Jeruji besinya masih
kokoh. Tak ada tanda tergeser sesenti pun. Di depan jeruji itu berdiri seorang
anak laki – laki kurus dengan tanah penuh luka lecet – lecet. Dengan tenaga kecilnya,
dia mati – matian mendorong teralis besi.
Dari balkon rumah
muncul seorang perempuan kecil. Mungkin dia berusia dua tahun lebih muda dari
anak laki – laki yang berada di depan teralis. Mata kedua anak itu bertatapan.
Ada rasa iba dari anak perempuan itu kepada anak laki – laki di depan teralis.
Kemudian dengan cepat dia lari turun menghampiri anak laki – laki kurus itu.
“Kakak... Kakak kenapa
ke sini?”
“Nita, Kak Angga
kangen kamu. Tadi aku lihat Nyonya dan Tuan itu meninggalkan rumah ini. Kakak Cuma
ingin bertemu kamu.”
“Nanti kalau Kak Angga
dipukulin lagi gimana?”
“Kak Angga memang
gembel, Dek. Tapi Kakak Cuma mau tahu keadaan kamu. Kamu baik – baik saja?”
“Nita baik kok. Kak
Angga udah makan?”
Angga menggeleng. Dua
hari ini dia hanya makan nasi sisa – sisa yang terbuang di tempat sampah. Uang
hasil jualan korannya selalu dipalak preman lampu merah tempat dia jualan
koran. Untuk pindah ke lampu merah yang lain berarti dia harus siap adu pukul
dengan anak yang merasa punya lampu merah itu. Jalanan memang keras. Dan dia
harus siap mati di jalanan.
Nita memandang
kakaknya. Air matanya mengalir deras. Dia dan Angga memang tak bernasib sama. Dia
dipungut di jalanan oleh pengusaha muda kaya. Dan hanya dia yang dipungut
sehingga harus meninggalkan Angga di jalanan. Awalnya Nita selalu menolak untuk
diangkat anak Bapak Hardian dan Ibu Natasya, tetapi karena desakan Angga
akhirnya dia mau. Nita ingin selalu bersama dengan kakaknya walau hidup di
jalanan.
“Tunggu bentar, Kak.
Nita punya makanan banyak. Tapi Kakak jangan tunggu di depan sini. Tunggu di
depan sana ya, Kak. Soalnya jika papa mama pulang, nanti Kakak dipukuli lagi.”
Setelah berkata
seperti ini, Nita menghilang di balik pintu.
“Papa.... Mama....”
gumam Angga pelan.
Sudah tiga tahun ini
dia tak pernah lagi memanggil kata papa dan mama. Ya, papa mama kandung mereka
berdua meninggal saat kecelakaan pesawat dan meninggalkan kedua bocah itu hidup
sendirian. Karena papa mamanya meninggal, perusahaan keluarga miliknya itu
kolaps. Rumah mewah dan segala aset keluarganya disita bank dan membuat kedua
bocah itu terusir ke jalanan.
Saat di jalanan,
ternyata ada pasangan muda yang jatuh hati pada Nita dan berencana
mengadopsinya. Hanya mengadopsi Nita tanpa Angga. Karena Angga tak mau Nita
hidup di jalanan, maka dengan susah payah dia mendesak agar ikut tawaran itu. Dan
sejak itu, keduanya terpisah. Nita menjadi putri keluarga terhormat
meninggalkan gembel jalanan bernama Angga. Dan sejak itu pula, keluarga baru
Nita melarang keras dia untuk tidak bertemu Angga. Jika Angga berusaha menemui
Nita dan ketahuan papa mama baru Nita, Angga akan dipukuli.
Dari atas balkon, Nita
melempar sebuah tas ransel. Angga segera mengambilnya. Kemudia setelah itu,
Nita berlari turun.
“Kak Angga segera
pergi ya. Sebentar lagi mama pulang. Itu sedikit makanan untuk Kakak. Ma’afin
Nita, ya Kak!”
“Nita jaga diri baik –
baik, ya. Ini buat Nita.”
Angga mengulurkan
gelang dari tali – tali warna – warni. Barang itu tak pernah ada di toko karena
memang gelang itu buatan tangan Angga. Nita menerimanya. Tiba – tiba dia
mengeluarkan kalung berwarna perak. Kalung dari monel dengan ukiran nama Nita
yang indah.
“Kak Angga g mau nrima.
Nanti kamu dimarahi.”
“Percaya sama Nita. Pasti
Nita g dimarahi.”
Angga menerima kalung
itu. Dan memasukan ke dalam saku celananya.
“Kak Angga, Nita
sayang Kak Angga.”
Kalimat itu dibalas
dengan air mata yang mengalir di pipi Angga. Kemudian bocah laki – laki itu
meninggalkan rumah megah itu.
***
“Nit, elu g makan?”
“Males, Nda.”
“Tumben?”
“Gue kangen ama Kak
Angga. Hari ini ulang tahunnya yang ke 23. Dan sudah 11 tahun, gue g pernah
ketemu dia.”
“Yah, ngawur ni bocah.
Elu kan anak tunggal.”
Nita meninggalkan
Nanda yang kebingungan. Sejak dia diangkat anak oleh keluarga Hardian, tak ada
satu pun orang yang tahu kalau dia Cuma anak jalanan yang beruntung. Nita
mengelus gelang di tangan kirinya. Gelang itu saksi bisu pertemuan terakhirnya
dengan Angga.
“Kakak, kamu masih
hidup tidak ya?”
Air matanya meleleh.
Nanda semakin bingung. Akhirnya cerita hidup Nita mengalir dari mulutnya. Nanda
hanya terdiam dan memahami perasaan sahabatnya.
***
Pemuda itu mengelap
keringat. Tubuhnya mengkilat di terpa mentari. Pandangannya lurus menatap
kereta yang sebentar lag berhenti. Pandangan matanya tegas dan tegar menandakan
perjuangan hidupnya penuh dengan gemblengan jalanan.
“Ngga, Lu kenapa lu
kek gini?”
“Kenapa emang?”
“Elu kurang apa seh,
Ngga? G pantes lu kek gini.”
“Jangan karena gue
biasa ngasong di bis makanya lu bilang kek gitu.”
“Yah, bukan itu maksud
gue. Tapi gue kenal lu.”
Peluit panjang statiun
memecah pembicaran mereka. Kedua pemuda itu berdesak – desakan naik kereta
ekonomi. Asongan Angga penuh lumpia, sedangkan pemuda sebelahnya mengangkut
berbagai jenis minuman botol. Kereta melaju meninggalkan ibu kota.
***
Nita menyalakan sebuah
lilin di atas cup cake coklat. Nanda hanya memandangi ulah gila sahabatnya tapi
Nita tidak peduli.
“Happy B’day Kak
Angga. Di mana pun Kak Angga sekarang berdiri, Nita Cuma pingin kita ketemu. Amin.”
Nita menyanyikan lagu
ulang tahun. Isakan dan air mata mengiringi setiap lantunan lagunya. Wajahnya
tampak menahan luka. Luka dan ucapan terima kasih. Nita sudah tidak kuat
menahan rasa sakit yang membuncah di dadanya. Tubuhnya ambruk memeluk Nanda.
“Gue hidup enak semua
itu karena Kak Angga. Sedangkan Kak Angga, Kak Angga...”
Nita sesenggukan dalam
pelukan Nanda. Kedua sahabat itu larut dalam air mata. Nita yang dikenal Nanda
adalah gadis tegar yang selalu ceria ternyata menyimpan luka bertahun – tahun.
Dan kali ini semua gundahnya meluap.
***
Matahari mulai
membenamkan sinarnya. Semburat jingga menyelimuti bumi. Roda besi dan rell
bercumbu mesra. Di pintu kereta berdiri dua orang pemuda. Mereka tampak asyik
menatap senja yang menawan.
Angga menatap hamparan
sawah yang mulai menguning. Sahabatnya mulai asyik menghitung hasil
penjualannya. Lembaran uang ribuan kumal kini berpindah ke dalam saku celana
Parman. Sesekali Parman melirik Angga yang tak bergeming dari tempat
berdirinya.
“Gue nanti turun
Jogja, Man.”
“Loh, ada apa?”
“Biasa urusan kerjaan.
Gue dapat job di sana. Mungkin bisa semingguan gue di sana.”
“Kerjaan apa?
Ngerampok apa ngebunuh orang?”
“Tukang gali sumur,
Man. Hahaha...”
“Lu mah big boss,
Ngga. Semakin banyak aja proyekan lu. Kaga kaya gue nih dari jaman masih
ingusan sampai sekarang masih aja jadi tukang asongan di kereta.”
“Ye... Elu mah asisten
gue. Dodol! Gue g bakal lupa ama lu.”
“Iya, Ngga. Ntar kalau
lu butuh gue buat bantu lu. Call me, ya. Sapa tahu duitnya bisa buat beli BMW
baru.”
“Kupret lu. Buat makan
aja.”
“Gue heran ama lu. Kok
mau sih lu jualan kek gini. Duit lu banyak, Bro. Mau beli seratus rumah gedong
aja lu mampu.”
“Duit gambar kebo. Ngaco
lu.”
“Ngga, Angga. Kalau
gue punya adik cewek neh, udah gue suruh nikah ama lu.”
“Adik cewe...”
Kata – kata terputus.
Angga teringat Nita, adik perempuannya. Sejauh yang dia ingat, Nita masih
berumur 10 tahun. Sekarang kabarnya pun, Angga tak ingat. Tapi keyakinan Angga
mengatakan adiknya akan selalu bahagia jika tak bersama dia.
“Ngga, keperluan lu
selama di Jogja gimana?”
“Gampang. Gue bisa
tidur di emperan.”
“Kaga, maksudnya gue
yang berhubungan dengan kerjaan lu?”
“Ada Pak Giman yang
ngurus. Gue Cuma perlu datang dan ngeksekusi. Jika final, gue akan balik ke
Jakarta secepat mungkin. Dan kembali jadi tukang asong.”
“Hati – hati, Ngga!”
“Sejam lagi nyampe
Jogja. Gue turun di sana. Kalau butuh apa – apa lu pasti tahu dimana nyari gue.”
Kereta melaju pasti.
Tak lama lagi, kaleng berjalan itu akan memasuki kota Jogjakarta.
***
Nita sedang
mengendarai mobil rentalannya. Rencananya hari ini akan dihabiskan untuk
keliling – keliling kota. Sedangkan Nanda memilih acara lagi, dia ingin
seharian muter – muter untuk belanja. Lagu – lagu kenangan mengalun pelan dari
tape mobil. Mulut Nita sibuk mengikuti lirik – lirik yang dia hapal.
Hand phone gadis itu
berbungi. Tercetak jelas nama Nanda sedang memanggil. Segera dipencetnya tombol
gagang telpon berwarna hijau.
“Nit, ntar malam kita
jalan – jalan keliling Jogja, yuk!”
“Nah lo, gue lagi
jalan – jalan nih sekarang. Lu lagi di mana?”
“Gue abis belanja. Ni
lagi makan di Malioboro. Ntar malam ke alun – alun kidul ya. Temenin gue,
please!”
“Oke, sekalian gue
juga mau hunting foto di sana.”
“Gue siap jadi model
lu. Oke!”
“Kaga, gue udah banyak
koleksi foto – foto lu. Males gue!”
“Ah, lu. Ya udahlah. Kita
ketemu ntar malam.”
Tut!!
Telpon terputus.
***
“Man! Final! Order
gede nih! Sekali gasak, duitnya gede. Keknya gue bakal di sini beberapa minggu.
Sampai ini kelar semua.”
“Lu butuh gue apa g?”
“Lu siapin keperluan
gue kaya biasanya. Nanti kalau lu ngasong ke Jogja, jangan lupa lu bawa. Kalau
bisa dalam beberapa hari ini.”
“Oke, Sob! Gue besok
ke Jogja.”
Percakapan dari dua
lelaki itu terputus. Angga yang berada di halte bus tanpa sadar melangkah turun
ke aspal. Dan bersamaan sebuah mobil putih menyambarnya.
Bruk!!
Tubuh pemuda itu
terpental.
***
Tubuh Angga diselimuti
kain putih. Matanya terpejam rapat. Ruangan tempat dia begitu hening. Hanya
sesekali terdengar bunyi suara derit roda kursi di sebelahnya. Sudah 12 jam,
Angga pingsan. Belum ada tanda – tanda dia siuman.
“Nda, dia belum
bangun. Mana kita tidak tahu siapa keluarganya. Alamatnya juga di Jakarta lagi.”
“Namanya siapa Nit?”
“Raditya Angga
Wicaksana. Dia kelihatanya anak orang kaya, Nda. Alamatnya di perumahan mewah. Tapi
waktu gue nyoba telpon ke no rumahnya yang ada di hapenya, g ada yang jawab.”
“Sumpah, Nit. Kalau
dia mati gimana?”
“Mati deh gue. Apa
kata nyokab, Nda. Gue di penjara nih.”
Kedua gadis itu kalut.
Tiba – tiba hand phone laki – laki itu berbunyi.
“Hallo...”
“Hallo, lu siapa?
Ceweknya Angga? Tapi sejak kapan Angga punya cewek?”
“Gue Nita, Angganya
lagi di rumah sakit. G sengaja tadi malam gue nabrak dia.”
“Bener lu? Keadaannya
gimana?”
“Kritis.”
“Lu sekarang di mana?”
Nita menyebutkan salah
satu nama rumah sakit di Jogjakarta. Kemudian telpon itu terputus. Tampaknya
lelaki di seberang telpon itu segera ke rumah sakit itu. Kedua sahabat itu
saling menatap. Seandainya mereka berdua tidak bercanca dalam mobil mungkin
kejadian ini dapat dihindari.
Selang setengah jam,
muncul laki – laki seumuran dengan Angga. Dia Parman, sahabat Angga. Tak ada
sisa – sisa kehidupan jalanan yang menempel di tubuh Parman. Lelaki itu datang
dengan setelah kemeja dan jeans. Ransel laptop di punggungnya.
“Gue Parman, sahabatnya
Angga. Lu sapa? Kenapa sampe kek gini?”
“Gue g sengaja nabrak
dia.”
“Orang juga tahu,
nabrak itu g sengaja, kecuali lu memang sengaja nabrak.”
“Gue minta ma’af. Gue
pasti tanggung jawab.”
“Lu mau nanggung pake
apa? Pake nyawa lu? Kalau Cuma nanggung biaya rumah sakitnya gue aja masih bisa
nanggung tapi kalau dia kenapa – kenapa gue pastiin lu bakal sengsara.”
Nita terdiam. Nanda
maju.
“Mas Parman yang
terhormat, gue rasa yang penting sohib lu ini cepet sembuh, bukannya malah
ngata – ngatain sohib gue.”
“Terserah lu. Gue
males ngomong sama lu.”
Angga... Angga...
Angga...
Nita teringat Kak
Angganya. Seadainya yang dia tabrak itu kakaknya. Tapi tak mungkin. Lelaki yang
terbaring di ranjang besi itu berpenampilan elit. Tak ada secuil pun debu
jalanan yang menempel di tubuhnya. Sedangkan Kak Angganya yang 11 tahun dia
temui adalah Kak Angga yang kumal. Berbeda jauh.
Parman mengecek hand
phone Angga. Satu persatu panggilan dan pesan dilihatnya. Klien – klien Angga
banyak yang mencoba menghubunginya sejak semalam. Parman beranjak ke soffa yang
ada di sebelah Nanda. Di saat seperti ini, sebagai sahabat sekaligus kawan
kerjanya Parman harus menyelesaikan urusan Angga.
Pesan – pesan mulai
dibalas. Kemudian dia membuka ransel laptopnya. Tanpa sengaja, sebuah kalung
monel yang terjepit di sela – sela laptop jatuh. Pandangan ketiga manusia itu
beralih ke benda perak itu. Jantung Nita berdegup kencang. Dengan cepat diambilnya
kalung itu. Ada nama Nita terukir indah di liontin kalung itu. Nanda dan Parman
mulai menangkap ketidak beresan pada Nita. Tapi keduanya memilih bungkam.
Pandangan Nita
berganti – ganti menatap kalung itu, gelang di tangannya dan sosok yang
terbaring kritis. Tubuh gadis itu lemas dan dia ambruk. Nanda berlari ke arah
Nita. Parman berdiri dari tempat duduknya. Keduanya memandang Nita yang
menangis pilu.
“Kak Angga, kenapa
Nita mau bunuh Kak Angga? Nita selalu bikin Kak Angga susah. Bahkan cara kita
bertemu malah membuat kritis Kak Angga,” ucapnya pilu.
Nanda memeluk
sahabatnya. Nita menangis histeris dalam pelukan Nanda. Parman membeku. Jadi,
Nita yang diceritakan Angga itu. Jadi gadis itu adik kandungnya Angga.
Dengan susah payah,
Nita mencoba berdiri dan berjalan ke arah ranjang besi. Tak ada perubahan.
Tubuh itu masih terbujur kaku. Matanya rapat. Angga yang dulu hidup di jalanan
sekarang seorang pengusaha muda. Jalanan yang keras mendidiknya menjadi sosok
yang hebat.
Nita mencium tangan
kakaknya. Kakak yang dirindukannya. Perlahan tangan itu bergerak. Dan mata itu
membuka. Sebuah senyum lemah tersungging manis. Senyum Angga untuk Nita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar