Pages

Senin, 04 April 2011

Kamu

Maya menampar angin dalam hembusan jiwa.Pengap rasa mulai menguap.Pelan dalam dada.Ah, rasa itu membuat dada terasa penuh dan sesak seakan ingin meledakkan .Mataku berair menahan perasaan kalut.Ah, cinta. Mulutku gamang merasakan kata itu di antara ketakutan dan debaran pelan. Seandainya angin – angin pantai ini dapat menerbangan desiran jiwa ini, akan ku pasrahkan rasa ini pada sang angin. Desahan hati ini seirama dengan deburan ombak yang mendobrak karang. Gejolak yang seharusnya indah tapi terasa sangat meresahkan.
“Dek Nasywa!”
            “Astaqfirullah,iya kak Dafa, udah mau pulang ya ?”
            “ Adekku sayang kamu kenapa ?Rasanya ada yang aneh dengan kamu beberapa hari ini?”
            Ingin ku peluk Kak Dafa seperti saat aku berumur 5 tahun dan diganggu oleh anak – anak nakal itu. Ingin ku tumpahkan rasa sesak ini padanya tapi kenapa yang mengalir bukan kata – kata dari mulutku tapi air mata ini. Hatiku tiba – tiba trenyuh melihat raut wajah kak Dafa yang bingung. Benar – benar sosok seorang kakak yang selalu menjaga adiknya dalam kondisi apa pun.
            “ Adek…”
            “ Kak, pernahkah kakak dirasuki rasa yang begitu halus tapi dia selalu membuat resah?”
            Kak dafa tersenyum menawan seperti biasanya.
            “ Cinta pada ikhwan ya? Siapa Ikhwan yang membuat dedeknya Kak Dafa jadi resah begini.”
            “ Saat aku ke Malang kemarin Kak, seorang penumpang dalam kereta, wajahnya begitu tenang karena lantunan dzikir yang dia curahkan untuk Rabb nya, matanya begitu teduh saat tak sengaja aku dan dia beradu pandang, dan bodohnya kenapa mata ini mengumbar pandangan. Kak begitu dosakah aku ini sampai bayangan masih melekat dalam mata ini dan mulai merasuki relung hatiku ?”
            “ Seandainya aku bertemu dengannya, aku akan membawanya untukmu.”
            “ Kak, bukankah kita dilarang pacaran?”
            Teladanku itu tersenyum lagi.
            “ Menikah.”
            “Menikah ?”
            “ Iya, Dek. Menikahlah.”
            “ Tapi Kak, aku mahasiswa semester 3. Apakah Umi dan Abi mengijinkan ?
Apakah aku mampu untuk menikah saat ini? Adakah jalan lain?”
            “Ya Allah, anugrahkan cinta-Mu padaku, dan seseorang yang cintanya bermanfaat bagiku di sisi Mu.Pernahkah kau dengar kalimat ini, Dek ?”
            “Salah satu kalimat dalam do’a Rosulullah, do’a cinta sejati. Bukankah begitu Kak?”
            “Bukankan lebih baik kau mendapatkan cinta sejati yang halal daripada cinta yang malah membuatmu resah.”
            Aku terdiam dalam perenungan dan mencoba mencerna kata – kata yang meluncur dari Kak Daffa. Ada ketenangan yang luar biasa saat aku mulai mendapat jawaban dari semua ini. Ujung gamis dan jilbabku beranyun pelan dipeluk sapuan angin.Jiwaku berwarna biru beradu dengan warna langit dan laut yang berpelukan dalam batas garis cakrawala. Indah, dalam sorotan matahari yang berkuasa dalam siang.  Ketenangan rasa, keindahan semesta dan senyum seorang kakak menyatu. Terima kasih ya Rabb.
            Langkahku mengayun pelan di halaman kampus yang asri ini. Terlalu indah pagi ini seakan jutaan malaikat kiriman Allah memayungi jagat raya. Mendzikirkan lantunan rasa cinta kepada Pemilik Semesta. Allohu Akbar. Angin berhembus membelai udara yang sejuk ini. Tak biasa kampus yang terletak dalam pusat kota Surabaya ini begitu adem. Subhanallah,semua karena kuasa – Nya. Seorang teman dari beda jurusan tiba – tiba memelukku dari belakang dan mengagetkan ketika aku mulai merasakan seakan alam melantunkan kalimat cintanya pada Sang Pencipta .Andin, akhwat lucu yang selalu membuatku tersenyum dalam setiap candanya. Sahabat yang berbeda jurusan ini selalu memberikan tausiyah tentang dunia yang harus aku hindari.
            “Ngelamun neng?”
            “Subhanallah, indah!”
            “Mau tempat lebih indah lagi?”
            “Di mana?”
            “Surga”
            Andin cekikikan menatapku yang hanya bisa melongo pasrah.Tapi harus ku mengakui bahwa dia memang benar karena itulah tempat yang terindah dari yang terindah.Hatiku tiba – tiba melemah dan hanyut dalam haru dan ku peluk sahabatku.Andin mematung.
            “Aku ingin menangis,Andin.”
            “Menangislah, menangis di pangkuanku, menangislah di bahuku.”
Kuanyun kepalaku di bahunya.
            “Aku tiba – tiba ingin menangis, aku jatuh cinta.Sangat indah tapi sangat menakutkan dan membuatku selalu menangis,Andin.”
            “Dengan siapa? Kamu mengenalnya?”
            “Aku juga tidak tahu siapa dia dan aku tidak kenal dia, tapi aku jatuh cinta pada ketenangan wajahnya.Rasanya aku terjatuh dalam danaunya yang tenang. Aku menangis dalam malam-malamku, Ndin.”
            “Memang susah, tapi pasrahkan pada Allah karena Dia pencipta segala rasa.”
            Ku usap air mata yang mengalir dan ku tegakkan tubuhku seakan menantang rasa ini dan ku katakana dalam hatiku bahwa ada cinta yang harus ku perjuangkan. Cinta kepada Rabb ku, Umi, Abi dan Kak Daffa.
           
        Senja kedua di Februari. Minggu ketiga semester 4. Bayang - bayang rupawan itu menguap bagai embun yang bertemu mentari. Aku lupa karena kesibukanku yang mulai menghimpit waktu. Waktu untuk melamun. Tugas - tugas kuliah menumpuk. Kegiatan - kegiatan yang menyita waktu membuyarkan bayangan tentang seorang penumpang kereta. 
        "Ndin..."
        "Aku mau bilang satu hal padamu, sahabatku."
        Mata Andin menatapku. Menghujam dalam sanubariku.
        "Apa?"
        "Aku mau menikah, besok."
        "Siapakah akhi yang beruntung itu?"
        "Permana Ardyansyah Saputra. Mahasiswa asal Malang. Aku mengenalnya lewat Kak Nadia. Dia itu adik kandung Kak Nadia. Sosok yang benar-benar religius. Rendah diri dan berakhlaq mulia."
        "Subhanallah, beruntungnya kamu, Ndin. Tapi ingat, bahwa yang baik dapat yang baik dan yang buruk dapat yang buruk. Jodohmu ini mencerminkan kepribadianmu yang cantik, Ndin. Aku benar-benar bahagia mendengar semua ini."
          "Kamu besok datang kan?"
          Mata Andin berbinar-binar bahagia.
          "Insya Allah. Aku akan datang."



                                                                                                               bersambung ^^


bersambung.^^

1 komentar: