Pages

Kamis, 25 Oktober 2012

Cerita Sepeda Tua


Mataku menatap semburat keemasan yang tersirat dari cahaya lampu jalanan. Bias keemasannya menentramkan hati sedangkan hujan yang berubah menjadi gerimis meninggalkan basah di aspal yang pekat. Aku berdiri di bawah temaram lampu dan menatapi kilau cahayanya yang anggun. Desah pelan meluncur lewat bibirku.

“Aaah, temaram lampu jalanan setelah hujan memang yang terindah.”

“Apa?”

Ada sebuah suara yang mencoba memperjelas ucapanku. Tapi aku tidak peduli, kilau cahaya tengah malam ini benar – benar menghipnotisku. Alasan inilah yang membuatku jatuh cinta pada hujan.

Perasaanku yang luluh dengan rinainya.
Temaram cahaya lampu jalanan setelah hujan.
Aspal – aspal hitam yang terlihat mengkilat karena hujan.
Dan jika aku pun menangis dalam hujan, tak ada seorang pun yang tahu.
Serta gerimis yang selalu romantis.

Lirik – lirik Hujan –nya Utopia mengalun dari hand phone lelaki yang bersamaku saat itu. Aku memejamkan mata dan meresapinya. Lagu dan aku seakan menyatu dan hatiku mengembang dan terasa ringan. Aku melambung dalam pekatnya malam Surabaya.

“Aku tahu kamu suka hujan.”
Mataku langsung terbuka.

“Tahu dari mana? Bukannya kamu baru kenal aku?”
“Tahu lah. Dari bahasa tubuhmu juga kelihatan.”
Aku melongo. Menatapnya curiga.

“Jangan lihat aku kaya gitu. Kan kamu dari tadi aku suruh duduk di sebelahku agar tidak kena tempias hujan. Eh, malah kamu main – main air.”
“Oh, kirain...”
“Kirain apa?”
“Kirain kamu sok tahu padahal baru kenal aku.”
“Kamu aja yang terlalu polos kaya anak kecil.”
“Oh iya, kamu punya utang satu janji ama aku. Sapa tahu abis ini aku tidak ketemu kamu lagi.”
“Hahahaha, jadi kita mulai saja ceritanya. Pernah dengan lagu Iwan Fals yang judulnya Nyanyian Jiwa? Kalau belum dengar,  aku puterin ya?”

Dan aku segera bergeser ke bangku panjang di warung kopi itu. Duduk di sebelahnya.

Aku sering ditikam cinta
Pernah dilemparkan badai
Tapi aku tetap berdiri ohoh

Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hari haruslah diasah
Nyanyian jiwa haruslah dijaga
Mata hari haruslah diasah

Lagu itu mengalun mengiringi celoteh – celoteh yang keluar dari bibir. Aku kembali terhanyut pada ceritanya. Perjalanannya dan semua tentang dia. Ku lirik sudut matanya mulai berkaca – kaca. Batinku bertanya apa dia meyimpan luka yang begitu dalam tentang dia.

“Kamu nangis?”
“Enggak lah. Kenapa harus nangis?”
“Kok balik tanya c? Aku kan yang tanya kamu. Gadis itu hebat ya sampe dia bikin kamu ngelakuin hal gila.”
“Enggak hebat, buktinya dia ngelakuin itu. Hal yang bikin sakit hati orang.”
“Tapi itu bukan alasan. Kamu juga hebat. Dari awal aku sudah penasaran kenapa kamu ngelakuin ini. Makanya aku pingin ketemu kamu buat mastiin kalau kamu itu ada. Dan ngelakuin itu.”
“Yuk, ikut ngontel adventure ke Bali.”
“Enggak ah, aku tunggu di Bali aja. Kan ada pesawat yang cepet nyampenya.”

Dia mencibir. Aku tak peduli. Ku seruput teh hangat di depanku sambil sesekali ku pandangi lelaki kurus di depanku. Bulu matanya yang lentik tampak indah sekali dan membuat manis matanya. Berbeda dengan mataku yang bulu matanya pendek – pendek. Matanya tampak lelah tapi tetap bening.

Mataku terus ku biarkan mengembara. Di luar warung kopi, hujan benar – benar berhenti. Sepeda kebo lelaki kurus itu mengkilat karena air hujan dan sadel kulitnya tampak teresapi air. Genangan – genangan sisa hujan tampak betebaran di jalanan. Dan tetesan air dari atap seng warung kopi ku tadahi dengan tanganku.

“Nyoba pacaran, yuk!”
“Ngomong ke sapa?”
“Emang dari tadi aku ngomong ke sapa?”
“Aku? Nyoba pacaran? Kita baru ketemu tiga kali ini?”
“Nyoba itu kaya kuis, kalau cocok ya lanjut kalau enggak cocok ya udah. Jangan terlalu maksa.”
“Mana ada pacaran coba – coba. Ga mau ah!”
“Ya udah kalau enggak mau. Yang penting aku sudah mengucapkan kata paling indah.”
“Kata paling indah apa?”
“Nyoba pacaran.”

Aku terdiam, sedangkan lelaki kurus itu menyambung kata – katanya dengan Kembang Petenya Iwan Fals.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar