Pages

Senin, 01 Oktober 2012

Mahameru. Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (V)


Dingin Ranu Kumbolo perlahan merambat kedalam Sleeping Bag.Kaos polar, flannel dan jaket terasa sudah tak mampu menghalau dingin. Pukul 04.00, aku sudah terbangun dan terus – terusan mencoba tidur lagi. Dan tetap tak bisa tidur. Detik – detik sunrise menyapa, Om Gepenk berteriak membangunkan penghuni Kampung Ranu Kumbolo.

Sunrise woy sunrise!!!!”

Dan disusul dengan resleting – resleting tenda yang berderit. Satu persatu manusia mulai merapat ke tepi Ranu dan berpose dengan macam – macam gaya. Ada yang gaya menangkap matahari, lompat, iklan kapal api, dan gaya aneh – aneh yang jarang tertangkap mata. Sedangkan aku hanya terdiam menatapi mentari yang bersenyum di belahan dua bukit. Kabut – kabut di atas Ranu menambah cantiknya panorama pagi itu. Membuat komposisi warna semesta yang pas. Warna keemasan yang sempurna. Indah.

Selain keindahan mentari, tenda peralatan tampak bertaburan es - es putih. Pantesan semalam dingin banget. Orang tidurnya di bawah es. Sandal - sandal berubah jadi es sandal. Ada es tenda, ada es sepatu.

Tiba – tiba, Om Gepenk menyeretku dan dijadikan objek foto, lalu gantian menyuruhku jadi jurkam. Setelah itu jadi objek sekaligus tukang fotonya Om Fajar. Wajar. Orang keren di dunia ini punya 2 profesi, kalau enggak tukang foto, ya objek foto. Gelak tawa pagi itu tercipta dan berbaur dengan keindahan senyum sang Mentari. Kulanjutkan aktivitasku dengan mencuci cangkir – cangkir sisa susu dan kopi semalam. Orang pada sibuk foto – foto, aku nyemplung aja ke Ranu buat nyuci. Berani beda itu kan baik. Iya kan, Ma!!

es tenda
Saat sedang asik godok air buat teh. Om Gepenk mengabari kalau dia bertemu rombongan Atika dan Suci. Kalau emang pingin muncak suruh bareng sama mereka saja. Kesempatan bagus, walau pun dititipkan seenggaknya aku bisa barengan sama mereka.
Ibu PKK masak air
Koki dapur kembali pada Om Gepenk, sedangkan aku menghampiri rombongan Atika dan Suci. Rombongan mereka berjumlah gede, 14 orang. Setelah ngobrol buat nebeng tenda n lain2, dan diterima mereka dengan baik. Aku pamitan kembali ke tenda. Tapi enggak sampai tenda, karena ikut Om Fajar nyari air sekalian jadi objek foto kameranya Mas Tatang.

Setelah sesi pemotretan yang lumayan memakan tenaga (maklum suruh manjat2 segala), aku kembali dengan membawa botol yang sudah berisi air. Tampaknya sarapan sudah siap. Packing. Salaman dengan Bang Kasih Abadi, Ay Runa, kawan dari Semarang, dan disangoni sepatu sekolah dari Ay Runa, aku berangkat dianter om Gepenk. Ternyata, mereka habis sarapan dan belum packing. Sambil menunggu mereka packing, aku bantu Atika mencuci nesting.
Packing selesai.
sesi pemotretan dengan om Fajar

bye - bye, tunggu aku di Kumbolo lagi (pamitan pas budal)

pemotretan again :)



Tepat 09.30, kami meninggalkan Ranu Kumbolo dan disambut dengan tanjakan cinta. Tanjakan yang tidak terlalu panjang itu ternyata cukup menguras tenaga. Walau pun sudah berulang kali aku dengar tentang mitosnya, tetap saja aku berhenti. Maklum nafas tua (alibi).

“Woy, sing mandek  oleh rondo, loh.”

Aku dapet janda dong? Hahahaha. Aku loh cuek. Sampe di puncak tanjakan cinta, kilau Ranu Kumbolo seakan menolak untuk ditinggalkan. Sesaat berhenti aku langsung disalami Bang Ateng.

“Selamat ya Rista! Anda berhasil!”
“Nguece, rek!!”
Oro - oro ombo


Hamparan Oro – oro ombo menyapa. Perlahan ku susuri setapaknya. Ranu Kumbolo baru saja ku tinggalkan, dan sekarang disambut dengan keindahan warna coklat Oro – oro Ombo. Padahal foto – foto dari Jambore Jejak Petualang bulan Juli, Oro – oro Ombo masih berwarna hijau, lengkap dengan lavender berwarna ungu. Kerreeen. Tapi ini sisi lain Oro – Oro Ombo saat musim kemarau. Coklat, luas dan Lapang seperti kasur yang sangat lebar.
Jambangan dengan Aremanita Nenjap
Hutan tropis sesudah Oro – oro ombo menjadi pintu gerbang. Hutan ini mempunyai nama Cemoro Kandang. Jalur yang memang tergolong landai, tapi entahlah aku jadi sering berhenti. Ku Ingat kembali buku 5 CM, di sini Genta tersesat. Semoga perjalananku dan kawan – kawanku tidak seperti Genta.

Tepat 11.00, kami berhenti di Jambangan. Puncak Mahameru menjadi teman perjalanan. Kekokohan puncaknya. Kegersangan puncaknya melambangkan kekuasaan pencipta-Nya. Perjalanan berlanjut kembali sampai di Kali Mati, tampak tenda berjejer – jejer. Edelweis terhampar indah. Berjalan di terik siang di antara rumpun – rumpun edelweiss yang melegenda ternyata membuat aku kembali bersyukur. Siapa sangka, aku yang terkenal tukang pingsan dan cengeng, bisa berada di sini. Aku tersenyum J Hanya ucapan terima kasihku pada Sang Pencipta yang mampu memberi kekuatan lebih dan tidak aku ketahui sebelumnya. Kekuatan semangat itu benar – benar hebat.

Ku cari, sobatku di Kali Mati. Ku panggil namanya lebih dari tiga kali, tetap saja tidak ada sahutan. Ya sudahlah. Mungkin g ketemu di sini. Di Surabaya aja kalau githu ketemunya. Sambil membantu mendirikan tenda – tenda. Setelah itu mencari air ke Sumber Mani untuk masak dan persediaan air untuk muncak. Air yang menetes di Sumber Mani sangat dingin, sampai – sampai tanganku langsung kaku dan berwarna merah. Dinginnya menusuk tulang – tulang jariku.

Sesaat setelah kembali, aku diajak foto – foto bareng bule. Enggak tahunya, malah ditarik seseorang yang ku kenal. Ya, Magnet dan kawan – kawan Raganala. Enggak jadi foto – foto bareng bule, malah jadinya foto  foto bareng bule lokalan Sidoarjo. Hahahahaha.

Ternyata salah satu dari mereka tertinggal saat muncak dan sekarang dititipin suruh bareng dengan aku dan kawan – kawan.Dari mereka lah aku tahu kalau Arif dkk baru saja turun. Aku kembali ke tendaku, makan sore dan menikmati senjaku di Kali Mati. Menonton orang – orang yang berlalu lalang ke Sumber Mani.

Sore berganti malam. Satu persatu mulai masuk ke tenda. Kembali aku merapat ke pojok tenda. Angin merobos masuk ke dalam dan membuatku bergidik kedinginan. Satu hal lagi pelajaran mala mini, ternyata tidak mempunyai cadangan lemak itu dapat membuatmu gampang terserang hawa dingin. Bang Ateng dengan baik hati mengambilkan matrasku dan melapisi dinding tenda dengan matras. Oke, time for sleep.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar