Dingin
Ranu Kumbolo perlahan merambat kedalam Sleeping Bag.Kaos polar, flannel dan
jaket terasa sudah tak mampu menghalau dingin. Pukul 04.00, aku sudah terbangun
dan terus – terusan mencoba tidur lagi. Dan tetap tak bisa tidur. Detik – detik
sunrise menyapa, Om Gepenk berteriak membangunkan penghuni Kampung Ranu
Kumbolo.
“Sunrise woy sunrise!!!!”
Dan
disusul dengan resleting – resleting tenda yang berderit. Satu persatu manusia
mulai merapat ke tepi Ranu dan berpose dengan macam – macam gaya . Ada yang
gaya menangkap matahari, lompat, iklan kapal
api, dan gaya
aneh – aneh yang jarang tertangkap mata. Sedangkan aku hanya terdiam menatapi
mentari yang bersenyum di belahan dua bukit. Kabut – kabut di atas Ranu
menambah cantiknya panorama pagi itu. Membuat komposisi warna semesta yang pas.
Warna keemasan yang sempurna. Indah.
Selain keindahan mentari, tenda peralatan tampak bertaburan es - es putih. Pantesan semalam dingin banget. Orang tidurnya di bawah es. Sandal - sandal berubah jadi es sandal. Ada es tenda, ada es sepatu.
Selain keindahan mentari, tenda peralatan tampak bertaburan es - es putih. Pantesan semalam dingin banget. Orang tidurnya di bawah es. Sandal - sandal berubah jadi es sandal. Ada es tenda, ada es sepatu.
Tiba
– tiba, Om Gepenk menyeretku dan dijadikan objek foto, lalu gantian menyuruhku jadi
jurkam. Setelah itu jadi objek sekaligus tukang fotonya Om Fajar. Wajar. Orang
keren di dunia ini punya 2 profesi, kalau enggak tukang foto, ya objek foto.
Gelak tawa pagi itu tercipta dan berbaur dengan keindahan senyum sang Mentari. Kulanjutkan
aktivitasku dengan mencuci cangkir – cangkir sisa susu dan kopi semalam. Orang pada sibuk foto –
foto, aku nyemplung aja ke Ranu buat nyuci. Berani beda itu kan baik. Iya kan , Ma!!
![]() |
| es tenda |
![]() |
| Ibu PKK masak air |
Setelah sesi pemotretan yang lumayan memakan tenaga
(maklum suruh manjat2 segala), aku kembali dengan membawa botol yang sudah
berisi air. Tampaknya sarapan sudah siap. Packing. Salaman dengan Bang Kasih
Abadi, Ay Runa, kawan dari Semarang, dan disangoni sepatu sekolah dari Ay Runa,
aku berangkat dianter om Gepenk. Ternyata, mereka habis sarapan dan belum
packing. Sambil menunggu mereka packing, aku bantu Atika mencuci nesting.
Packing selesai.
Tepat 09.30, kami meninggalkan Ranu Kumbolo dan disambut dengan tanjakan cinta. Tanjakan yang tidak terlalu panjang itu ternyata cukup menguras tenaga. Walau pun sudah berulang kali aku dengar tentang mitosnya, tetap saja aku berhenti. Maklum nafas tua (alibi).
![]() |
| sesi pemotretan dengan om Fajar |
![]() |
| bye - bye, tunggu aku di Kumbolo lagi (pamitan pas budal) |
![]() |
| pemotretan again :) |
Tepat 09.30, kami meninggalkan Ranu Kumbolo dan disambut dengan tanjakan cinta. Tanjakan yang tidak terlalu panjang itu ternyata cukup menguras tenaga. Walau pun sudah berulang kali aku dengar tentang mitosnya, tetap saja aku berhenti. Maklum nafas tua (alibi).
“Woy, sing mandek
oleh rondo, loh.”
Aku dapet janda dong? Hahahaha. Aku loh cuek. Sampe di
puncak tanjakan cinta, kilau Ranu Kumbolo seakan menolak untuk ditinggalkan. Sesaat
berhenti aku langsung disalami Bang Ateng.
“Selamat ya Rista! Anda berhasil!”
Hamparan Oro – oro ombo menyapa. Perlahan ku susuri
setapaknya. Ranu Kumbolo baru saja ku tinggalkan, dan sekarang disambut dengan
keindahan warna coklat Oro – oro Ombo. Padahal foto – foto dari Jambore Jejak
Petualang bulan Juli, Oro – oro Ombo masih berwarna hijau, lengkap dengan
lavender berwarna ungu. Kerreeen. Tapi ini sisi lain Oro – Oro
Ombo saat musim kemarau. Coklat, luas dan Lapang seperti kasur yang sangat
lebar.
![]() |
| Jambangan dengan Aremanita Nenjap |
Tepat 11.00, kami berhenti di Jambangan. Puncak
Mahameru menjadi teman perjalanan. Kekokohan puncaknya. Kegersangan puncaknya
melambangkan kekuasaan pencipta-Nya. Perjalanan berlanjut kembali sampai di
Kali Mati, tampak tenda berjejer – jejer. Edelweis terhampar indah. Berjalan di
terik siang di antara rumpun – rumpun edelweiss yang melegenda ternyata membuat
aku kembali bersyukur. Siapa sangka, aku yang terkenal tukang pingsan dan cengeng,
bisa berada di sini. Aku tersenyum J Hanya
ucapan terima kasihku pada Sang Pencipta yang mampu memberi kekuatan lebih dan
tidak aku ketahui sebelumnya. Kekuatan semangat itu benar – benar hebat.
Ku cari, sobatku di Kali Mati. Ku panggil namanya lebih
dari tiga kali, tetap saja tidak ada sahutan. Ya sudahlah. Mungkin g ketemu di
sini. Di Surabaya aja kalau githu ketemunya. Sambil membantu mendirikan tenda –
tenda. Setelah itu mencari air ke Sumber Mani untuk masak dan persediaan air
untuk muncak. Air yang menetes di Sumber Mani sangat dingin, sampai – sampai
tanganku langsung kaku dan berwarna merah. Dinginnya menusuk tulang – tulang
jariku.
Sesaat setelah kembali, aku diajak foto – foto bareng
bule. Enggak tahunya, malah ditarik seseorang yang ku kenal. Ya, Magnet dan
kawan – kawan Raganala. Enggak jadi foto – foto bareng bule, malah jadinya
foto foto bareng bule lokalan Sidoarjo. Hahahahaha.
Ternyata salah satu dari mereka tertinggal saat muncak
dan sekarang dititipin suruh bareng dengan aku dan kawan – kawan.Dari mereka
lah aku tahu kalau Arif dkk baru saja turun. Aku kembali ke tendaku, makan sore
dan menikmati senjaku di Kali Mati. Menonton orang – orang yang berlalu lalang
ke Sumber Mani.
Sore berganti malam. Satu persatu mulai masuk ke tenda. Kembali
aku merapat ke pojok tenda. Angin merobos masuk ke dalam dan membuatku bergidik
kedinginan. Satu hal lagi pelajaran mala mini, ternyata tidak mempunyai
cadangan lemak itu dapat membuatmu gampang terserang hawa dingin. Bang
Ateng dengan baik hati mengambilkan matrasku dan melapisi dinding tenda dengan
matras. Oke,
time for sleep.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar