“Sakit, kakiku sakit! Kakiku kram!”
Mendengar jeritan Oncom, seluruh penghuni 3 tenda
terbangun. Dia
berteriak kesakitan, sementara Bang Ateng mengambil insiatif menekuk – nekuk kaki Oncom, aku dan suci
mengolesi kaki, tangan, leher dan tubuhnya yang mulai dingin dengan minyak kayu
putih. Sarung tanganku kupakaikan pada dia. SB milik Suci segera digelar di
bawah tubuh Oncom sementara para cowok mengangkat Oncom.
Jeritan dan tangisan Oncom membelah sepinya
Kalimati. Perasaanku mulai kawatir dengan keadaan Oncom.
“Mas, bikino teh anget yang manis,” teriakku pada
para cowok yang di luar tenda.
“Mbak, tehnya mana? Adanya jahe wangi.”
“Ya udah, jahe wangi gak papa. Kasih gula yang
manis”
Perlahan keadaan Oncom mulai membaik. Kakinya sudah dapat digerakan. Kaos tangan yang kupakaikan juga sudah dilepas. Jahe wangi segera disodorkan ke Oncom untuk menghangatkan perutnya. Tim dapur umum sekarang sudah bisa asik – asikan bikin nutrijell untuk bekal ke puncak. Segelas besar jahe wangi + potongan rumput kering (yang godok air kayanya merem, masa air dicampur rumput) dihabiskan Atika yang rajin membuang potongan – potongan rumput dari seduhan jahe wangi. Akhirnya moment istirahat tidak dilanjutkan kembali karena jam menunjukkan pukul 23.00 tepat ditandai dengan alarm jam tanganku yang ngikik.
Kulangkahkan kakiku menuju 2 bilik peristirahatan
pendaki. Aku sudah janji untuk membangunkan temen dari Sidoarjo. Ternyata dia
sudah bangun dan berangkat dengan kawan – kawan dari Jember. Ya sudah, kita
tetap satu tujuan kawan. Dan aku segera kembali ke tendaku.
Setelah prepare sebentar. Aku tetap nekat memakai
sandal walau pun sepatu sudah siap di dalam kerilku. Ku pasang gaiter agar
kakiku aman dari hawa dingin. Sambil menunggu teman – teman yang sedang
prepare, aku mendekatkan diri ke perapian sambil ngemil kacang tanah. Lumayan
buat cadangan lemak secara aku kan masuk katagori kurus dan kerempeng.
Kalimati, 24 Agustus 2012, 23.30 WIB
Kita membentuk formasi melingkar. Lingkaran 15
nyawa yang terkurung dalam raga berdiri merapat. Kami berhitung dan tetap angka
11 berhenti di nyawaku. Ya, aku angka 11 dalam pendakian malam ini. Berdoa dan
selesai berdo’a tangan kami menyatu.
LONTOOONGGGG!!!!!!!!!!!!YES!!!!!!!!!!!
LONTOOONGGGG!!!!!!!!!!!!YES!!!!!!!!!!!
Seiring dengan tangan kami terangkat ke atas,
Ateng kembali dengan aktivitasnya, domprok di tanah dan mengorek – orek tanah.
Kami tertawa dengan ulah gilanya Ateng Ting Ting.
“Nemu opo, bang?”
Tangan
Bang Ateng saling menutup rapat. Dan kemudian dibuka cepat.
“Lah, ucul!”
Puluhan pendaki dari berbagai kota menyatu di
setapak kalimati. Rombongan kami pun juga cukup banyak. Berpencar sedikit saja,
sudah resiko untuk rombongan.
“Awake dewe kudu duwe kode kanggo rombongan iki.
Kodene enake opo?”
“Kita punya no urut, pake itu ta?”
“Terlalu ribet.”
“Ya apa kalau pake LONTONG ? ”
“Iyo, LONTONG ae. LONTONG GALAU.”
“Hahahahahaha.”
Debu membumbung seiring dengan langkah – langKah
yang tercetak. Membuat batuk dan perih di mata. Scraffku kugunakan sebagai
masker. Simbolitas dari diklat kemarin ternyata berguna untuk nafasku (maaf ya,
bukannya sengaja scrafnya buat masker, tapi karena bang Fajar g bawa slayer
akhirnya kuberikan padanya slayerku, sedangkan aku pakai scraf ini).
Melewati kali yang sudah mati (tak ada airnya).
Mungkin karena inilah dinamakan dengan kali mati, kali yang berguna sebagai
jalur lahar. Selangkah demi selangkah, jalanan mulai nanjak. Puluhan, mungkin
sampai ratusan orang berjejer di setapak menuju Arcapada.
LONTONG, BREAK!! Ayo, merapat!
LONTONG!!!!
LONTONG, woyyy!!!
LONTONG, woyyy!!!
Kata – kata itu sering bersahut – sahut untuk
menghindari ada yang tersesat dan tertinggal.
“Awas, kiri blank! Merapat ke kanan!”
Jurang – jurang menganga di sepanjang jalur Kali
Mati – Arcapada. Nafas juga sudah mulai terengah – engah.
Tiba – tiba kembali ada yang teriak “Hoyyy, P3K
nya mana? Ada antagin g?”
Ku rogoh saku celanaku, P3K ku memang sudah
kuberikan ke Dedy untuk dibawa. Tapi di saku celanaku ada beberapa sachet obat
masuk angin dan P3K ringan lainnya.
“Aku ada, sapa yang masuk angin?”
“Yang bawa P3K, bisa turun g?”
Rony yang membawa daypack berisi P3K segera
turun. Ika kakinya kram di bawah
Seingatku, seorang lontong cowok berkata padaku
“kalau memang fisik kuat jalan agak cepat, jalan duluan aja gpp. Nanti agak
jauh tunggu anak – anak, kalau berhenti ngikutin anak – anak yang masih di
bawah, kamu bakalan kedinginan. Biar para cowok saja yang ada di belakang.”
“LONTONG BREAK!! Faris kakinya terluka!”
Satu orang lagi kakinya bermasalah setelah Ika.
Aku hanya terdiam dalam do’a.
“Lindungi kami, Lindungi teman – teman kami.
Lindungi siapa pun yang ada di tanah Semeru ini.”
Oncom yang selalu berjalan di depan terus
berjalan. Aku mngejarnya. Setidaknya bisa menemaninya di belakang. Bagaimana
pun kita harus saling mengawasi. Aku berjalan terus menerus di belakang Oncom
(Isti) yang melesat cepat. Gila, tu cewek, jalannya g ada putusnya. Tepat pukul
00.25, aku dan Oncom berhenti di Arcapada. Sementara di belakang rombongan
sudah sangat jauh. Ku putuskan dengan Oncom untuk menunggu mereka di Arcopodo.
Dingin kembali merasuki tubuhku. Kaos polar, flanel biru, jaket rasanya tak
mampu menahan hawa dingin.
Aku dan Oncom, sama – sama tidak ada yang membawa
air minum karena kami terpisah duluan dari rombongan. Seorang cowok menawarkan
kami minum. Hanya ucapan terima kasih yang dapat kami berikan. Saat seperti
inilah, kami sadar jika persaudaraan terkuat saat uang tidak bisa bicara.
Arcopodo
serasa bukan lagi hutan yang sepi. Di pinggir jalur berjejer – jejer tenda
dengan penghuni yang bersiap – siap melanjutkan ke puncak. Tepat pukul 01.00,
seluruh anggota Tim LONTONG GALAU sudah berada di Arcopodo.
“Faris dan Ika mana ?”
“Faris turun sama Dedi, kalau Ika tetap jalan.”
Dari 15 orang sekarang tinggal 13 orang. Di atas
shelter kecil yang ada di Arcopodo, 13 orang ini merapatkan dalam formasi dan
mengecek jumlah personilnya. Lengkap. Istirahat sejenak sambil melihat hamparan
lampu – lampu kota.
“Lapindo mana, ya?” celetuk Ateng.
“Umahku sing endi, rek?” tanyaku.
“Umahmu Nggalek ngunu masa ketok!”
“Hehehehe.”
“Umahku iku paling.” Kata Atika.
“Endi?”
“Iku loh sing onok lampune.”
Aku tertawa mendengar kekonyolan mereka.
Kelik. Track mulai berpasir. Seperti melewati
jembatan berpasir dengan kanan kiri jurang. Pembatas – pembatas jalur
kebanyakan sudah ambruk terseret pasirnya yang labil. Antrian memanjang saat
berjalan di Tanjakan Kelik ini mengingatkanku pada macet di Surabaya. Ternyata
di gunung juga ada macetnya. Hehehehe
Satu dua tiga. Sreeett. Merosot lagi. Kembali di
titik satu. Tanjakan 3-1 (3 langkah dan kembali ke 1) begitu aku menyebutnya.
Scrafku berfungsi lagi sebagai masker, tapi saat ku pakai aku susah bernafas.
Lebih susah dari pada saat aku bernafas tanpa scraf. Ku putuskan untuk bernafas
tanpa scraf.
Kembali merosot dan terus merosot. 1 jam, 2 jam
dan waktu berlalu. Sementara kerikil mulai bersembunyi di bawah telapak kakiku.
Saat seperti ini aku baru menyesal, kenapa sepatuku harus ku tinggalkan di kali
mati. Kerikil – kerikil juga mulai menyusup ke dalam gaiterku. Kakiku mulai
kesakitan. Ku lihat seorang anak laki - laki berjalan nyeker. Gila, kakinya
kuat bener.
Sementara aku, nafasku sudah berhembus satu satu.
Ngos – ngosan. Ku lihat ke atas, deretan headlamp itu masih saja membentuk
garis panjang pada dini hari itu. Puncak masih jauh. Tapi untuk turun juga
jauh. Imbang antara naik dan turun. Oncom sudah ada di atas. Sedangkan kondisi
Atika, Suci, dan Ika sama sepertiku. Beberapa kali aku disalip bule – bule.
Ku tatap kakiku, air mataku mulai menggenang “Ayolah,
biarpun pelan, aku percaya kalian akan sampai puncak. 10 langkah lagi. Semangat
RISTA!!!”
Ku lihat Suci di bawah. Dia dipandu Frendi. Suci
juga tampak kelelahan. Atika juga diseret Cak Luko. Ika juga begitu. Sedangkan
aku akhirnya diterseok – seok mengikuti tuntunan tangannya Bang Ateng. 5
langkah berjalan kemudian terhenti. Dingin menghampiri. Begitu lah yang terjadi
dan terus menerus.
“Bang, dingin.”
“Naik ke atas, terus di balik batu itu berhenti.”
Benar – benar salut dengan pemanduku ini. Dia
selalu mencarikan tempat istirahat yang anti angin. Istirahat sebentar ternyata
mengantarkanku pada pelukan mimpi.
Ya Allah, aku tertidur saat seperti ini. Dan ini
mengingatkanku pada perjuangan Rookie & Ferry menuju puncak Mahameru
(sebelum aku naik ke semeru, aku sempat baca Blog & facebook mereka). Ada
langkah hampir putus asa dari mereka, dan mereka dapat mengatasinya. Aku juga
harus bisa. Saat itu yang terpikir, siapa pun kalian, guys! Yang pasti aku suka
model persahabatan gaya gila model kalian (Aris, Rookie, dan Ferry).
“Ayo, Mbak Ris, puncaknya tinggal dekat. Aku tadi
naik sama anak Jakarta, aku juga ditolongin sama mereka. Tadi aku sudah sampai
puncak. Cuma g sempat foto – foto soalnya bateraiku habis.” Oncom tiba – tiba
muncul di sela – sela orang – orang yang berjuang naik kemudian dia berlari
turun. Oncom saja sudah sampai puncak, pasti puncaknya tidak jauh lagi. Semangatku kembali
naik, lagian berhenti di sini juga sangat beresiko.
Kulihat kondisi Suci makin drop. Muntah – muntah.
Debu di wajahnya menyiratkan raut kelelahan. Ayo, Suci bertahanlah. Atika
mencoba mendahului aku dan Bang Ateng. Langkahnya setengah merangkak. Kemudian
terhenti. Sebelahku ada gadis kecil. Gadis itu namanya Sita dari Jakarta. Aku
pikir dia seumuranku. Ku tawari minum yang dibawa Frendy. Dia menolak tapi
akhirnya mau menerima setelah ku paksa karena dari awal aku cukup memperhatikan
gadis itu naik tanpa membawa botol minuman.
![]() |
| rona pagi |
Matahari muncul dari peraduannya. Ah,
indaaaaaahhh!!! Mirip sekali dengan foto – foto yang aku lihat di dunia maya.
Semakin lama langkahku semakin menyusut dan tidak produktif. Ateng
bergerak sendirian meninggalkan aku dan teman – teman. Atika sedikit di atasku
sedang duduk mengawasi kami. Suci dan Frendy juga perlahan bergerak merangkak
naik.
Aku mencoba berdiri. Sandal aku lepaskan dan
berjalan nyeker. Yang melindungi kakiku hanya gaiter yang sudah berubah
warnanya seperti warna debu. Beberapa langkah lagi, dan aku akhirnya menyalip
Atika yang sedang berhenti. Aku terhenti minta air dari Frendi. Sialnya botol
air terjatuh tanpa kami sadari. Oke, perjuangan ini tanpa air. Aku terus
mencoba naik. Saat kakiku terasa sakit. Kupakai kembali sandalku.
Lagunya cokelat “Mendaki Gunung” berkumandang di
kepalaku.
Ayo, kawan sampai puncaknya. Ayo...
Aku berjalan di depan Sita. Di depanku, ada Omnya
Sita.
“Om, Sita sampai sini saja, Sita udah g kuat.”
Rengek Sita pada Omnya
“Ayo, Sita, lihat itu banyak yang udah turun.
Berarti sudah mau sampai puncak. Cuma perlu 10 langkah lagi kok.” Ucapku.
Padahal kondisiku juga sama payahnya.
“Ayo, Sita, dikit lagi.”
Bolak balik aku salipan dengan pendaki yang sudah
turun. Senyum mereka sudah menyemangatiku. Berarti kalau ada yang sudah turun,
puncaknya g jauh. Jam 07.30, jika jam setengah 9 aku belum juga sampai
puncaknya, mau tak mau aku harus turun. Mentalku sedikit terpacu.
“Lo, Mbak! Sudah mau turun?”
“Aku baru mau naik.”
“Semangat ya, Mbak! Puncaknya dikit lagi tuh.”
Dia anak Sidoarjo yang dititipkan ke aku tapi
akhirnya dia naik barengan anak Jember itu. Naik dan terus naik. Sampai
akhirnya, aku mulai dengar suara Kebear.
“Ta, dikit lagi. Ini loh aku sudah sampai puncak!”
Air mataku memenuhi mata lagi. Rasanya ingin lari
ke arah mereka.
Selangkah
Selangkah
Selangkah
Dan Puncak.
Ya, cukup ngoyo pukul 07.50 baru menginjak tanah
tertinggi pulau Jawa. Saat kebanyakan orang bergerak untuk turun dari puncak,
aku baru sampai puncak. Aku tertawa dan menghampiri Kebear dkk.
“Bang Ateng, mana?”
“Lagi bikin energen buat anak – anak. Di sana.
Lainnya dimana?”
“Atika, Suci, Ika, Frendy, Cak Luk, masih di
bawah. Oncom sudah turun duluan.”
Aku berlari – lari kecil menghampiri Bang Ateng.
“Bang, laper. Nutrijell yang dibuat tadi malam
mana? Kayaknya seger.”
“Ada tuh, ambil aja di Kalimati.”
“Hah! Kan buat itu untuk bekal. Kok ditinggalin
c.”
“Hehehehe”
Ku teguk segelas energen anget itu. Lumayan untuk
perutku yang melilit. Kakiku segera ku langkahkan mengelilingi puncak.
Sendirian. Aku sangat menikmati kesendirian di tempat seramai ini. Tiba – tiba
omnya Sita memanggilku dan memintaku untuk memotretnya. Jiah, ternyata buat
iklan salah satu hotel di Bali. Iklan aja sampai harus naik puncak gunung. Ckckckck.
Kereeeen.
Satu persatu kawan – kawanku berdatangan. Ika
sampai puncak disusul Suci, Frendy, Atika, Cak Luko sampai di puncak. Rona –
rona kecapekan sudah hilang dari wajah kusam mereka, terganti dengan tawa
kebahagian. Waktunya foto – foto. Foto gaya A, lanjut gaya B, gaya C, foto bareng si A,
foto bareng si B. Rame.
Akhirnya setelah puas foto – foto, saatnya turun.
Aku turun lebih dulu dari cewek – cewek lainnya. Barengan dengan kawan baru
dari Sidoarjo. Sampai sekarang aku masih heran, sudah 2 tahun tinggal di
Surabaya. Sedangkan Sidoarjo itu tetanggaan sama Surabaya. Kenapa ketemunya
malah di puncak gunung. Aneh. Sandboarding dimulai. Setelah diajari teknik
turun dengan gaya selancar yang aman. Aku dengan 4 orang pemuda ini mulai gila
– gilaan. 4 orang berselancar turun. Seorang lagi sebagai tukang video.
Berjalan, berlari dan terpeleset. Terus berulang – ulang sampai abu dan debu
menutupi yang menempel d tubuhku.
Perjalanan
turun dari puncak hanya membutuhkan waktu 40 menit. Benar – benar berbanding
terbalik dengan nanjaknya. Di bawah kelik, aku bertemu dengan Kebear, Ucle,
Dwi, dan Ateng serta Sita dan Omnya. Kami melihat ke atas, ternyata banyak
orang – orang yang kesasar terlalu ngambil jalur ke kanan saat turun. Jalur itu
mengarah ke jurang yang terkenal di Semeru. BLANK 75. Jurang dengan kedalaman
75 m. Tampak orang – orang yang sadar ada yang nyasar beteriak. Aku membantu
teriak – teriak sampai akhirnya yang di atasku mulai menyadari dan saling membantu
memberitahu.
Setelah itu, aku turun sendirian ke Arcopodo. Jalur
semalam yang tertutup pekat ini akhirnya dapat ku lihat dengan leluasa. Keheningan
arcopodo membuatku menghentikan langkahku. Ya, aku di sini menangis, mencoba
berbisik pada angin yang bergemuruh. Meresapi setiap jengkal
tanahnya.Perjuanganku ini maksudnya apa? Ku coba mencari jawaban. Dan aku tetap
tak mendapatkan jawaban.
Berjalan sendirian di
Arcopodo sedikit membuatku bergidik saat
bertemu gadis itu lagi. Dua kali ini aku bertemu dia. Pertama, di saat
orang – orang berjuang naik ke puncak, dia duduk dengan sebuah buku di
tangannya. Tampak asik dengan pena dan kertas. Kedua, saat ini. Ku lirik apa
yang dia kerjakan. Tampak garis – garis melengkung dengan tulisan – tulisan kecil.
Setahuku itu peta jalur pendakian Semeru. Hebat!!!!
Gemuruh angin menemaniku sampai Kali Mati. Ku
sibakkan tenda dan aku terkapar di dalam tenda. Ya Allah, semoga aku tidak
kalah dengan penyakit itu lagi. Jika iya, ini hanya akan menjadi biang masalah
dan merepotkan mereka. Ku lepas sandal dan gaiterku. Sesaat terdengar suara
Oncom mengabarkan Dedi dan Faris mencari air ke Sumber Mani. Entah, tiba – tiba
teringat nutrijel, lumayan untuk ganjal perut. Dan kemudian aku segera tidur
sedangkan Isti menyiapkan makanan.

Saat aku terbangun, semua sudah datang. Tampak
muka menghitam dari Atika, Suci dan kawan – kawan lainnya. Mereka ternyata
rombongan orang – orang yang tersesat saat turun. Mungkin karena kecapekan, tak
ada anak yang mau ngambil minum lagi ke Sumber Mani. Aku dan Suci mengalah.
Lima botol air besar segera ku masukkan kresek dan berjalan ke Sumber Mani. Langkah
Suci terlihat gontai, walau pun sejujurnya aku pun sama – sama lelah, tapi aku
sempat tidur. Sedangkan dia sudah tersesat, dan harus naik kembali di tanjakan
pasir Mahameru tentulah perlu tenaga ekstra. Sama seperti pertama kali aku mengambil
air di Sumber Mani, antrian cukup panjang. Mau tidak mau tentulah harus
bersabar.
Saat kembali ke Kali Mati, langkah Suci semakin
lemah antara kecapekan dan menahan pipis. Ku ambil kantong kresek dan ku
masukan beberapa botol ke dalamnya. Senggaknya, aku masih kuat bawa agak banyak
melihat kondisi Suci yang terlalu dipaksakan.
Packing, kemudian ku lambaikan tanganku ke pucak
Mahameru.
Selamat tinggal Jonggring Saloka, Selamat tinggal
Mahameru, Arcopodo, Kali Mati!!!
Berjalanan menyusuri Jambangan dengan hati
tertinggal di tanah Semeru ini terasa agak berat. Entah, kapan aku bisa
menjejakan kakiku kembali di sini. Di tanah ini. Sama seperti perjalanan
berangkat, saat pulang pun kaki – kaki tetap berkutat dengan debu dan abu. Genk
Lontong Galau berubah menjadi kelompok kecil – kecil, tapi entah kenapa saya
selalu berjalan sendirian. Jauh dengan kelompok kecil di depan dan yang di
belakang. Beberapa kali bertemu dengan anak – anak Bekasi. Dan kebanyakan tanya
kok sendirian.
”Teh, kok sendirian?”
”Saya mah g sendirian, tuh temen – temen banyak
di depan dan di belakang. Dari mana?”
”Bekasi, Teh.”
”Bekasi mana?”
”Teteh Bekasi juga?”
”Pernah hidup di Bekasi. Deket Perumnas 1. Belakangnya
SD Setia Mekar, abang tahu?”
”Wah, deket rumah tuh. Kapan – kapan main ya,
Teh. Rumah saya di Perumnas 1.”
Aku tertawa. Sumpah bukan maksud hati berbohong. Tapi itu rumah Pak De.
Akhirnya sampai di Cemoro Kandang dan ajaibnya
bertemu dengan Mbak yang pas mau puncak malah ”keglundungan batu”. Tidak
nyangka juga dia tetangga jauhnya si Dwi. Moment lebaran segera di buka. Dengan
tampang polosnya, Bang Ateng menyalami mereka yang lewat Cemoro Kandang dan
mengucapkan kata – kata khas Idhul Fitri diikuti dengan Personil Lontong Galau
Adventura. Mas Ucle membuka sisa kue – kue lebaran 1 toples penuh. Jajan dan
camilan berserakan di hamparan tanah. Tinggal pilih mana yang mau dimakan.
Gelak tawa mewarnai Cemoro Kandang. Apalagi saat rombongan Sita dan Om – Omnya mampir.
Melewati kembali hamparan Oro – oro Ombo yang
dingin. Turun
berlarian di Tanjakan Cinta. Dan Ranu Kumbolo menyapa lagi.
“Om Gepenk, Om Fajar, Rista pulang!!!!”
Entah dari mana kata – kata itu muncul, khas
banget dengan polah bocah 10 tahun yang pulang dari rekreasi. Saat itu Om
Gepenk sedang menyiapkan air dan menyusul kami karena kami belum kembali ke
Ranu Kumbolo. Ada siratan kekawatiran. Bang Wanto (pendaki dari Krian yang tuna
wicara n tuna rungu) sudah menunggu kedatangan kami juga. Sedangkan om Fajar
memasak makanan untuk kami. Setelah makan, hanya Oncom dan Kebear yang masih
ngecamp di Ranu Kumbolo, sedangkan lainnya pamit turun malam itu juga. Menu
makan malam itu bakso pesananku. Malam itu Ranu Kumbolo tidak sedingin malam
pertama di sini. Hangat. Malam terakhir di Semeru.
Gaiter kresek dan potongan jas hujan nya Bang
Ateng tertinggal (apa sebenarnya sengaja ditinggal??)
Ranu Kumbolo, 26 Agustus 2012
![]() |
| model nya Bang Wanto |
Oke, saatnya turun. Satu orang bawa satu kresek
sampah. Aku sendiri bingung kenapa sampahnya begitu banyak. Ternyata rombongan
Bang Kasih nggak bawa turun sampahnya, dan dititipkan ke Om Gepenk. Huft.
Om Gepenk dapet sandal gunung baru sedang kan Om
Fajar diwasiati Keril Eigernya Bang Kasih. Pantesaaaaann.
Rista, Gepenk, Fajar, Kebear dan Isti. Ya, kami
berlima berjalan menuju Ranu Pani dengan tetap Isti yang di depan. Maklum
langkahnya super cepat. Perjalanan ke Ranu Pane cukup santai. Dan dengan segala
kenarsisan, saya tetap jadi model camera beberapa orang yang saya temui. Hehehehe.
Kembali ke Ranu pane. Bertemu mas – mas Sidoarjo
yang nemenin sandboarding di pasir Mahameru. Bertemu Sita dan Om-nya. Menaiki
truknya Pak Laman kembali dan ajaibnya bertemu reporter Java Jalan dalam satu
truk. Akhirnya kembali ke Surabaya dengan naik motor sendirian tanpa STNK,
tanpa tahu jalan ke Surabaya serta dengan amat sangat ngantuk.
Makasih untuk semuanya yang pernah ada dalam cerita ini.
Entah, kita bertemu mau pun belum ^^
Oh, ya kenapa pake Syawal Camp karena dari awal cuma niat ngecamp di Ranu Kumbolo. Tapi ini idenya Bang Gepenk n Bang Fajar
Kalau Lontong Galau Adventura sih, Gara - gara rombongannya Bang Ateng bawa 7 bh lontong dan dari 14 personilnya selalu eker - ekeran kalau suruh bawa lontong. Korban lontong Singosari sih, beli 5 minta gratis 2.
Sampe sekarang juga belum liat videonya Java Jalan yang katanya bakal diupload di youtube. Tapi facebooknya ada.
Sejenak hatiku tertinggal
Ya, di sana
Di tempat indah bernama Ranu Kumbolo
Saat keindahan mentati membuat terpukau
Saat persahabatan mulai dirasakan
Kami yang berdiri di sini
berjibaku dengan kerinduan
Spesial Matur tenkiuu buat :
Om Fajar (Fajar Kembali Mbolanx)
Om Gepenk (Zainul M Ayodya)
Atika (Aremanita Nenjap)
Suci (Ongise Nade)
Ika (Sadacho Luph Polaris)
Kebear (Mufi Dil - Awar Taqi FS)
Ateng (Ateng Ting Ting)
Ucle (Kangmas Ucle)
Rony (Rony Fattakh Buana)
Dedy (Deadhy Cuylantong Cuylanzenglangembreng)
Oncom (Isti Farid)
Faris (Fariz Cokrosumarto)
Dwi (Do - Why Mbah HA)
Frendy (Frendy Ratmanda)
Faris (Firdaus Faris)
Om Kasih Abadi
Ay Runa Adz
Oh ya, ada satu foto yang masih bikin saya penasaran ^^
kenapa pose saya begini??
Om Fajar (Fajar Kembali Mbolanx)
Om Gepenk (Zainul M Ayodya)
Atika (Aremanita Nenjap)
Suci (Ongise Nade)
Ika (Sadacho Luph Polaris)
Kebear (Mufi Dil - Awar Taqi FS)
Ateng (Ateng Ting Ting)
Ucle (Kangmas Ucle)
Rony (Rony Fattakh Buana)
Dedy (Deadhy Cuylantong Cuylanzenglangembreng)
Oncom (Isti Farid)
Faris (Fariz Cokrosumarto)
Dwi (Do - Why Mbah HA)
Frendy (Frendy Ratmanda)
Faris (Firdaus Faris)
Om Kasih Abadi
Ay Runa Adz
Kawan baru dari Semarang
Tembem
Aseppp (shock) dll
kenapa pose saya begini??








Tidak ada komentar:
Posting Komentar