Pages

Selasa, 25 September 2012

Mahameru. Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (IV)


23 Agustus 2012
Pukul 04.30, mata ini sudah terbuka dan aku langsung ke kamar mandi. Tak lama sudah terdengar orang – orang terbangun dan membuat sedikit keributan kecil. Keril – keril sudah mulai bergeser ke teras rumah.

Jam 06.00, istri Pak Laman memberitahu kalau truknya akan segera berangkat. Sambil mengangkat keril ke truk sayur, ku tatap kawan – kawan lainnya sudah saling bantu membantu menaikan keril. Hap! Dan aku sudah berada di dalam bak truk. Tepat pukul 06.30, truk mulai melaju. Jalan aspal mulai nanjak tetapi kiri – kanan jalan masih penuh dengan perkampungan. Beberapa saat ada seorang yang mengejar truk kami menggunakan motorku dan berteriak kalau ada yang tertinggal. Ah, ternyata itu foto copyan KTP yang sengaja ditinggal Om Gepenk.
Melewati hamparan kebun – kebun. Angin yang berhembus membuatku melayang. Dingin dan mendamaikan. Celoteh – celoteh ria penumpang truk mulai mengiringi perjalanan sambil sesekali menggoda sepeda motor yang setengah kuat setengah tidak melewati tanjakan – tanjakan.

Saat ada sempalan jalan , ke kiri menuju Bromo, dan ke kanan ke Ranu Pani. Slide - slide lukisan nyata dari Penguasa Semesta menemai. Aku hanya mampu mengagumi keindahan Bromo. Benar – benar seperti lukisan. Indah dan sangat indah. Hamparan pasir. Bukit Teletubies. Punggungan dan lembah tertata rapi seperti diiris pisau sangat besar membentuk keindahannya yang sangat luar biasa.

“Menunduk, awas ranting.”
Prak! Sakit! Haduh, lumayan juga rasanya saat tersapu ranting dari kiri truk dan diiringi cekikikan yang melihat. Dasar g berperi kemanusiaan tuh, masa di ketawain. Hahahahaha. Menjelang Ranu Pani, kibar bendera merah putih dan lampion – lampion mulai menampakan semarak HUT RI. Desa yang jauh dari keramaian dan penuh kedamaian malah menunjukkan kemeriahan Kemerdekaan Indonesia. Mas - mas yang ada di depanku menceritakan jalur pendakian SOE HOK GIE yang nyempal ke kanan sebelum jalur konvensional yang sekarang biasa dipakai pendaki. Jalur itu digunakan warga dan porter. Jarang sekali pendaki lewat situ.

Soe Hok Gie, akankah kaki kecilku ini mampu menapaki tilas - tilas keberanianmu ?

Ranu Pani, 23 Agustus 2012, 08.10 WIB
kawan baru, aku paling cantik. ahahahaha


Pos pendakian ramai sekali. Keril – keril dan pemiliknya berkerumun. Om Fajar menunjukkan padaku si Lurah Parkiran masih di Ranu Pani. Ku sapa dia sebentar. Eh, dia langsung menyuruhku memakai lips gloss dan mengajariku mamakainya. Hahaha. Kalah saingan, dia kan biasa mangkal.
lurah parkiran vs kapur tulis
Sarapan sebentar dengan menu soto ayam, dilanjutkan oleh Om Fajar nyari kaos Mahameru yang pas untuk badannya (maklum oversize), sebuah cangkir dan emblem untukku Berbeda aku, karena g bawa kamera, aku numpang narsis sama Lurah Parkiran dan kawan Raganala. Sedangkan Om Gepenk bertugas jaga keril.



Start point. Yups, pukul 09.30 WIB. Dari 3 orang berubah menjadi belasan orang dengan satu – satunya cewek di sana. Menjelang gerbang pendakian, orang – orang pada antri narsisan, begitu juga dengan aku. Awalnya jalannya santai dengan mereka. Mungkin karena aku, Om Gepenk dan Om Fajar terlalu nyantai (wajar kita tidak terkejar waktu), Arif dan kawan dari Bekasi mulai mempercepat langkahnya sedangkan kita tetap berjalan beriringan dengan Septian dan kawan – kawan Raganala Sidoarjo. Salah seorang dari Sidoarjo sering sekali berhenti dan tidur karena cedera di kakinya.  
Landengan Dowo


”Pos satu, bro. Eman – eman lek g dilereni. Nggawene angel iki. Sik leren disik.”
Kawan – kawan Raganala terus melanjutkan perjalanannya. Tinggal 4 orang dan seorang lagi yang tertinggal. Tak lama perjalanan dilanjutkan dan 2 orang tersebut mulai mempercepta

Ranu Pane – Ladengan Dowo – Watu Rejeng – Ranu Kumbolo. Debu mulai mengudara setiap kaki berpijak. Saat Ranu Kumbolo menampakan pesonanya, ku letakkan kerilku. Menikmati pesonanya dengan makan camilan. Akhirnya aku melihatnya secara langsung, bukan dari situs – situs di internet.


Ranu Kumbolo, 23 Agustus 2012, 15.10 WIB
Aku di sini. Di Ranu Kumbolo. Tempat yang sangat ingin ku kunjungi
Ku hirup udara yang berhembus di sana, ada kedamaian
Luapan rasa membuatku mengharu biru
Ternyata tempat ini tak sejauh yang ku bayangkan, asal kaki ini terus melangkah

Bertemu Lurah Parkiran lagi. Sedikit ngobrol – ngobrol dan ternyata dia langsung ke Kali Mati. Dia kembali mengajakku barengan muncak jika kawan – kawanku g muncak. Di sini aku galau, menunggu kepastian dan bingung. Kata hati ingin muncak, tapi soal kebenaran Bang Fajar ke Kali Mati juga belum pasti. Ah, sudahlah, jika Allah berkenan untuk melangkahkan kakiku ke puncak, aku pasti ke puncak.

”Sukses ya, Mbem. Nanti aku cari deh adekmu. Harusnya dia malam ini ngecamp di Kumbolo.”
”Cariin yo, ular.”

Kami bertiga saling membantu mendirikan tenda. Om Gepenk melanjutkan aksi masaknya. Menu sore ini ”Tiwul dan Ikan Asin plus Sambal Terasi”. Menu khas desa.
Acara masak jamaah cukup ramai. Tenda – tenda dari kawan – kawan bang Kasih Abadi dibentuk Leter U. Susunan tenda yang pas dengan untuk menatap sunrise esok hari. Ah, sialnya. Sebuah tenda malah dipasang di depan tendaku. Ckckckck. Ga sopan, tapi ya sudahlah.

Mulut – mulut kepedasan tampak mangap – mangap. Apalagi ikan asinnya, amat sangat asin. Kapoook. Ikannya kan belum direndam. Matahari berlabuh pada peraduannya. Langit pun gelap. Muncul perapian di depan beberapa tenda.
Tiba – tiba....

Duaaarr!!!!!Duaaarr!!!!!Duaaarr!!!
Percikan kembang api mewarnai udara di atas Ranu Kumbolo. Dan disusul teriakan untuk segera menghentikan dengan alasan menganggu keberadaan burung – burung. Tapi tetap saja kembang api itu tak bisa dihentikan. Semarak Ranu Kumbolo saat Syawal Camp.

Tapi kedamaian malam itu cukup membuatku terenyuh. 

Ketika hatiku tak yakin, aku berada di sana
Ku tatap Ranuku, bintangku dan tanahku
Kilau air malam ini membuatku melayang
Percaya, ah tidak percaya

Benarkah aku di sini?
Di tempat yang serasa di ujung duniaku
Kini terasa begitu dekat




Mahameru. Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (III)


Akhirnya menjelang petang, dua Om ku ini baru sampai di rumah Pak Laman dengan kresek gede penuh belanjaan yang berisi kardus sepatu dan isinya merk Rei, 2 bh kervus orange, 2 buah sarung tangan polar (satu buat aku. Makasih lagi Om Fajar), Carabiner Eiger, dan sepasang gaiter (yang pada akhirnya kembali ke saya kerena suatu hal yang dilarang dipubiklasikan). Rasanya pendakian kali ini dapat THR terus dari Om Fajar. Matur Suwun banget, Om. Satu kresek lagi berisi 3 botol air besar, dan satu kresek kecil berisi jeruk, apel, lontong, lepet. Jajan rampokan.

Semakin malam, semakin rame. Banyak teman – teman pendaki yang berdatangan. Lima orang cowok lagi yang nambah. Melihat sepatu milik Bang Fajar, salah satu orang bertanya.
“Beli dimana, bang?”
“Di counter.”
“Kalau beli sepatu mending ke Roma aja. Kemarin ada karimor harganya 130 ribu.”
“Jauh banget di Roma, counternya di mana tuh?”
“Roma, Bang. Rombengan Malam. Kalau siang kan Rosi. Rombengan Siang.”
Langsung saja kami tertawa.
“Sejenis pasar maling atau gembong kalau di Surabaya. Kalau di Kediri, Gringging ya?” tanyaku.
“Bener, mbak.”
“Nama loakannya keren, Roma.”

Malam yang semakin sunyi dan semakin dingin. Perut juga semakin melilit. Huft, laper! Padahal sore tadi sudah ditawari makan sama istri Pak Laman dan ku tolak dengan alasan abis makan bakso. Ya sudahlah, makaaann dulu sana di pasar Tumpang sekalian survei kedatangannya si Arif yang tetep mbulet soal keberangkatannya.
Om Fajar yang baik hati 

Dengan mengendarai si Beatyku yang Imut dan Lucu karena motornya Om Gepenk dipinjam Pak Laman. Si Beaty kasihan banget ya, harus dinaikin orang tiga, dengan kondisi over size githu (Sumpah, Ampun Om Fajar :p). Tak lama kemudian sampai di pasar Tumpang. Alfamart tetap saja ramai oleh orang yang belanja logistic. Tiba – tiba ada cowok tembem mengejar motorku dan berteriak kesetanan memanggil namaku. Siapa lagi kalau bukan Lurah Parkiran. Aku turun dari motor menyalami dan berencana ngajak istirahat di rumah Pak Laman. Baru besok pagi mulai nanjak bareng. Tapi mereka menolak dengan alasan ada barengan naik jeep untuk ke ranu pani malam itu juga dan lagian kalau kondisi memungkinkan malam itu juga mereka bakalan langsung naik soalnya teman – teman dari Bekasi bermasalah dengan tiket kereta. Sempat berkenalan dengan rombongannya Arif. Bahasanya pake gua lu. Sumpah bahasa gue banget sama Tembem. Walau pun aku asli Trenggalek, dan Arif asli Sidoarjo tapi kalau sms, chating, dan sebagainya, kita sering banget ledek – ledekan ala Betawi.

“Ular, lu muncak kagak?”
Ular itu panggilan si Arif buat gue. Kalau g ular ya Kapur Tulis. Sial, ni bocah.
“Ga tahu gue, barengan gue katanya Cuma ngecamp di Kumbolo. Gue sih pinginnya muncak. Tapi tahulah.”
“Lu naik ma gue aja, tapi cewek tuh selalu bikin repot kalau di hutan.”
“Sialan lu, Pak Lurah. Kapan gue pernah bikin repot lu?”
“Hahaha... bilang saja lu seneng kalau barengan ama gue terus. Tapi gue yang selalu sial bareng ama lu terus. Mana jauh – jauh ketemu ama lu lagi di sini. Jelek banget ya nasib gue kalau harus ketemu lu.”
“Topi topi.”
“Nih, pake topi gue, ntar lu kembaliin pas di Ranu Kumbolo. Awas lu jagain tu topi. Cari gue di Ranu Kumbolo.”
“Lu tuh aslinya mau ketemu gue. Ya udah gue mau ke Alfamart.”

Topi hitam itu sudah menutupi puncak jilbabku. Ku tolehkan kepalaku ke belakang. Tampak Tembem kembali ke teman perjalanannya. Celingak celinguk cari barang sebentar. Pas di kasir ketemu Shock dkk. Jiahh, kenapa gue harus ketemu anak – anak ini di sini. Setelah PALAGAN – R dan di kelurahan SIMO MULYO.
“Woy, lapo kon?”
“La iki loh areke sing ngentekne memori kamera pas PALAGAN. Sumpah Gipo banget (Gila poto).”
“Endi, Sep?”
“Iki loh, jenenge Rista.” Sambil nunjuk ke aku.
“G sopan, cak. Ngrasani uwong neg ngarepe. Budal kapan? Barengan ambek Arip ta? Numpak Jeep a?”
“Mari ngene budal, mumpung ketemu rombongane arip dadi kenek barengan. Sampean neg ndi manggone?”
“Omahe pak Laman. Nginep kono ae terus budal isuk.”
“Kadung, Mbak. Lek mau g onok barenganne yo katene budal isuk. Nginepe yo tunggal neg umahe Pak Laman. La iku Jeep ngarep sing katene gawe budal iku Jeep Pak Laman.”
“Yow wis, ati – ketemu nang ranu kumbolo yo, cak.”

Aku kembali ke tempat makan Om Fajar dan Om Gepenk. Mereka sudah asik dengan menu makan malamnya sedangkan aku hanya memesan teh anget.
“Loh, oleh topi?”
“Iyo, topine Arif, kon mbalikne nek Ranu Kumbolo.”
“Areke sido budal bengi iki?”
“Sido, jarene sikon lek memungkinkan, bengi iki langsung nanjak.”
“Wuih…”
“Iyo, mlakune Arif iku sangar. Lek areke wis weruh gayaku mlaku. Tapi lek aku kon ngetutne gaya mlakune Arif. Ogah, kaga sudi. Aku mau diajak munggah bareng. hhehehe.”
“Uwis ta?”
“Hayuk, balik. Ngantuk.”

Saat perjalanan pulang. Topiku terbang kena angin. Terpaksa putar balik untuk mengambilnya. Soalnya topi titipan. Temben ini ada – ada saja. Aku tahu dia ngasih topi ini buat semangatin jalan aku. Tembem yang ku kenal selalu baik dan ramah sama orang. Kadang aku bersyukur ketemu anak satu ini. Tapi kadang dia sangat menjengkelkan karena sering aku kalah ngomong dengan dia.

Setelah sampai di rumah Pak Laman, ternyata rumah sudah full dengan pendaki. Soffa – sofa dan kasur sudah terisi penuh. Akhirnya mau tak mau terpaksa tidur di atas karpet dengan selimutan cover tenda. Tidurku cukup blingsatan karena lampu dinyalakan, sedangkan aku tidak terbiasa dengan ruangan terang. Tapi apa boleh buat, Om Fajar malah bisa tidur dengan lampu yang dimatikan. Menunggu Om Fajar tertidur, akhirnya lampu aku matikan dan tidur.

Kamis, 20 September 2012

Mahameru, Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (II)


Pak Laman dengan sangat baiknya sudah berdiri di depan rumahnya. Keril segera dimasukkan, sepeda segera di parkir di sebelah jeep. Tampak rumah Pak Laman masih lengang. Sebuah buku folio tergeletak di atas meja di sela – sela toples  jajan lebaran. Buku coretan kesan – kesan perjalanan dan keluarga Pak Laman dari pendaki atau wisatawan ke Bromo atau ke Semeru.

Om Fajar & Om Gepenk
di rumah Pak Laman

Menu malam ini, ngobrol – ngobrol dengan Om Fajar dan Om Gepenk. Di situlah aku baru tahu ternyata mereka berdua hanya berniat kemping di Ranu Kumbolo untuk reunian dengan Bang Kasih Abadi. Kalau memungkinkan memang Om Gepenk mau nemenin aku sampai puncak sedangkan Om Fajar ngecamp di ranu kumbolo. Tapi sayangnya satu tendanya tidak dibawa. Ya sudahlah, lihat sikon nanti apalagi ada kemungkinan Om Fajar mau jalan sampai Kali Mati. Sedikit agak kecewa kalau hanya sampai Ranu Kumbolo, tapi aku tidak mungkin memaksakan mereka untuk ikut naik melihat Om Fajar yang memang dari awal sudah bertahan untuk hanya camp di Ranu Kumbolo dan Om Gepenk yang trauma dengan letusan Jonggring Saloka yang beda dengan biasanya. Letusan terhebat dengan hujan batu yang bisa mengancam keselamatan nyawanya.

Tak lama, muncul sepasang anak manusia. Laki – laki dan perempuan, mereka besok pagi mau naik pakai truknya Pak Laman. Asal mereka dari Surabaya juga tapi karena memori kepalaku yang kecil maka setelah kenalan, aku lupa nama mereka.Payah!!!!! Kemudian muncul lagi seorang cowok. Besok pagi, dia juga mulai nanjak. Sedangkan kita, memundurkan rencana nanjak pada tanggal 23 Agustus, soalnya besok Bang Fajar mau nyari sepatu trekking dan kawan – kawannya. Sedangkan saya mau nitip gaiter, padahal saya pakai sandal.

Tiga orang pendaki yang baru datang segera merapatkan diri ke kasur yang tergelar di depan tipi. Mereka mencoba mengarungi samudra mimpinya sedangkan kami masih asik rebutan bantal dan sofa. Bang Fajar dapat soffa ukuran 3 seat, aku tidur di soffa 2 seat sedangkan om Gepenk mlungker di sofa satu dudukan. Hahahaha. Kapooookk. Tapi pada akhirnya memelorotkan diri tidur di atas karpet. Pasti dingin banget.

Baru beberapa saat tertidur. Om Gepenk mencoba membangunkan aku gara – gara dia tidak bisa tidur. Alhasil tidur saya, bermasalah sampai menjelang subuh.

Tumpang, 22 Agustus 2012
Pagi – pagi, 3 orang teman dari Surabaya itu sudah ribut mengangkat keril dan daypacknya. Mereka naik truk sayur Pak Laman sampai ranu pani.

“Gak naik hari ini, mas?”
“Gak mas, kita kan niatnya cuma Syawal Camp di Ranu Kumbolo. Sukses ya pendakiannya.”

Setelah bersih diri, kami jalan – jalan sampai pasar Tumpang. Jalan yang lumayan jauh diselingi obrolan ringan dan tawa. Sampai tidak terasa sampai di Pasar Tumpang. Puluhan pendaki berjejer di depan Alfamart. Berdesak – desakan di atas Jeep. Kami malah duduk menonton keramaian itu sambil melongo.

“Koyo ngunu ta pendaki iku.”
Dengan mata terkagum – kagum. Sumpah keren banget. Tas gede. Perlengkapan pendakian yang mumpuni di segala medan. Dan wajah – wajah yang doyan hidup sengsara di hutan. Hahahaha. Aku tidak termasuk loh.

“Cak, ta belonjo disik. Nek alas iku wis soro, jadi...... mangane ojo digawe soro. Oke.”
“Arepe tuku opo?”
“Panganan.”
“Ojo tuku sosis, kornet, sarden. Wis onok. Endoke yo wis gowo sekilo. Coklat ambek kurmo yo wis disangoni Eyang Uti. Tuku o jajan – jajan opo camilan ae.”
“Siap, Cak. Syawal Camp temenan yo, sampe arepe bukak Alfamart nek Ranu Kumbolo.”
“Kita loh bukan mau mendaki, kita kan cuma Syawal Camp.Hahahaa.”

Segera saja, ku ambil keranjang belanja. Bakso, madu rasa, camilan, hansaplast, mentega, nutrijel, Decolgen herbal masuk ke keranjang. Kebanyakan yang belanja di situ adalah pendaki yang belanja logistic. Setelah keluar dari Alfamart, Om Gepenk pergi ke toko bangunan sebelah Alfamart beli spirtus. Dan dilanjutkan sarapan dengan menu pecelan. Om Fajar selalu baik hati membayari makanan kami. Suwun yo, Om.

Perjalanan ke rumah pak Laman di tempuh dengan jalan kaki lagi. Tumpang pagi itu lumayan panas. Dengan menjinjing belanjaan, lumayan juga untuk latihan fisik. Baru beberapa langkah dari belokan, sebuah jeep menghampiri kami. Ternyata jeep pak Laman yang mau pulang ke rumah. Jeep pribadi denga tiga penumpang. Beberapa jeep penuh pendaki tersalip. Mata – mata mereka memandangi kami bertiga. Kelihatan banget tuh irinya. Hahahaha.

Sorry, Mas Bro & Mbak Bro, jeepnya ini istimewa. Hanya orang – orang cakep saja yang jeepnya tidak berdusel – dusel ria (langsung ngaca).

Sampai di rumah Pak Laman, nampak kerumunan orang yang akan berangkat. Mereka juga berangkat dengan jeepnya pak Laman.Sempat ngobrol – ngobrol sebentar dengan mereka, akhirnya setelah itu Om Gepenk dan Om Fajar memutuskan untuk segera berangkat belanja dan aku terpaksa ditinggal dengan alasan motorku tanpa STNK. Tak apalah, aku bisa tidur seharian.

Sepanjang hari tampak membosankan diisi dengan aktivitas tidur. Kemudian aku baru ingat, sms dari Arif Abdullah yang menanyakan liburan lebaranku. Si Lurah Parkiran ini ternyata juga nanti sore nganter temannya dari Bekasi ke Semeru juga. Ahh, kenapa aku harus ketemu dia lagi sih. Dilema saudara yang selalu eker – ekeran.
ababil "Arif Abdullah"
a.k.a Tembem or Lurah Parkiran

Pas Dies Natalis donor danar di bungkul, aku kenal lurah parkiran ini. Kemudian ketemu lagi di Penanggungan saat hari bumi. Empat hari menghabiskan waktu bersama – sama di acara PALAGAN – R di gunung Limas. Hampir satu bulan lebih handle acara bareng. Dan sekarang, ke Semeru pun barengan. OMG, mimpi apa yak, semalam. Kayaknya sama Arif kaya Lingkaran Setan. Tapi kata orang begitulah pertemanan. Oke, Pak Lurah, kita baikan.

Sambil ngetik sms tentang curhatan kedilemaan si Lurah Parkiran tentang teman dari Bekasinya yang katanya ada trobel soal tiket kereta, aku mulai ngemil jajan lebaran. Oke, deal. Kalau enggak repot nanti malam jemput Arif dan kawan – kawannya di Pasar Tumpang walau pun si Arif bilang g usah repot – repot (tumben, tahu diri juga ni anak, sorry Tembem!)
Setelah lima kali tidur dan lima kali bangun, perutku melilit minta di isi. Huft, kunci motor di bawa om Gepenk. Untung ada bakso. Sikatt, men. Ajiiibb. Rp 5.000 + teh anget. Murah ya. 

Selasa, 18 September 2012

Mahameru, Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (I)


Kata – kata dari Rookie Arnold’s “Gak perlu orang lain suka apa, gak?”
Kalau mungkin kata – kata itu nongol 5 tahun yang lalu, mungkin tulisanku sudah memenuhi dinding – dinding wall facebook (padahal aku punya facebook tahun 2009). Dan sekarang seperti kesetanan, aku mulai merangkai kata – kata indah agar menjadi sebuah kalimat yang baik dan mendingan (copas motto pelajaran B. Indonesia anak – anak BK).


Mahameru. Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura

Panggul, 21 Agustus 2012
11.30
Kita berangkat sekarang aja, temanku ngajak berangkat (sms dari Zainul M Ayodya)
2 jam perjalanan saja aku baru sampai rumah, belum packing dan pamitan sama orang sekampung (sekalian minta angpau lebaran). Janjian berangkat malam dimajukan menjadi sehabis dhuhur. Tetap saja aku tidak akan tepat waktu. Perjalanan ke rumah saja perlu waktu 2  jam, dari rumah ke Base Camp KOPLAG (Trenggalek) perlu 1,5 jam lagi. Mendadak galau dan berharap si Doraemon datang dengan mesin waktunya.

Karena menunggu Doraemon gagal dateng, so akhirnya gas pol maticku ke rumah. Sebelumnya ku sempatkan sms pada adikku.
Dek, tolong packingin ya. Habis ini aku cap cus ke Semeru. Kalau aku sudah sampai rumah keril kudu siap angkat ya.

Pesan terkirim dan weerr weerr

Akhirnya pukul 14.30, keril sudah kujepitkan di sela – sela setir dan jok motorku, si Beaty yang imut dan beauty. Setelah cipika cipiki sama emak dan bapak, adek – adek, bude, pak de, pak lik, bu lik, mbak yu, kang mas dan para sesepuh RT 12 RW 04, Bapak menyelipkan lembaran uang buat beli bensin.
"Ati - ati yo, Nduk! Lek kesel nyetir sepeda yo leren. Ojo dipekso nyetir. Opo maneh sepedaan dewean nang Suroboyo." pesan bapakku.
Pamitan kali ini pada Ibu dengan alasan “Wonten kegiatan teng Malang, Bu!”
Ma’afkan aku, Biyung dan Romo, ananda terpaksa bohong tentang pendakian ke Semeru ini (soalnya pasti g dikasih ijin) tapi kan benar ada kegiatan yang dimulai dari Malang. Hehehehehe

Sempat kukirimkan sms ke Om Gepenk a.k.a Zainul M Ayodya.
Oke, siap meluncur ke Base Camp, Om.
Message Sent

Perjalanan ke Base Camp KOPLAG masih tetap penuh tantangan padahal puluhan kali sering aku lewati. Melipir di jalanan pegunungan, kanan tebing kiri jurang. Dan harus sering mangalah di tikungan jalan yang rusak. Jalanan harus dilewati bergantian, tergelincir sedikit saja nyawalah yang akan menapaki jalan ke surga. Keadaan seperti ini membuat putaran mesin maticku hanya ku pacu 40 – 50 km/jam sehingga pukul 16. 20 baru sampai di base camp KOPLAG.

Turun dari motor dengan masih menggunakan gamis putih panjang segera kusapa Om Gepenk dan 1 orang teman perjalanan dari Batam (tapi aseli produk Trenggalek) yang kemudian ku sebut dengan nama Om Fajar. Ternyata di bace camp sudah duduk manis Bang Telo (orang ini nih yang pingin aku temui #penasaran), Kempot n pacar, Eko Ayodya. Om Gepenk & om Fajar yang  cakep ini lagi sibuk packing dengan kerilnya yang tinggi – tinggi (sebetulnya mereka lebih pantas dipanggil Mas – mas, berhubung lidah saya sudah saya plesetkan menjadi Om – om yang berarti itu sudah rejeki mereka) Sebenarnya perjalanan kali ini dipesertai 4 personil. Dan entahlah seorang lagi akhirnya tereliminasi dengan alibi “sakit”. Semoga engkau cepat sembuh, kawan.

Setelah riyadinan dengan Eyang Kakung, Eyang Uti dan penghuni base camp, ku tarik kerilku. Tapi bukan packing, malah sibuk menulis surat ijin dokter di blanko yang sudah tersedia. Ceck List sebentar lalu dianter om Gepenk pergi ke Alfamart mencari beberapa peralatan mandi. Setelah mandi dan bongkar – bongkar keril tercium bau ikan asin dari kerilku segera mengudara.Om Gepenk tertawa. Ikan asin dan tiwul pesanan Bang Kasih Abadi sudah siap. Sedikit ebi kering, kesukaanku juga tak lupa ku bawa. 

Tak lama, hapeku terus – terus menjerit ria.

Adek memanggil di layar hapeku
Ku reject lagi dan lagi.

1 pesan diterima
Mbak, STNK mu ketinggalan.

Ku cek tasku dan ternyata selembar kertas itu tertinggal di desaku yang berada nun jauh di balik gunung – gunung. Untuk mengambilnya memerlukan waktu 4 jam PP. 

Dek, nanti kalau balik ke Surabaya. STNK-nya bawaen. Sekarang aku g pake STNK juga gpp. Doain ya.
Dan sent

Dilema yang memakan waktu. Om Gepenk menyarankan untuk meninggalkan motorku di Trenggalek saja dan pakai motornya. Setelah pendakian pulang ke Trenggalek ambil STNK dan baru ke Surabaya. Bagiku itu terlalu memakan waktu dan tenaga sedangkan tanggal 27 Agustus aku harus kerja. Belum lagi, aku tidak bisa memprediksi kemungkinan kondisiku cukup fit setelah pendakian ini. Eyang Uti mempertimbangkan segala kemungkinan terburuk. Debat alot ini, kuakhiri dengan nekad berangkat dengan segala kemungkinan. Bissmillah.

Tiba - tiba menjelang berangkat, Kem pot dan pacarnya menyerahkan satu kantong plastik gede penuh dengan camilan dan susu. Buat teman perjalanan, katanya. Lumayan.
Jam 8 malam kurang sedikiiiiiiiiitt. 2 unit motor membelah belantara aspalan dari Bendo, Trenggalek (base camp KOPLAG Adventure) – Tulung Agung – Blitar – Malang dengan kerilnya om Gepenk yang super tinggi dan super berat menggantung di pundakku sedangkan kerilku kejepit manis di bawah kaki om Gepenk yang lagi memutar  gas. Antara kantuk dan beratnya keril bertengkar ria  di otakku.
Posisi keril yang sering melompat karena lubang jalanan, membuat pundakku seperti dipelintir.  Berkali – kali aku minta om Gepenk benerin kerilnya tapi tetap saja setiap ada gronjalan, keril itu melompat - lompat.

La gimana g berat. Antara keril sama yang gendong gedean kerilnya. Dan yang gendong keril itu gua. Chemunguutt ea, kakak!!!!wkwkwkwkwk

Akhirnya menjelang tengah malam, kita sampai di rumah Bapak Laman sebagai home stay dan parkiran kami. 

Dan di sini problem mulai muncul...
(bersambung)