Pages

Rabu, 11 Juli 2012

Senyum Semangat


Tidak ku sangka, obrolan terakhir denganmu via telepon akan menjadi semangatku.
“Mau jemput ta?”
“Iya, tapi ngecamp di kokopan ya?”
“Bener?”
“Bener kok, asal ngecamp ya?”
“Hahahaha, udah dulu ya?”
“Hati-hati ya, Assalamu ‘alaikum.”
“Wangalaikum salam.”

 Tut tut tut. Telepon terputus

3.156 Mdpl


Perjalanan turun dari pondokan yang disertai hujan dan kabut memaksaku dan teman-teman harus berhenti di gubuk kecil atas kokopan. 1 jam lebih, kami berteduh dan ditemani kawan-kawan baru dari Sengkaling yang berbaik hati membuatkan energen.
Kantuk perlahan mulai menyergapku, ku geletakkan kepalaku di atas carier. Dan mulai mengarungi samudra mimpi di bawah kepungan kabut dan guyuran hujan.

Pukul 15.50 WIB
Aku terbangun dan dengan jumlah teman-teman yang lengkap. Hujan pun telah berubah jadi gerimis. Kami bersiap-siap turun kembali.
Terseok-seok langkah kakiku menuju Pet Bocor di bawah jas hujan. Dingin sudah tak berasa lagi. Entah kenapa, sampai Pet Bocor 2, kakiku sudah enggan melangkah.

Viper dan Kak Badak sudah berjalan duluan karena viper sudah tidak kuat menahan pipis. Sedangkan aku di belakang bersama Kak Orong-orong yang kondisinya sudah drop karena kakinya seakan sudah tidak kuat menopang tubuhnya.

Pikiranku berlari. Percakapan telepon dengan Mas Gundul bermain dalam memory.
“Ayo Ta! Ayo Kak! Kita harus sampai bawah” ucapku menyemangati. Tak sadar jalanan aspalan itu membuatku jatuh terpeleset. Aduh sakitnya, aku meringis menahan tangis tapi air mataku merembes keluar. Ku coba berdiri. Duhai, sakitnya. Aku harus kuat berdiri lagi.

Perlahan, ku seret kakiku yang hanya menyisakan rasa sakit yang luar biasa. Yang kupikirkan, aku harus bisa jalan tanpa menyusahkan Kak Orong-orong yang sudah kepayahan. Saat itu yang muncul di kepalaku hanya :

Sebuah senyum yang menyambutku di pos perijinan dengan menawarkan teh anget manis. Senyum milik Mas Gundul atau Mas Wisnu atau Mas Zaenal Arifin.

Dia pasti nunggu di bawah. Padahal aku tahu, dia tak akan ada di bawah tapi aku memaksa otakku agar yakin dia ada di bawah.

Semangatku memuncak.
“Kak Orong-orong, bagaimana kalau kita balapan lari sampai bawah, hahaha..”
“Kamu ngawur, Dek. Kakiku udah g kuat menopang tubuh malah diajak lari, nanti kalau malah jatuh gimana?”
“hahahaha...”
Aku tertawa.
“Kak Orong, bayangin aja kita ini sebagai pejuang terakhir yang masih ada di dalam hutan. Sedangkan orang-orang sudah mengira kita ini mati di medan perang. Kemudian kita datang di titik akhir dengan keadaan gak karu-karuan, compang camping, basah kuyup dan setengah hidup. Lihatlah Kak, orang-orang pasti akan menyambut kita dengan genderang. Kereeeeen kan, Kak!”

Kak Orong-orong tersenyum, aku tertawa. Pos Perijinan sudah di depan mata.
Dan dia, tidak menungguku di Pos Perijinan tapi dia selalu aku bawa di hatiku.

Terima kasih untuk senyummu yang menyemangatiku.
Love u, Wisnu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar