Deru
knalpot motor mengguncangkan Surabaya .
Jalanan penuh lautan manusia berwarna hijau. Kemacetan jalan sudah bisa
diprediksi. Persebaya dan boneknya. Keduanya adalah ikon Surabaya selain patung suro dan boyo.
Seperti
tahun – tahun yang lalu, jika musuh lapangan mereka tampil di kota
pahlawan maka dipastikan ruas – ruas jalan penuh dengan supporter fanatic klub
sepak bola milik kota
itu. Bising, penuh polusi dan terkesan ugal – ugalan.
“Kon
budal disik ae. Engkok aku tak nyusul nang Gelora Bung Tomo.”
“Nangdi
kon?”
“Sik
jemput ibuku.”
“Yon
gene iki, Bonek sing anak mami.”
“Jancok,
Kon!”
Pemuda
berusia 20 tahun itu meninggalkan kerumunan temannya. Dengan motor pretelan dan
knalpot blong – blongannya dia membelah jalan macet Surabaya . Tak lama kemudian, handphone
berdering. Sebuah nama muncul. Ibu.
“Iya,
Bu. Bentar lagi sampai kok. Macet ni.”
Cuma
satu kalimat itu yang keluar dari bibirnya kemudian melanjutkan perjalanannya.
Di depannya sebuah truk besar berplat N. Plat dari kota musuh bebuyutan Bonek. Tiba – tiba truk
besar itu mendadak berhenti di tengah jembatan yang agak sepi. Melihat truk
yang tiba – tiba berhenti di depannya, otomatis dia langsung berhenti. Dan
turun dari motornya.
Dari
dalam truk muncul seorang pemuda kurus. Lebih kurus dari pemuda yang menaiki
motor. Matanya penuh dendam.
“Bonek
anjing!! Mati kamu!”
Perkelahian
tak dapat dihindari. Jembatan itu menjadi medan
laga dari dua supporter dua klub sepak bola besar di Indonesia . Baku hantam membuat keduanya tak peduli
dengan suasana jembatan yang makin ramai. Pemuda bermotor itu kalah lihai dan
kalah teknik. Dia ambruk. Dengan sekali lemparan, pemuda bermotor itu melayang
terjun ke dalam sungai. Dan truk itu kembali melaju kencang.
***
Tubuh
itu hanyut. Dan terus hanyut. Mengalir mengikuti arus.
***
“Ibu!
Ibu!”
“Ada apa Rif ?”
“Mayat,
Bu! Ada mayat
hanyut!”
Perempuan
tua itu berlari ke sungai. Sesosok mayat tersangkut di antara kaki – kaki WC
yang mengapung di atas sungai. Tangan renta mencoba menjangkau dan diseretnya
tubuh pucat itu ke pinggir sungai. Tangan itu kembali sibuk mencari sisa
kehidupan di tubuh mayat itu. Ada
senyut nadi walau pun teramat lemah dan nyaris tak terasa.
“Hidup,
Le. Dia bukan mayat.”
“Syukurlah,
Bu. Ayo dibawa pulang. Kasihan, Bu.”
Dengan
susah payah, ibu dan anak itu mengangkat tubuh pemuda itu ke dalam gubuk
mereka. Memang tak layak dibilang rumah karena luasnya hanya sepetak dengan
ukuran 4 x 5 m yang dibagi menjadi 3 ruangan. Dua kamar tidur dan sebuah ruang
tamu sekaligus dapur.
“Biar
dia berbaring di kamar Arif aja, Bu. Sekalian biar Arif yang gantikan bajunya.
Tadi Arif dikasih baju orang tapi kegedean banget.”
“Ya
udah, nanti ibu bikinkah teh anget. Siapa tahu dia sebentar lagi sadar.”
Setelah
sampai di kamar Arif, pemuda itu langsung digantikan bajunya. Sebuah kaos
panjang hitam dengan bawahan sarung sudah melekat di tubuh pemuda itu.
“Ibu,
Mas itu kok bisa hanyut ya?”
“G
tahu, Le. Mungkin dia mancing terus kepleset.”
“Kasihan
ya, Bu. Untung masih hidup.”
“Kamu
jagain dia, Le. Siapa tahu dia sadar. Ibu udah masak sama buat teh angetnya.
Nanti kalau sadar kamu urusin dia ya. Ibu mau ke pasar jual sayur.”
"Mas bingung ya? Ini rumah Arif. Saya menemukan Mas saat hanyut di sungai."
Terakhir yang diingatnya adalah perkelahiannya dengan penumpang truk. Dan kemudian dia tak ingat sama sekali.
"Diminum dulu tehnya, Mas. Perut Mas kayanya perlu diisi."
"Terima kasih, tapi ini di mana?"
"Di rumah saya. Masih Surabaya kok. Mas ini orang Surabaya kan?"
"Iya, hari ini hari apa?"
"Jum'at, Mas."
Kamis siang dia mau menjemput ibunya sebelum ikut mendukung Persebaya. Berarti dia sudah satu hari menghilang. Pasti ibunya sangat kawatir.
"Aku mau pulang."
"Mas, boleh pulang kok, asal Mas sudah kuat buat pulang. Oh, saya Arif. Masnya namanya siapa?"
"Deka. Aku Deka. Kamu masih sekolah?"
"Ya, masih lah, Mas. Aku masih kelas 2 SMP."
"Sekolah dimana?"
Arif menyebutkan salah satu sekolah RSBI di Surabaya. Mata Deka terbelalak kaget. Bagaimana bocah pinggir sungai yang dekil ini bisa menembus SMP yang menjadi incaran banyak orang. Arif kemudian menceritakan bagaimana perjuangannya melanjutkan SMP dan mendapatkan beasiswa di SMP itu. Deka semakin tak percaya, bocah SMP di depannya ini jauh lebih berprestasi dari pada dia yang kuliahnya masih sering ditinggal - tinggal.
"Kamu tinggal sama siapa, Rif?"
"Ibu, Mas. Kami berkebun sayur di pinggir sungai."
"Bapak kamu?"
"Bapak udah wafat, Mas. Dia wafat saat mendukung salah satu klub sepak bola."
"Sori, Rif!"
"G papa. La wong itu kenyataan kok."
Arif tersenyum. Tak terlintas kesedihan di matanya. Perut Deka berbunyi nyaring. Genderang protes dari penghuni perut sudah muncul. Dia meringis menahan lapar. Mau makan dimana dan makan apa dia bingung.
"Makan dulu, ya. Saya ambilkan."
Bocah itu berlalu meninggalkannya. Terdengar suara piring dan sendok beradu di depan kamar. Tak lama, dia muncul dengan sepiring nasi putih, oseng kangkung dan tempe goreng.
"Kami hanya punya ini. Mungkin beda dengan masakan di rumah Mas."
Deka menerima piring itu dengan senang. Dia makan begitu lahap. Makanan sederhana itu terasa sangat mewah dan enak di mulutnya. Selang beberapa menit, piring itu sudah kosong. Tak ada satu pun nasi yang tersisa.
"Mau nambah?"
Deka menggeleng pelan. Diteguknya sisa teh yang sudah mendingin. Arif begitu tulus. Dia sudah menyelamatkan nyawanya dan sekarang pun dia masih merepotkan Arif dan ibunya.
"Mas, istirahat dulu. Saya mau mancing. Siapa tahu kita bisa makan enak malam ini."
"Boleh ikut, Rif?"
"Mas, istirahat saja. Kayanya tubuhnya masih lemas."
"G papa, saya kuat kok!"
Deka mengikat sarungnya. Dan menuruni dipan reot tempatnya terbaring. Kemudian pelan - pelan dia mencoba berdiri. Kepalanya memang agak pusing. Tapi dia berusaha berdiri. Arif tampaknya sudah menunggunya di depan rumah. Deka berjalan keluar dengan menatap setiap detik rumah itu. Hatinya miris. Rumah itu dari tripek. Jika ada angin kencang dipastikan rumah itu bakal ambruk.
Halaman rumah tripek itu bersih. Sepetak tanah kecil itu dipagari dengan bunga - bunga warna - warni. Rumputnya yang hijau seperti permadani. Sebuah tiang bambu berdiri tegap dengan selembar kain bendera yang berkibar gagah. Merah putih.
Bagaimana mungkin rumah reot pinggiran sungai itu begitu nasionalisme. Deka termenung. Bahkan dalam setahun, dia hanya akan mengibarkan bendera saat ada perintah dari ibunya untuk mengibarkan sang saka. Dan itu pun terjadi saat 17 Agustus.
"Yuk! Turun, Mas!"
"Kita mancing di bawah pohon itu saja."
Deka beranjak turun ke pinggir sungai. Arif sudah duduk dengan sebuah buku. Kelihatannya perpaduan membaca dan memancing itu asyik bagi Arif. Deka membawa sebuah kresek hitam sebagai alas duduknya.
"Kenapa kamu hari ini g sekolah, Rif?"
"Jagain Mas. Ibu kan harus ke pasar."
"Maaf, ya..."
"G apa, Mas. Mas kok bisa hanyut sih?"
"Aku berkelahi, rif. Terus jatuh ke sungai."
"Wah!! Untung Mas selamat."
"Rif, boleh minta ijin g?"
"Kaya sekolah saja minta ijin segala."
"Saya boleh g tinggal di sini beberapa hari lagi."
"Boleh, Mas. Saya senang punya teman. Eh, salah, punya kakak kaya Mas Deka."
***
Suara batuk - batuk muncul dari kamar Arif. Tak lama kemudian, terdengar seperti orang muntah. Arif segera berlari ke kamarnya. Pemuda itu sudah sadar. Dari mulutnya keluar air sungai yang tertelan saat hanyut. Mata pemuda kurus itu mengawasi Arif. Ingatannya belum kembali sepenuhnya. Dia kebingungan."Mas bingung ya? Ini rumah Arif. Saya menemukan Mas saat hanyut di sungai."
Terakhir yang diingatnya adalah perkelahiannya dengan penumpang truk. Dan kemudian dia tak ingat sama sekali.
"Diminum dulu tehnya, Mas. Perut Mas kayanya perlu diisi."
"Terima kasih, tapi ini di mana?"
"Di rumah saya. Masih Surabaya kok. Mas ini orang Surabaya kan?"
"Iya, hari ini hari apa?"
"Jum'at, Mas."
Kamis siang dia mau menjemput ibunya sebelum ikut mendukung Persebaya. Berarti dia sudah satu hari menghilang. Pasti ibunya sangat kawatir.
"Aku mau pulang."
"Mas, boleh pulang kok, asal Mas sudah kuat buat pulang. Oh, saya Arif. Masnya namanya siapa?"
"Deka. Aku Deka. Kamu masih sekolah?"
"Ya, masih lah, Mas. Aku masih kelas 2 SMP."
"Sekolah dimana?"
Arif menyebutkan salah satu sekolah RSBI di Surabaya. Mata Deka terbelalak kaget. Bagaimana bocah pinggir sungai yang dekil ini bisa menembus SMP yang menjadi incaran banyak orang. Arif kemudian menceritakan bagaimana perjuangannya melanjutkan SMP dan mendapatkan beasiswa di SMP itu. Deka semakin tak percaya, bocah SMP di depannya ini jauh lebih berprestasi dari pada dia yang kuliahnya masih sering ditinggal - tinggal.
"Kamu tinggal sama siapa, Rif?"
"Ibu, Mas. Kami berkebun sayur di pinggir sungai."
"Bapak kamu?"
"Bapak udah wafat, Mas. Dia wafat saat mendukung salah satu klub sepak bola."
"Sori, Rif!"
"G papa. La wong itu kenyataan kok."
Arif tersenyum. Tak terlintas kesedihan di matanya. Perut Deka berbunyi nyaring. Genderang protes dari penghuni perut sudah muncul. Dia meringis menahan lapar. Mau makan dimana dan makan apa dia bingung.
"Makan dulu, ya. Saya ambilkan."
Bocah itu berlalu meninggalkannya. Terdengar suara piring dan sendok beradu di depan kamar. Tak lama, dia muncul dengan sepiring nasi putih, oseng kangkung dan tempe goreng.
"Kami hanya punya ini. Mungkin beda dengan masakan di rumah Mas."
Deka menerima piring itu dengan senang. Dia makan begitu lahap. Makanan sederhana itu terasa sangat mewah dan enak di mulutnya. Selang beberapa menit, piring itu sudah kosong. Tak ada satu pun nasi yang tersisa.
"Mau nambah?"
Deka menggeleng pelan. Diteguknya sisa teh yang sudah mendingin. Arif begitu tulus. Dia sudah menyelamatkan nyawanya dan sekarang pun dia masih merepotkan Arif dan ibunya.
"Mas, istirahat dulu. Saya mau mancing. Siapa tahu kita bisa makan enak malam ini."
"Boleh ikut, Rif?"
"Mas, istirahat saja. Kayanya tubuhnya masih lemas."
"G papa, saya kuat kok!"
Deka mengikat sarungnya. Dan menuruni dipan reot tempatnya terbaring. Kemudian pelan - pelan dia mencoba berdiri. Kepalanya memang agak pusing. Tapi dia berusaha berdiri. Arif tampaknya sudah menunggunya di depan rumah. Deka berjalan keluar dengan menatap setiap detik rumah itu. Hatinya miris. Rumah itu dari tripek. Jika ada angin kencang dipastikan rumah itu bakal ambruk.
Halaman rumah tripek itu bersih. Sepetak tanah kecil itu dipagari dengan bunga - bunga warna - warni. Rumputnya yang hijau seperti permadani. Sebuah tiang bambu berdiri tegap dengan selembar kain bendera yang berkibar gagah. Merah putih.
Bagaimana mungkin rumah reot pinggiran sungai itu begitu nasionalisme. Deka termenung. Bahkan dalam setahun, dia hanya akan mengibarkan bendera saat ada perintah dari ibunya untuk mengibarkan sang saka. Dan itu pun terjadi saat 17 Agustus.
"Yuk! Turun, Mas!"
"Kita mancing di bawah pohon itu saja."
Deka beranjak turun ke pinggir sungai. Arif sudah duduk dengan sebuah buku. Kelihatannya perpaduan membaca dan memancing itu asyik bagi Arif. Deka membawa sebuah kresek hitam sebagai alas duduknya.
"Kenapa kamu hari ini g sekolah, Rif?"
"Jagain Mas. Ibu kan harus ke pasar."
"Maaf, ya..."
"G apa, Mas. Mas kok bisa hanyut sih?"
"Aku berkelahi, rif. Terus jatuh ke sungai."
"Wah!! Untung Mas selamat."
"Rif, boleh minta ijin g?"
"Kaya sekolah saja minta ijin segala."
"Saya boleh g tinggal di sini beberapa hari lagi."
"Boleh, Mas. Saya senang punya teman. Eh, salah, punya kakak kaya Mas Deka."
bersambung...