Pages

Kamis, 20 September 2012

Mahameru, Antara Syawal Camp & Lontong Galau Adventura (II)


Pak Laman dengan sangat baiknya sudah berdiri di depan rumahnya. Keril segera dimasukkan, sepeda segera di parkir di sebelah jeep. Tampak rumah Pak Laman masih lengang. Sebuah buku folio tergeletak di atas meja di sela – sela toples  jajan lebaran. Buku coretan kesan – kesan perjalanan dan keluarga Pak Laman dari pendaki atau wisatawan ke Bromo atau ke Semeru.

Om Fajar & Om Gepenk
di rumah Pak Laman

Menu malam ini, ngobrol – ngobrol dengan Om Fajar dan Om Gepenk. Di situlah aku baru tahu ternyata mereka berdua hanya berniat kemping di Ranu Kumbolo untuk reunian dengan Bang Kasih Abadi. Kalau memungkinkan memang Om Gepenk mau nemenin aku sampai puncak sedangkan Om Fajar ngecamp di ranu kumbolo. Tapi sayangnya satu tendanya tidak dibawa. Ya sudahlah, lihat sikon nanti apalagi ada kemungkinan Om Fajar mau jalan sampai Kali Mati. Sedikit agak kecewa kalau hanya sampai Ranu Kumbolo, tapi aku tidak mungkin memaksakan mereka untuk ikut naik melihat Om Fajar yang memang dari awal sudah bertahan untuk hanya camp di Ranu Kumbolo dan Om Gepenk yang trauma dengan letusan Jonggring Saloka yang beda dengan biasanya. Letusan terhebat dengan hujan batu yang bisa mengancam keselamatan nyawanya.

Tak lama, muncul sepasang anak manusia. Laki – laki dan perempuan, mereka besok pagi mau naik pakai truknya Pak Laman. Asal mereka dari Surabaya juga tapi karena memori kepalaku yang kecil maka setelah kenalan, aku lupa nama mereka.Payah!!!!! Kemudian muncul lagi seorang cowok. Besok pagi, dia juga mulai nanjak. Sedangkan kita, memundurkan rencana nanjak pada tanggal 23 Agustus, soalnya besok Bang Fajar mau nyari sepatu trekking dan kawan – kawannya. Sedangkan saya mau nitip gaiter, padahal saya pakai sandal.

Tiga orang pendaki yang baru datang segera merapatkan diri ke kasur yang tergelar di depan tipi. Mereka mencoba mengarungi samudra mimpinya sedangkan kami masih asik rebutan bantal dan sofa. Bang Fajar dapat soffa ukuran 3 seat, aku tidur di soffa 2 seat sedangkan om Gepenk mlungker di sofa satu dudukan. Hahahaha. Kapooookk. Tapi pada akhirnya memelorotkan diri tidur di atas karpet. Pasti dingin banget.

Baru beberapa saat tertidur. Om Gepenk mencoba membangunkan aku gara – gara dia tidak bisa tidur. Alhasil tidur saya, bermasalah sampai menjelang subuh.

Tumpang, 22 Agustus 2012
Pagi – pagi, 3 orang teman dari Surabaya itu sudah ribut mengangkat keril dan daypacknya. Mereka naik truk sayur Pak Laman sampai ranu pani.

“Gak naik hari ini, mas?”
“Gak mas, kita kan niatnya cuma Syawal Camp di Ranu Kumbolo. Sukses ya pendakiannya.”

Setelah bersih diri, kami jalan – jalan sampai pasar Tumpang. Jalan yang lumayan jauh diselingi obrolan ringan dan tawa. Sampai tidak terasa sampai di Pasar Tumpang. Puluhan pendaki berjejer di depan Alfamart. Berdesak – desakan di atas Jeep. Kami malah duduk menonton keramaian itu sambil melongo.

“Koyo ngunu ta pendaki iku.”
Dengan mata terkagum – kagum. Sumpah keren banget. Tas gede. Perlengkapan pendakian yang mumpuni di segala medan. Dan wajah – wajah yang doyan hidup sengsara di hutan. Hahahaha. Aku tidak termasuk loh.

“Cak, ta belonjo disik. Nek alas iku wis soro, jadi...... mangane ojo digawe soro. Oke.”
“Arepe tuku opo?”
“Panganan.”
“Ojo tuku sosis, kornet, sarden. Wis onok. Endoke yo wis gowo sekilo. Coklat ambek kurmo yo wis disangoni Eyang Uti. Tuku o jajan – jajan opo camilan ae.”
“Siap, Cak. Syawal Camp temenan yo, sampe arepe bukak Alfamart nek Ranu Kumbolo.”
“Kita loh bukan mau mendaki, kita kan cuma Syawal Camp.Hahahaa.”

Segera saja, ku ambil keranjang belanja. Bakso, madu rasa, camilan, hansaplast, mentega, nutrijel, Decolgen herbal masuk ke keranjang. Kebanyakan yang belanja di situ adalah pendaki yang belanja logistic. Setelah keluar dari Alfamart, Om Gepenk pergi ke toko bangunan sebelah Alfamart beli spirtus. Dan dilanjutkan sarapan dengan menu pecelan. Om Fajar selalu baik hati membayari makanan kami. Suwun yo, Om.

Perjalanan ke rumah pak Laman di tempuh dengan jalan kaki lagi. Tumpang pagi itu lumayan panas. Dengan menjinjing belanjaan, lumayan juga untuk latihan fisik. Baru beberapa langkah dari belokan, sebuah jeep menghampiri kami. Ternyata jeep pak Laman yang mau pulang ke rumah. Jeep pribadi denga tiga penumpang. Beberapa jeep penuh pendaki tersalip. Mata – mata mereka memandangi kami bertiga. Kelihatan banget tuh irinya. Hahahaha.

Sorry, Mas Bro & Mbak Bro, jeepnya ini istimewa. Hanya orang – orang cakep saja yang jeepnya tidak berdusel – dusel ria (langsung ngaca).

Sampai di rumah Pak Laman, nampak kerumunan orang yang akan berangkat. Mereka juga berangkat dengan jeepnya pak Laman.Sempat ngobrol – ngobrol sebentar dengan mereka, akhirnya setelah itu Om Gepenk dan Om Fajar memutuskan untuk segera berangkat belanja dan aku terpaksa ditinggal dengan alasan motorku tanpa STNK. Tak apalah, aku bisa tidur seharian.

Sepanjang hari tampak membosankan diisi dengan aktivitas tidur. Kemudian aku baru ingat, sms dari Arif Abdullah yang menanyakan liburan lebaranku. Si Lurah Parkiran ini ternyata juga nanti sore nganter temannya dari Bekasi ke Semeru juga. Ahh, kenapa aku harus ketemu dia lagi sih. Dilema saudara yang selalu eker – ekeran.
ababil "Arif Abdullah"
a.k.a Tembem or Lurah Parkiran

Pas Dies Natalis donor danar di bungkul, aku kenal lurah parkiran ini. Kemudian ketemu lagi di Penanggungan saat hari bumi. Empat hari menghabiskan waktu bersama – sama di acara PALAGAN – R di gunung Limas. Hampir satu bulan lebih handle acara bareng. Dan sekarang, ke Semeru pun barengan. OMG, mimpi apa yak, semalam. Kayaknya sama Arif kaya Lingkaran Setan. Tapi kata orang begitulah pertemanan. Oke, Pak Lurah, kita baikan.

Sambil ngetik sms tentang curhatan kedilemaan si Lurah Parkiran tentang teman dari Bekasinya yang katanya ada trobel soal tiket kereta, aku mulai ngemil jajan lebaran. Oke, deal. Kalau enggak repot nanti malam jemput Arif dan kawan – kawannya di Pasar Tumpang walau pun si Arif bilang g usah repot – repot (tumben, tahu diri juga ni anak, sorry Tembem!)
Setelah lima kali tidur dan lima kali bangun, perutku melilit minta di isi. Huft, kunci motor di bawa om Gepenk. Untung ada bakso. Sikatt, men. Ajiiibb. Rp 5.000 + teh anget. Murah ya. 

1 komentar:

  1. masih lama nie keknya nie cerita,,,hajar aja..mumpung lagi on fire ^_^

    BalasHapus