Ku tatap kakiku, air mataku mulai menggenang “Ayolah, biarpun pelan, aku percaya kalian akan sampai puncak. 10 langkah lagi. Semangat RISTA!!!”

Ku lihat Suci di bawah. Dia dipandu Frendi. Suci juga tampak kelelahan. Atika juga diseret Cak Luko. Ika juga begitu. Sedangkan aku akhirnya diterseok – seok mengikuti tuntunan tangannya Bang Ateng. 5 langkah berjalan kemudian terhenti. Dingin menghampiri. Begitu lah yang terjadi dan terus menerus.

“Bang, dingin.”
“Naik ke atas, terus di balik batu itu berhenti.”

Benar – benar salut dengan pemanduku ini. Dia selalu mencarikan tempat istirahat yang anti angin. Istirahat sebentar ternyata mengantarkanku pada pelukan mimpi.
Ya Allah, aku tertidur saat seperti ini. Dan ini mengingatkanku pada perjuangan Rookie & Ferry menuju puncak Mahameru (sebelum aku naik ke semeru, aku sempat baca Blog & facebook mereka). Ada langkah hampir putus asa dari mereka, dan mereka dapat mengatasinya. Aku juga harus bisa. Saat itu yang terpikir, siapa pun kalian, guys! Yang pasti aku suka model persahabatan gaya gila model kalian (Aris, Rookie, dan Ferry).

“Ayo, Mbak Ris, puncaknya tinggal dekat. Aku tadi naik sama anak Jakarta, aku juga ditolongin sama mereka. Tadi aku sudah sampai puncak. Cuma g sempat foto – foto soalnya bateraiku habis.” Oncom tiba – tiba muncul di sela – sela orang – orang yang berjuang naik kemudian dia berlari turun. Oncom saja sudah sampai puncak, pasti puncaknya tidak jauh lagi. Semangatku kembali naik, lagian berhenti di sini juga sangat beresiko.

Kulihat kondisi Suci makin drop. Muntah – muntah. Debu di wajahnya menyiratkan raut kelelahan. Ayo, Suci bertahanlah. Atika mencoba mendahului aku dan Bang Ateng. Langkahnya setengah merangkak. Kemudian terhenti. Sebelahku ada gadis kecil. Gadis itu namanya Sita dari Jakarta. Aku pikir dia seumuranku. Ku tawari minum yang dibawa Frendy. Dia menolak tapi akhirnya mau menerima setelah ku paksa karena dari awal aku cukup memperhatikan gadis itu naik tanpa membawa botol minuman.
rona pagi


Matahari muncul dari peraduannya. Ah, indaaaaaahhh!!! Mirip sekali dengan foto – foto yang aku lihat di dunia maya. Semakin lama langkahku semakin menyusut dan tidak produktif. Ateng bergerak sendirian meninggalkan aku dan teman – teman. Atika sedikit di atasku sedang duduk mengawasi kami. Suci dan Frendy juga perlahan bergerak merangkak naik.

Aku mencoba berdiri. Sandal aku lepaskan dan berjalan nyeker. Yang melindungi kakiku hanya gaiter yang sudah berubah warnanya seperti warna debu. Beberapa langkah lagi, dan aku akhirnya menyalip Atika yang sedang berhenti. Aku terhenti minta air dari Frendi. Sialnya botol air terjatuh tanpa kami sadari. Oke, perjuangan ini tanpa air. Aku terus mencoba naik. Saat kakiku terasa sakit. Kupakai kembali sandalku.

Lagunya cokelat “Mendaki Gunung” berkumandang di kepalaku.
Ayo, kawan sampai puncaknya. Ayo...

Aku berjalan di depan Sita. Di depanku, ada Omnya Sita.
“Om, Sita sampai sini saja, Sita udah g kuat.” Rengek Sita pada Omnya
“Ayo, Sita, lihat itu banyak yang udah turun. Berarti sudah mau sampai puncak. Cuma perlu 10 langkah lagi kok.” Ucapku. Padahal kondisiku juga sama payahnya.
“Ayo, Sita, dikit lagi.”

Bolak balik aku salipan dengan pendaki yang sudah turun. Senyum mereka sudah menyemangatiku. Berarti kalau ada yang sudah turun, puncaknya g jauh. Jam 07.30, jika jam setengah 9 aku belum juga sampai puncaknya, mau tak mau aku harus turun. Mentalku sedikit terpacu.

“Lo, Mbak! Sudah mau turun?”
“Aku baru mau naik.”
“Semangat ya, Mbak! Puncaknya dikit lagi tuh.”

Dia anak Sidoarjo yang dititipkan ke aku tapi akhirnya dia naik barengan anak Jember itu. Naik dan terus naik. Sampai akhirnya, aku mulai dengar suara Kebear.

“Ta, dikit lagi. Ini loh aku sudah sampai puncak!”
Air mataku memenuhi mata lagi. Rasanya ingin lari ke arah mereka.
Selangkah
Selangkah
Selangkah
Dan Puncak.
Ya, cukup ngoyo pukul 07.50 baru menginjak tanah tertinggi pulau Jawa. Saat kebanyakan orang bergerak untuk turun dari puncak, aku baru sampai puncak. Aku tertawa dan menghampiri Kebear dkk.

“Bang Ateng, mana?”
“Lagi bikin energen buat anak – anak. Di sana. Lainnya dimana?”
“Atika, Suci, Ika, Frendy, Cak Luk, masih di bawah. Oncom sudah turun duluan.”

Aku berlari – lari kecil menghampiri Bang Ateng.
“Bang, laper. Nutrijell yang dibuat tadi malam mana? Kayaknya seger.”
“Ada tuh, ambil aja di Kalimati.”
“Hah! Kan buat itu untuk bekal. Kok ditinggalin c.”
“Hehehehe”
tanpa Oncom (isti), dedy dan faris

Ku teguk segelas energen anget itu. Lumayan untuk perutku yang melilit. Kakiku segera ku langkahkan mengelilingi puncak. Sendirian. Aku sangat menikmati kesendirian di tempat seramai ini. Tiba – tiba omnya Sita memanggilku dan memintaku untuk memotretnya. Jiah, ternyata buat iklan salah satu hotel di Bali. Iklan aja sampai harus naik puncak gunung. Ckckckck. Kereeeen.


Satu persatu kawan – kawanku berdatangan. Ika sampai puncak disusul Suci, Frendy, Atika, Cak Luko sampai di puncak. Rona – rona kecapekan sudah hilang dari wajah kusam mereka, terganti dengan tawa kebahagian. Waktunya foto – foto. Foto gaya A, lanjut gaya B, gaya C, foto bareng si A, foto bareng si B. Rame.

Akhirnya setelah puas foto – foto, saatnya turun. Aku turun lebih dulu dari cewek – cewek lainnya. Barengan dengan kawan baru dari Sidoarjo. Sampai sekarang aku masih heran, sudah 2 tahun tinggal di Surabaya. Sedangkan Sidoarjo itu tetanggaan sama Surabaya. Kenapa ketemunya malah di puncak gunung. Aneh. Sandboarding dimulai. Setelah diajari teknik turun dengan gaya selancar yang aman. Aku dengan 4 orang pemuda ini mulai gila – gilaan. 4 orang berselancar turun. Seorang lagi sebagai tukang video. Berjalan, berlari dan terpeleset. Terus berulang – ulang sampai abu dan debu menutupi yang menempel d tubuhku.
 Perjalanan turun dari puncak hanya membutuhkan waktu 40 menit. Benar – benar berbanding terbalik dengan nanjaknya. Di bawah kelik, aku bertemu dengan Kebear, Ucle, Dwi, dan Ateng serta Sita dan Omnya. Kami melihat ke atas, ternyata banyak orang – orang yang kesasar terlalu ngambil jalur ke kanan saat turun. Jalur itu mengarah ke jurang yang terkenal di Semeru. BLANK 75. Jurang dengan kedalaman 75 m. Tampak orang – orang yang sadar ada yang nyasar beteriak. Aku membantu teriak – teriak sampai akhirnya yang di atasku mulai menyadari dan saling membantu memberitahu.
Setelah itu, aku turun sendirian ke Arcopodo. Jalur semalam yang tertutup pekat ini akhirnya dapat ku lihat dengan leluasa. Keheningan arcopodo membuatku menghentikan langkahku. Ya, aku di sini menangis, mencoba berbisik pada angin yang bergemuruh. Meresapi setiap jengkal tanahnya.Perjuanganku ini maksudnya apa? Ku coba mencari jawaban. Dan aku tetap tak mendapatkan jawaban.

Berjalan sendirian di Arcopodo sedikit membuatku bergidik saat  bertemu gadis itu lagi. Dua kali ini aku bertemu dia. Pertama, di saat orang – orang berjuang naik ke puncak, dia duduk dengan sebuah buku di tangannya. Tampak asik dengan pena dan kertas. Kedua, saat ini. Ku lirik apa yang dia kerjakan. Tampak garis – garis melengkung dengan tulisan – tulisan kecil. Setahuku itu peta jalur pendakian Semeru. Hebat!!!!

Gemuruh angin menemaniku sampai Kali Mati. Ku sibakkan tenda dan aku terkapar di dalam tenda. Ya Allah, semoga aku tidak kalah dengan penyakit itu lagi. Jika iya, ini hanya akan menjadi biang masalah dan merepotkan mereka. Ku lepas sandal dan gaiterku. Sesaat terdengar suara Oncom mengabarkan Dedi dan Faris mencari air ke Sumber Mani. Entah, tiba – tiba teringat nutrijel, lumayan untuk ganjal perut. Dan kemudian aku segera tidur sedangkan Isti menyiapkan makanan.

Saat aku terbangun, semua sudah datang. Tampak muka menghitam dari Atika, Suci dan kawan – kawan lainnya. Mereka ternyata rombongan orang – orang yang tersesat saat turun. Mungkin karena kecapekan, tak ada anak yang mau ngambil minum lagi ke Sumber Mani. Aku dan Suci mengalah. Lima botol air besar segera ku masukkan kresek dan berjalan ke Sumber Mani. Langkah Suci terlihat gontai, walau pun sejujurnya aku pun sama – sama lelah, tapi aku sempat tidur. Sedangkan dia sudah tersesat, dan harus naik kembali di tanjakan pasir Mahameru tentulah perlu tenaga ekstra. Sama seperti pertama kali aku mengambil air di Sumber Mani, antrian cukup panjang. Mau tidak mau tentulah harus bersabar.

Saat kembali ke Kali Mati, langkah Suci semakin lemah antara kecapekan dan menahan pipis. Ku ambil kantong kresek dan ku masukan beberapa botol ke dalamnya. Senggaknya, aku masih kuat bawa agak banyak melihat kondisi Suci yang terlalu dipaksakan.

Packing, kemudian ku lambaikan tanganku ke pucak Mahameru.
Selamat tinggal Jonggring Saloka, Selamat tinggal Mahameru, Arcopodo, Kali Mati!!!

Berjalanan menyusuri Jambangan dengan hati tertinggal di tanah Semeru ini terasa agak berat. Entah, kapan aku bisa menjejakan kakiku kembali di sini. Di tanah ini. Sama seperti perjalanan berangkat, saat pulang pun kaki – kaki tetap berkutat dengan debu dan abu. Genk Lontong Galau berubah menjadi kelompok kecil – kecil, tapi entah kenapa saya selalu berjalan sendirian. Jauh dengan kelompok kecil di depan dan yang di belakang. Beberapa kali bertemu dengan anak – anak Bekasi. Dan kebanyakan tanya kok sendirian.

”Teh, kok sendirian?”
”Saya mah g sendirian, tuh temen – temen banyak di depan dan di belakang. Dari mana?”
”Bekasi, Teh.”
”Bekasi mana?”
”Teteh Bekasi juga?”
”Pernah hidup di Bekasi. Deket Perumnas 1. Belakangnya SD Setia Mekar, abang tahu?”
”Wah, deket rumah tuh. Kapan – kapan main ya, Teh. Rumah saya di Perumnas 1.”

Aku tertawa. Sumpah bukan maksud hati berbohong.
Tapi itu rumah Pak De.
Akhirnya sampai di Cemoro Kandang dan ajaibnya bertemu dengan Mbak yang pas mau puncak malah ”keglundungan batu”. Tidak nyangka juga dia tetangga jauhnya si Dwi. Moment lebaran segera di buka. Dengan tampang polosnya, Bang Ateng menyalami mereka yang lewat Cemoro Kandang dan mengucapkan kata – kata khas Idhul Fitri diikuti dengan Personil Lontong Galau Adventura. Mas Ucle membuka sisa kue – kue lebaran 1 toples penuh. Jajan dan camilan berserakan di hamparan tanah. Tinggal pilih mana yang mau dimakan. Gelak tawa mewarnai Cemoro Kandang. Apalagi saat rombongan Sita dan Om – Omnya mampir.

Melewati kembali hamparan Oro – oro Ombo yang dingin. Turun berlarian di Tanjakan Cinta. Dan Ranu Kumbolo menyapa lagi.


“Om Gepenk, Om Fajar, Rista pulang!!!!”
Entah dari mana kata – kata itu muncul, khas banget dengan polah bocah 10 tahun yang pulang dari rekreasi. Saat itu Om Gepenk sedang menyiapkan air dan menyusul kami karena kami belum kembali ke Ranu Kumbolo. Ada siratan kekawatiran. Bang Wanto (pendaki dari Krian yang tuna wicara n tuna rungu) sudah menunggu kedatangan kami juga. Sedangkan om Fajar memasak makanan untuk kami. Setelah makan, hanya Oncom dan Kebear yang masih ngecamp di Ranu Kumbolo, sedangkan lainnya pamit turun malam itu juga. Menu makan malam itu bakso pesananku. Malam itu Ranu Kumbolo tidak sedingin malam pertama di sini. Hangat. Malam terakhir di Semeru.

Gaiter kresek dan potongan jas hujan nya Bang Ateng tertinggal (apa sebenarnya sengaja ditinggal??)

Ranu Kumbolo, 26 Agustus 2012
model nya Bang Wanto
Pagi itu ku awali dengan rutinitas cuci piring sekaligus jadi model cameranya Bang Wanto. Iklan cuci – cuci di Ranu Kumbolo. Hehehehehe. Setelah mengantar Oncom mandi, aku segera masuk tenda. Berganti baju dan memakai gamis putih. Aku pingin turun hari ini pakai rok panjang. Mungkin karena ulahku yang agak beda, reporter Java Jalan Surabaya menghampiriku dan mewawancaraiku. Serasa artis dadakan.

Oke, saatnya turun. Satu orang bawa satu kresek sampah. Aku sendiri bingung kenapa sampahnya begitu banyak. Ternyata rombongan Bang Kasih nggak bawa turun sampahnya, dan dititipkan ke Om Gepenk. Huft.
Om Gepenk dapet sandal gunung baru sedang kan Om Fajar diwasiati Keril Eigernya Bang Kasih. Pantesaaaaann.

Rista, Gepenk, Fajar, Kebear dan Isti. Ya, kami berlima berjalan menuju Ranu Pani dengan tetap Isti yang di depan. Maklum langkahnya super cepat. Perjalanan ke Ranu Pane cukup santai. Dan dengan segala kenarsisan, saya tetap jadi model camera beberapa orang yang saya temui. Hehehehe.

Kembali ke Ranu pane. Bertemu mas – mas Sidoarjo yang nemenin sandboarding di pasir Mahameru. Bertemu Sita dan Om-nya. Menaiki truknya Pak Laman kembali dan ajaibnya bertemu reporter Java Jalan dalam satu truk. Akhirnya kembali ke Surabaya dengan naik motor sendirian tanpa STNK, tanpa tahu jalan ke Surabaya serta dengan amat sangat ngantuk.

Makasih untuk semuanya yang pernah ada dalam cerita ini. 
Entah, kita bertemu mau pun belum ^^

Oh, ya kenapa pake Syawal Camp karena dari awal cuma niat ngecamp di Ranu Kumbolo. Tapi ini idenya Bang Gepenk n Bang Fajar

Kalau Lontong Galau Adventura sih, Gara - gara rombongannya Bang Ateng bawa 7 bh lontong dan dari 14 personilnya selalu eker - ekeran kalau suruh bawa lontong. Korban lontong Singosari sih, beli 5 minta gratis 2.

Sampe sekarang juga belum liat videonya Java Jalan yang katanya bakal diupload di youtube. Tapi facebooknya ada.


Sejenak hatiku tertinggal
Ya, di sana
Di tempat indah bernama Ranu Kumbolo
Saat keindahan mentati membuat terpukau

Saat persahabatan mulai dirasakan
Kami yang berdiri di sini
berjibaku dengan kerinduan

Spesial Matur tenkiuu buat :

Om Fajar (Fajar Kembali Mbolanx)
Om Gepenk (Zainul M Ayodya)
Atika (Aremanita Nenjap)
Suci (Ongise Nade)
Ika (Sadacho Luph Polaris)
Kebear (Mufi Dil - Awar Taqi FS)
Ateng (Ateng Ting Ting)
Ucle (Kangmas Ucle)
Rony (Rony Fattakh Buana)
Dedy (Deadhy Cuylantong Cuylanzenglangembreng)
Oncom (Isti Farid)
Faris (Fariz Cokrosumarto)
Dwi (Do - Why Mbah HA)
Frendy (Frendy Ratmanda)
Faris (Firdaus Faris)
Om Kasih Abadi
Ay Runa Adz
Kawan baru dari Semarang
Tembem
Aseppp (shock) dll

Oh ya, ada satu foto yang masih bikin saya penasaran ^^
kenapa pose saya begini??

Mahameru. Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (V)


Dingin Ranu Kumbolo perlahan merambat kedalam Sleeping Bag.Kaos polar, flannel dan jaket terasa sudah tak mampu menghalau dingin. Pukul 04.00, aku sudah terbangun dan terus – terusan mencoba tidur lagi. Dan tetap tak bisa tidur. Detik – detik sunrise menyapa, Om Gepenk berteriak membangunkan penghuni Kampung Ranu Kumbolo.

Sunrise woy sunrise!!!!”

Dan disusul dengan resleting – resleting tenda yang berderit. Satu persatu manusia mulai merapat ke tepi Ranu dan berpose dengan macam – macam gaya. Ada yang gaya menangkap matahari, lompat, iklan kapal api, dan gaya aneh – aneh yang jarang tertangkap mata. Sedangkan aku hanya terdiam menatapi mentari yang bersenyum di belahan dua bukit. Kabut – kabut di atas Ranu menambah cantiknya panorama pagi itu. Membuat komposisi warna semesta yang pas. Warna keemasan yang sempurna. Indah.

Selain keindahan mentari, tenda peralatan tampak bertaburan es - es putih. Pantesan semalam dingin banget. Orang tidurnya di bawah es. Sandal - sandal berubah jadi es sandal. Ada es tenda, ada es sepatu.

Tiba – tiba, Om Gepenk menyeretku dan dijadikan objek foto, lalu gantian menyuruhku jadi jurkam. Setelah itu jadi objek sekaligus tukang fotonya Om Fajar. Wajar. Orang keren di dunia ini punya 2 profesi, kalau enggak tukang foto, ya objek foto. Gelak tawa pagi itu tercipta dan berbaur dengan keindahan senyum sang Mentari. Kulanjutkan aktivitasku dengan mencuci cangkir – cangkir sisa susu dan kopi semalam. Orang pada sibuk foto – foto, aku nyemplung aja ke Ranu buat nyuci. Berani beda itu kan baik. Iya kan, Ma!!

es tenda
Saat sedang asik godok air buat teh. Om Gepenk mengabari kalau dia bertemu rombongan Atika dan Suci. Kalau emang pingin muncak suruh bareng sama mereka saja. Kesempatan bagus, walau pun dititipkan seenggaknya aku bisa barengan sama mereka.
Ibu PKK masak air
Koki dapur kembali pada Om Gepenk, sedangkan aku menghampiri rombongan Atika dan Suci. Rombongan mereka berjumlah gede, 14 orang. Setelah ngobrol buat nebeng tenda n lain2, dan diterima mereka dengan baik. Aku pamitan kembali ke tenda. Tapi enggak sampai tenda, karena ikut Om Fajar nyari air sekalian jadi objek foto kameranya Mas Tatang.

Setelah sesi pemotretan yang lumayan memakan tenaga (maklum suruh manjat2 segala), aku kembali dengan membawa botol yang sudah berisi air. Tampaknya sarapan sudah siap. Packing. Salaman dengan Bang Kasih Abadi, Ay Runa, kawan dari Semarang, dan disangoni sepatu sekolah dari Ay Runa, aku berangkat dianter om Gepenk. Ternyata, mereka habis sarapan dan belum packing. Sambil menunggu mereka packing, aku bantu Atika mencuci nesting.
Packing selesai.
sesi pemotretan dengan om Fajar

bye - bye, tunggu aku di Kumbolo lagi (pamitan pas budal)

pemotretan again :)



Tepat 09.30, kami meninggalkan Ranu Kumbolo dan disambut dengan tanjakan cinta. Tanjakan yang tidak terlalu panjang itu ternyata cukup menguras tenaga. Walau pun sudah berulang kali aku dengar tentang mitosnya, tetap saja aku berhenti. Maklum nafas tua (alibi).

“Woy, sing mandek  oleh rondo, loh.”

Aku dapet janda dong? Hahahaha. Aku loh cuek. Sampe di puncak tanjakan cinta, kilau Ranu Kumbolo seakan menolak untuk ditinggalkan. Sesaat berhenti aku langsung disalami Bang Ateng.

“Selamat ya Rista! Anda berhasil!”
“Nguece, rek!!”
Oro - oro ombo


Hamparan Oro – oro ombo menyapa. Perlahan ku susuri setapaknya. Ranu Kumbolo baru saja ku tinggalkan, dan sekarang disambut dengan keindahan warna coklat Oro – oro Ombo. Padahal foto – foto dari Jambore Jejak Petualang bulan Juli, Oro – oro Ombo masih berwarna hijau, lengkap dengan lavender berwarna ungu. Kerreeen. Tapi ini sisi lain Oro – Oro Ombo saat musim kemarau. Coklat, luas dan Lapang seperti kasur yang sangat lebar.
Jambangan dengan Aremanita Nenjap
Hutan tropis sesudah Oro – oro ombo menjadi pintu gerbang. Hutan ini mempunyai nama Cemoro Kandang. Jalur yang memang tergolong landai, tapi entahlah aku jadi sering berhenti. Ku Ingat kembali buku 5 CM, di sini Genta tersesat. Semoga perjalananku dan kawan – kawanku tidak seperti Genta.

Tepat 11.00, kami berhenti di Jambangan. Puncak Mahameru menjadi teman perjalanan. Kekokohan puncaknya. Kegersangan puncaknya melambangkan kekuasaan pencipta-Nya. Perjalanan berlanjut kembali sampai di Kali Mati, tampak tenda berjejer – jejer. Edelweis terhampar indah. Berjalan di terik siang di antara rumpun – rumpun edelweiss yang melegenda ternyata membuat aku kembali bersyukur. Siapa sangka, aku yang terkenal tukang pingsan dan cengeng, bisa berada di sini. Aku tersenyum J Hanya ucapan terima kasihku pada Sang Pencipta yang mampu memberi kekuatan lebih dan tidak aku ketahui sebelumnya. Kekuatan semangat itu benar – benar hebat.

Ku cari, sobatku di Kali Mati. Ku panggil namanya lebih dari tiga kali, tetap saja tidak ada sahutan. Ya sudahlah. Mungkin g ketemu di sini. Di Surabaya aja kalau githu ketemunya. Sambil membantu mendirikan tenda – tenda. Setelah itu mencari air ke Sumber Mani untuk masak dan persediaan air untuk muncak. Air yang menetes di Sumber Mani sangat dingin, sampai – sampai tanganku langsung kaku dan berwarna merah. Dinginnya menusuk tulang – tulang jariku.

Sesaat setelah kembali, aku diajak foto – foto bareng bule. Enggak tahunya, malah ditarik seseorang yang ku kenal. Ya, Magnet dan kawan – kawan Raganala. Enggak jadi foto – foto bareng bule, malah jadinya foto  foto bareng bule lokalan Sidoarjo. Hahahahaha.

Ternyata salah satu dari mereka tertinggal saat muncak dan sekarang dititipin suruh bareng dengan aku dan kawan – kawan.Dari mereka lah aku tahu kalau Arif dkk baru saja turun. Aku kembali ke tendaku, makan sore dan menikmati senjaku di Kali Mati. Menonton orang – orang yang berlalu lalang ke Sumber Mani.

Sore berganti malam. Satu persatu mulai masuk ke tenda. Kembali aku merapat ke pojok tenda. Angin merobos masuk ke dalam dan membuatku bergidik kedinginan. Satu hal lagi pelajaran mala mini, ternyata tidak mempunyai cadangan lemak itu dapat membuatmu gampang terserang hawa dingin. Bang Ateng dengan baik hati mengambilkan matrasku dan melapisi dinding tenda dengan matras. Oke, time for sleep.