Tidak ku sangka, obrolan terakhir
denganmu via telepon akan menjadi semangatku.
“Mau jemput ta?”
“Iya, tapi ngecamp di kokopan ya?”
“Bener?”
“Bener kok, asal ngecamp ya?”
“Hahahaha, udah dulu ya?”
“Hati-hati ya, Assalamu ‘alaikum.”
“Wangalaikum salam.”
Tut tut tut. Telepon terputus
![]() |
| 3.156 Mdpl |
Perjalanan turun dari pondokan yang
disertai hujan dan kabut memaksaku dan teman-teman harus berhenti di gubuk
kecil atas kokopan. 1 jam lebih, kami berteduh dan ditemani kawan-kawan baru
dari Sengkaling yang berbaik hati membuatkan energen.
Kantuk perlahan mulai menyergapku, ku
geletakkan kepalaku di atas carier. Dan mulai mengarungi samudra mimpi di bawah
kepungan kabut dan guyuran hujan.
Pukul 15.50 WIB
Aku terbangun dan dengan jumlah
teman-teman yang lengkap. Hujan pun telah berubah jadi gerimis. Kami
bersiap-siap turun kembali.
Terseok-seok langkah kakiku menuju Pet
Bocor di bawah jas hujan. Dingin sudah tak berasa lagi. Entah kenapa, sampai
Pet Bocor 2, kakiku sudah enggan melangkah.
Viper dan Kak Badak sudah berjalan duluan
karena viper sudah tidak kuat menahan pipis. Sedangkan aku di belakang bersama
Kak Orong-orong yang kondisinya sudah drop karena kakinya seakan sudah tidak
kuat menopang tubuhnya.
Pikiranku berlari. Percakapan telepon
dengan Mas Gundul bermain dalam memory.
“Ayo Ta! Ayo Kak! Kita harus sampai bawah”
ucapku menyemangati. Tak sadar jalanan aspalan itu membuatku jatuh terpeleset. Aduh
sakitnya, aku meringis menahan tangis tapi air mataku merembes keluar. Ku coba
berdiri. Duhai, sakitnya. Aku harus kuat berdiri lagi.
Perlahan, ku seret kakiku yang hanya
menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Yang kupikirkan, aku harus bisa jalan
tanpa menyusahkan Kak Orong-orong yang sudah kepayahan. Saat itu yang muncul di
kepalaku hanya :
Sebuah senyum yang menyambutku di pos
perijinan dengan menawarkan teh anget manis. Senyum milik Mas Gundul atau Mas
Wisnu atau Mas Zaenal Arifin.
Dia pasti nunggu di bawah. Padahal aku
tahu, dia tak akan ada di bawah tapi aku memaksa otakku agar yakin dia ada di
bawah.
Semangatku memuncak.
“Kak Orong-orong, bagaimana kalau kita
balapan lari sampai bawah, hahaha..”
“Kamu ngawur, Dek. Kakiku udah g kuat
menopang tubuh malah diajak lari, nanti kalau malah jatuh gimana?”
“hahahaha...”
Aku tertawa.
“Kak Orong, bayangin aja kita ini sebagai
pejuang terakhir yang masih ada di dalam hutan. Sedangkan orang-orang sudah
mengira kita ini mati di medan perang. Kemudian kita datang di titik akhir
dengan keadaan gak karu-karuan, compang camping, basah kuyup dan setengah
hidup. Lihatlah Kak, orang-orang pasti akan menyambut kita dengan genderang.
Kereeeeen kan, Kak!”
Kak Orong-orong tersenyum, aku tertawa.
Pos Perijinan sudah di depan mata.
Dan dia, tidak menungguku di Pos
Perijinan tapi dia selalu aku bawa di hatiku.
Terima kasih untuk senyummu yang
menyemangatiku.
Love u, Wisnu


Tidak ada komentar:
Posting Komentar