Pages

Selasa, 25 September 2012

Mahameru. Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (IV)


23 Agustus 2012
Pukul 04.30, mata ini sudah terbuka dan aku langsung ke kamar mandi. Tak lama sudah terdengar orang – orang terbangun dan membuat sedikit keributan kecil. Keril – keril sudah mulai bergeser ke teras rumah.

Jam 06.00, istri Pak Laman memberitahu kalau truknya akan segera berangkat. Sambil mengangkat keril ke truk sayur, ku tatap kawan – kawan lainnya sudah saling bantu membantu menaikan keril. Hap! Dan aku sudah berada di dalam bak truk. Tepat pukul 06.30, truk mulai melaju. Jalan aspal mulai nanjak tetapi kiri – kanan jalan masih penuh dengan perkampungan. Beberapa saat ada seorang yang mengejar truk kami menggunakan motorku dan berteriak kalau ada yang tertinggal. Ah, ternyata itu foto copyan KTP yang sengaja ditinggal Om Gepenk.
Melewati hamparan kebun – kebun. Angin yang berhembus membuatku melayang. Dingin dan mendamaikan. Celoteh – celoteh ria penumpang truk mulai mengiringi perjalanan sambil sesekali menggoda sepeda motor yang setengah kuat setengah tidak melewati tanjakan – tanjakan.

Saat ada sempalan jalan , ke kiri menuju Bromo, dan ke kanan ke Ranu Pani. Slide - slide lukisan nyata dari Penguasa Semesta menemai. Aku hanya mampu mengagumi keindahan Bromo. Benar – benar seperti lukisan. Indah dan sangat indah. Hamparan pasir. Bukit Teletubies. Punggungan dan lembah tertata rapi seperti diiris pisau sangat besar membentuk keindahannya yang sangat luar biasa.

“Menunduk, awas ranting.”
Prak! Sakit! Haduh, lumayan juga rasanya saat tersapu ranting dari kiri truk dan diiringi cekikikan yang melihat. Dasar g berperi kemanusiaan tuh, masa di ketawain. Hahahahaha. Menjelang Ranu Pani, kibar bendera merah putih dan lampion – lampion mulai menampakan semarak HUT RI. Desa yang jauh dari keramaian dan penuh kedamaian malah menunjukkan kemeriahan Kemerdekaan Indonesia. Mas - mas yang ada di depanku menceritakan jalur pendakian SOE HOK GIE yang nyempal ke kanan sebelum jalur konvensional yang sekarang biasa dipakai pendaki. Jalur itu digunakan warga dan porter. Jarang sekali pendaki lewat situ.

Soe Hok Gie, akankah kaki kecilku ini mampu menapaki tilas - tilas keberanianmu ?

Ranu Pani, 23 Agustus 2012, 08.10 WIB
kawan baru, aku paling cantik. ahahahaha


Pos pendakian ramai sekali. Keril – keril dan pemiliknya berkerumun. Om Fajar menunjukkan padaku si Lurah Parkiran masih di Ranu Pani. Ku sapa dia sebentar. Eh, dia langsung menyuruhku memakai lips gloss dan mengajariku mamakainya. Hahaha. Kalah saingan, dia kan biasa mangkal.
lurah parkiran vs kapur tulis
Sarapan sebentar dengan menu soto ayam, dilanjutkan oleh Om Fajar nyari kaos Mahameru yang pas untuk badannya (maklum oversize), sebuah cangkir dan emblem untukku Berbeda aku, karena g bawa kamera, aku numpang narsis sama Lurah Parkiran dan kawan Raganala. Sedangkan Om Gepenk bertugas jaga keril.



Start point. Yups, pukul 09.30 WIB. Dari 3 orang berubah menjadi belasan orang dengan satu – satunya cewek di sana. Menjelang gerbang pendakian, orang – orang pada antri narsisan, begitu juga dengan aku. Awalnya jalannya santai dengan mereka. Mungkin karena aku, Om Gepenk dan Om Fajar terlalu nyantai (wajar kita tidak terkejar waktu), Arif dan kawan dari Bekasi mulai mempercepat langkahnya sedangkan kita tetap berjalan beriringan dengan Septian dan kawan – kawan Raganala Sidoarjo. Salah seorang dari Sidoarjo sering sekali berhenti dan tidur karena cedera di kakinya.  
Landengan Dowo


”Pos satu, bro. Eman – eman lek g dilereni. Nggawene angel iki. Sik leren disik.”
Kawan – kawan Raganala terus melanjutkan perjalanannya. Tinggal 4 orang dan seorang lagi yang tertinggal. Tak lama perjalanan dilanjutkan dan 2 orang tersebut mulai mempercepta

Ranu Pane – Ladengan Dowo – Watu Rejeng – Ranu Kumbolo. Debu mulai mengudara setiap kaki berpijak. Saat Ranu Kumbolo menampakan pesonanya, ku letakkan kerilku. Menikmati pesonanya dengan makan camilan. Akhirnya aku melihatnya secara langsung, bukan dari situs – situs di internet.


Ranu Kumbolo, 23 Agustus 2012, 15.10 WIB
Aku di sini. Di Ranu Kumbolo. Tempat yang sangat ingin ku kunjungi
Ku hirup udara yang berhembus di sana, ada kedamaian
Luapan rasa membuatku mengharu biru
Ternyata tempat ini tak sejauh yang ku bayangkan, asal kaki ini terus melangkah

Bertemu Lurah Parkiran lagi. Sedikit ngobrol – ngobrol dan ternyata dia langsung ke Kali Mati. Dia kembali mengajakku barengan muncak jika kawan – kawanku g muncak. Di sini aku galau, menunggu kepastian dan bingung. Kata hati ingin muncak, tapi soal kebenaran Bang Fajar ke Kali Mati juga belum pasti. Ah, sudahlah, jika Allah berkenan untuk melangkahkan kakiku ke puncak, aku pasti ke puncak.

”Sukses ya, Mbem. Nanti aku cari deh adekmu. Harusnya dia malam ini ngecamp di Kumbolo.”
”Cariin yo, ular.”

Kami bertiga saling membantu mendirikan tenda. Om Gepenk melanjutkan aksi masaknya. Menu sore ini ”Tiwul dan Ikan Asin plus Sambal Terasi”. Menu khas desa.
Acara masak jamaah cukup ramai. Tenda – tenda dari kawan – kawan bang Kasih Abadi dibentuk Leter U. Susunan tenda yang pas dengan untuk menatap sunrise esok hari. Ah, sialnya. Sebuah tenda malah dipasang di depan tendaku. Ckckckck. Ga sopan, tapi ya sudahlah.

Mulut – mulut kepedasan tampak mangap – mangap. Apalagi ikan asinnya, amat sangat asin. Kapoook. Ikannya kan belum direndam. Matahari berlabuh pada peraduannya. Langit pun gelap. Muncul perapian di depan beberapa tenda.
Tiba – tiba....

Duaaarr!!!!!Duaaarr!!!!!Duaaarr!!!
Percikan kembang api mewarnai udara di atas Ranu Kumbolo. Dan disusul teriakan untuk segera menghentikan dengan alasan menganggu keberadaan burung – burung. Tapi tetap saja kembang api itu tak bisa dihentikan. Semarak Ranu Kumbolo saat Syawal Camp.

Tapi kedamaian malam itu cukup membuatku terenyuh. 

Ketika hatiku tak yakin, aku berada di sana
Ku tatap Ranuku, bintangku dan tanahku
Kilau air malam ini membuatku melayang
Percaya, ah tidak percaya

Benarkah aku di sini?
Di tempat yang serasa di ujung duniaku
Kini terasa begitu dekat




2 komentar:

  1. berarti pas muncak kemarin 17 agustusnya cuman kamu satu-satunya cewek and only??????

    BalasHapus
  2. berangkat kemarin kan, 3 orang tapi ketemu banyak orang. Sampai dalam bagian cerita ini ya aku cuma cewek satu - satunya. Tapi bukan satu - satunya cwek yang ada di Ranu Kumbolo ^^ Tapi bukan 17 Agustus tauk.

    BalasHapus